
Pagi pun menjelang. Sinar matahari yang menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela kamar Sheza yang tidak tertutup oleh tirai. Ia masih belum terusik, sheza masih lelap dalam tidurnya. Sheza sepertinya sangat lelah. Selimut yang tadi malam melekat erat di tubuh Sheza, pagi ini sudah teronggok tak berbentuk di bawah kakinya. Keheningan pagi ini membawa Sheza semakin terbuai dalam tidur panjangnya.
Keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh dering telepon yang berada di atas nakas di samping tempat tidur Sheza, tepat di samping telinganya. Pada mulanya dering yang terdengar dengan cukup keras itu diabaikan Sheza, tapi setelah beberapa saat nada dering itu mulai sangat mengganggu. Sheza mulai membuka matanya dengan kesal. Ia menyesal tidak mematikan ponsel itu atau paling tidak membuatnya dalam mode silent. Namun meski kesal setengah mati, mau tidak mau dengan mata setengah terpejam, Sheza menggapai ponsel tersebut, dan menaruhnya di telinga.
"Halooo... ", sapa Sheza serak.
"Nona, ayo bangun, ayo kita latihan, saya berada di ruang gym sekarang", teriak Karen. Sheza langsung menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar teriakan Karen dari seberang sana. Merasa terganggu, tanpa menjawab telepon dari Karen, Sheza langsung mematikan sambungan teleponnya.
Sheza sangat kesal karena Karen sudah mengganggu mimpi indahnya, rasanya ia ingin sekali menjadikan Karen samsak latihan beladiri saat itu juga.
Sheza berusaha memejamkan matanya agar bisa kembali tertidur, tapi usahanya sia-sia matanya tidak mau terpejam kembali.
Sheza bergegas bangun dan membersihkan diri. Ia memilih setelan olahraga berwarna navy, sangat kontras dengan kulit putihnya. Tak berapa lama kemudian, bi Surti, mengetuk pintu kamarnya. Ia mengantarkan sarapan Sheza pagi ini. Diantara sekian banyak pelayan di mansion itu, Sheza memang hanya percaya pada wanita setengah baya itu.
Setelah sarapan, Sheza bergegas berjalan menuju ke ruang gym di bagian belakang, lantai satu mansion. Ternyata Karen masih di sana. Mereka berdua menghabiskan waktu di ruang gym dan sasana beladiri. Cukup lama mereka berada di sana.
"Karen, kau tau kabarnya Carlos, kenapa ia seperti menghilang begitu saja?", tanya Sheza membuka percakapan. Sejenak Karen menatap Sheza, kemudian ia memalingkan wajahnya.
"Saya tidak tau nona", jawab Karen, ia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata Sheza.
Sheza memperhatikan gerak gerik Karen. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Karen. Kenapa Karen tidak mau menatap matanya. Tapi Sheza tidak mau mempersulit Karen. Bisa jadi itu adalah perintah yang harus dilaksanakan Karen.
__ADS_1
"Kau tau Karen, kadang aku merasa bersalah pada Carlos, aku yang memaksanya untuk mencari informasi tentang kak Seif. Dan sejak ia menginformasikan hal tersebut, ia seperti hilang ditelan bumi. Perasaanku mengatakan ia mendapatkan hukuman karena telah menginformasikan keberadaan kak Seif padaku. Padahal harusnya itu semua dirahasiakan dariku. Aku hanya ingin minta maaf pada Carlos", ada rasa penyesalan ketika Sheza mengatakan itu.
Karen mengangkat kepalanya kembali, ia menatap Sheza, tidak tau harus berkata apa. Ia juga tidak mau bernasib seperti Carlos, jika terlalu banyak bicara.
Mansion Zaki tampak hangat sore itu. Sheza dan Karen tengah duduk di taman dengan secangkir teh di tangan masing-masing. Mereka kelelahan setelah berolahraga tadi.
"Karen, aku ingin mandi dulu, seluruh tubuhku rasanya lengket semua oleh keringat", tukas Sheza.
"Silahkan nona", ujar Karen.
Sheza bergegas menuju kamarnya. Ia sudah berada di kamar mandi hendak membersihkan diri saat pintu kamarnya diketuk keras atau lebih tepatnya digedor dari luar. Sheza sedikit kesal, ia pikir ini adalah keisengan Karen. Namun demikian Sheza tetap mengambil bathrobe dan memakainya, selanjutnya ia berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
Saat pintu kamar terbuka, terlihat Karen berdiri kaku dengan wajah penuh kekhawatiran, ekspresi yang belum pernah dilihat Sheza selama ia tinggal di tempat ini.
"Ma-maaf mengganggu anda nona....", ujar Karen gugup, detik berikutnya wajah Karen kembali panik
"Nona..... ", Karen kembali terdiam, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"Ada apa Karen?", Sheza mengerutkan keningnya, tidak biasanya Karen kehilangan ketenangan seperti ini.
"Nona....Tuan Zaki baru saja dilarikan ke rumah sakit keadaannya tidak cukup baik, ia ditembak seseorang dalam perjalanan dari bandara ke Mansion", ujar Karen, wajahnya terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Sheza shock mendengar berita itu. Matanya memerah, dia nyaris tidak sanggup menahan bulir bening itu jatuh, tapi ia tetap berusaha, karena menurut Sheza, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Alhasil matanya mengabur karena selaput matanya ditutupi bulir bening itu. Sheza bergegas menarik tangan Karen, mengajaknya untuk segera ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di dalam kendaraan yang akan membawa mereka ke rumahsakit.
Suasana di dalam mobil sangat mencekam baik Sheza dan Karen serta dua orang anak buah Zaki yang mengantar mereka terus menampilkan raut wajah penuh kekhawatiran tidak ada yang berani mengeluarkan suara mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga puluh menit, akhirnya mobil yang ditumpangi Sheza memasuki halaman parkir rumah sakit. Setelah turun, Sheza nyaris setengah berlari menyusuri menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang operasi. Perasaan Sheza tidak tenang, tapi tidak ada satu orang pun yang memberitahukan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dari jauh mereka bisa melihat paman Ganial tengah mondar-mandir di depan ruang operasi, semua ketenangan yang ditunjukkan paman Ganial lenyap begitu saja. Sesekali paman Ganial berdiri tenang seperti patung sembari menatap penuh harap ke arah pintu ruang operasi.
Sheza bergegas mendekati Ganial.
"Bagaimana keadaan daddy Zaki, paman?", tanya Sheza, suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
Ganial menghela nafasnya. Kepalanya tertunduk penuh kesedihan.
"Luka tembak di bagian dada yang hampir mengenai jantungnya, nona", Setelah beberapa lama, pria paruh baya itu kembali menghela nafas, "untungnya tuan memiliki keinginan hidup yang cukup besar hingga ia bisa bertahan sampai bantuan tiba, kondisi tuan Zaki kritis, nona", suara Ganial bergetar di akhir kalimat.
Sheza sudah memiliki firasat buruk tentang daddy Zaki, tapi sekuat tenaga ia mencoba menepis semua itu. Matanya mulai berkaca-kaca kembali, langkah nya sedikit goyah. Karen bergegas menopang tubuh Sheza.
"Anda harus tetap tenang nona", Karen berbisik di telinga Sheza.
__ADS_1
Sheza mengangguk lalu menarik nafas beberapa kali mencoba menguatkan dirinya. Ya Tuhan, selamatkanlah dady Zaki, pulihkanlah ia, doa Sheza dalam hati.
Sheza mengingat semua kebaikan Zaki padanya. Zaki sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri. Ia benar-benar menyayangi Zaki sama seperti ia menyayangi ayah Arshaka yang telah merawatnya selama ini. Rasanya ia sendiri tidak akan sanggup jika harus kehilangan Zaki, karena ia baru saja merasakan kasih sayang pengganti ayah Arshaka.