
Masih di AB Restourant.
Sheza menyesap minumannya kemudian beralih melihat jam yang melingkar indah di tangannya.
Mata sheza sedari tadi terus mengamati pintu masuk resto. Ia mulai gelisah karena sang kakak belum juga menampakkan batang hidungnya. Sementara Karen tadi entah pergi kemana.
Tiba-tiba ponsel di tas Sheza pun berdering. Bergegas ia mengeluarkan ponselnya, di layar ponsel tertulis nama Seif sang kakak. Seif mengabarkan bahwa ia masih harus menyelesaikan sedikit pekerjaan lagi. Ia meminta sheza untuk bersabar menunggunya. Sheza tidak mampu berkata-kata selain hanya mengiyakan permohonan sang kakak. Ini adalah hari terakhir pertemuan mereka. Besok Sheza sudah harus kembali ke kota P.
Sheza kembali menyesap isi gelasnya. Ia kembali terhanyut dalam lamunan.
Tiba-tiba terlintas di benaknya seorang pria bertubuh tinggi. Pria itu tampak seperti lukisan hidup. Bagian terbaik adalah wajahnya yang terpahat sempurna dan tampan
Flashback on
Di saat berada di resto hotel, Sheza kembali dipaksa. seorang pria yang mengaku sebagai kekasihnya. Meski pria itu membantunya terlepas dari pria genit sebelumnya. Namun pada akhirnya Sheza dipaksa untuk menemani si pria yang sedang menikmati sarapan.
Sheza menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Apa anda selalu memaksa seperti ini tuan? Apa semua wanita selalu anda akui sebagai kekasih?", tanya Sheza kesal. Pria dengan aura yang sangat mendominasi di depannya ini benar-benar bermuka tebal.
Zafier menatap mata hazel Sheza. "Hanya padamu nona Shezan Shaziya Arshaka", jawab Zafier pendek, kali ini tanpa senyuman, ia menatap Sheza dengan serius.
Sheza melongo, ia dibuat terkejut mendengar pria itu menyebut nama lengkapnya.
"Maaf, tapi darimana anda tahu nama lengkap saya, apa Anda berusaha menyelidiki saya", tanya Sheza curiga.
Zafier terdiam, ia kelihatan agak canggung karena tanpa sadar mengekspos dirinya sendiri, ia seolah membuka dirinya telah menyelidiki sheza selama ini, tapi Sedetik kemudian dia sudah bisa menguasai keadaan kembali.
"Jangan terlalu percaya diri nona", jawab Zafier dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Sheza menghembuskan nafas berat, mukanya mendadak masam dan netra hazelnya menyorot tajam pada Zavier yang berada tepat di depannya.
Saat Sheza sedang berpikir bagaimana membalas ucapan Zafier yang membuatnya kesal. Zafier malah asyik menikmati pemandangan di depannya, menatap wajah cantik Sheza. Dari sudut ini dia bisa melihat dahi mulus lawan bicaranya, batang hidungnya yang mancung, bibir tipisnya yang menggairahkan. Mata Zafier seolah terpanah kesini, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi.
Sejurus kemudian Sheza menatap Zafier. "Jadi darimana anda tau nama lengkap saya, jika anda tidak menyelidikinya tuan?", tanya Sheza, ia benar-benar merasa penasaran.
"Bukankah sebagai seorang kekasih, aku memang harus mengenalmu dengan baik nona", jawab Zafier dengan pandangan mempesona tepat ke mata hazel itu.
Zafier kemudian menyentuh dadanya, ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
Mendengar jawaban Zafier, sontak wajah Sheza merona, ia merasa seolah-olah ada meteor jatuh tepat ke jantungnya meledak memancarkan gelombang yang menyilaukan, jantungnya berdebar kencang, Sheza tidak berani menatap mata tajam pria itu.
Ya tuhan, apa yang terjadi padaku? bisa-bisanya aku terpesona padanya, batin Sheza. Ia mencoba menguasai dirinya.
Flashback off.
Begitu Seif sampai di dekatnya, ia langsung memeluk sang kakak, Seif pun menepuk lembut punggung Sheza.
Sheza tidak tau di balik ruangan dengan dinding kaca itu, dua pasang mata tengah menatapnya dengan aura membunuh, begitu dingin dan mencekam.
"Maafkan kedatangan kakak yang terlambat ya She", ucap Seif dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.
Sheza tersenyum, " It's oke kak, aku paham Kakak bekerja, aku malah berterima kasih karena kakak telah meluangkan waktu untuk menemaniku", ujar Sheza berusaha menghibur sang kakak.
"Oh ya kak, besok aku akan kembali ke kota P. Aku berharap jika kakak tidak sibuk, kakak bisa berkunjung ke kampung halaman kakak sendiri. Aku juga sudah lama tidak melihat ibu sejak ibu....", ucapan Sheza terhenti karena tanpa sadar ia telah mengungkapkan sesuatu yang seharusnya ia simpan rapat-rapat.
Sheza terdiam menyesali ucapannya. Ia menunduk sama sekali tidak berani menatap Seif.
__ADS_1
Sementara Seif terus menunggu, ia berharap Sheza dapat menyelesaikan kata-katanya yang terputus tadi.
Tapi hampir dua menit berlalu Sheza masih terdiam canggung. Ia merasa tertekan dan serba salah.
Seif begitu penasaran, "Apa yang sebenarnya telah dilakukan ibu padamu She, berkatalah dengan jujur She, jangan ada yang kamu tutup-tutupi pada kakak. Sejahat apapun perlakuan yang kamu terima, jujurlah pada kakak, kakak akan minta pertanggung jawaban dari ibu. Di saat kakak meninggalkanmu waktu itu, kakak sudah memohon kepada ibu untuk menjagamu She", ujar Seif, nampak emosi menguasainya.
Seif menunggu dengan sabar, ia berharap Sheza menyelesaikan kata-katanya kembali, tapi Sheza masih dalam mode diamnya. Iya tetap tidak mau bicara.
Seif menatapnya memohon. Sheza luluh, akhirnya ia menceritakan semua perlakuan sang ibu sepeninggal Seif, sampai kejadian yang menimpanya.
Hanya saja Sheza tidak menceritakan permintaan tuan Zaki. Ia hanya bercerita bahwa ia harus bekerja pada tuan Zaki untuk menutup utang sang ibu. Seif nampak geram. Ia tidak menyangka ibunya tega memperlakukan Sheza seperti itu. Emosi mulai menguasai Seif.
Bergegas ia meraih ponselnya. Menekan sederet nomor di ponselnya. Ia mencoba menghubungi sang ibu untuk minta penjelasan. Tapi ponsel sang ibu tidak bisa lagi dihubungi. Berkali-kali ia mencoba, tapi tetap tidak bisa. Seif nampak sangat kecewa.
"Hmm...sebelumnya aku juga pernah menghubungi ibu untuk menanyakan kabarnya kak, tapi ponsel ibu tidak bisa dihubungi lagi. Aku mencoba mencari ibu ke rumah, tapi ibu menjual rumah peninggalan ayah, para tetangga pun tidak mengetahui kemana ibu pindah", papar Sheza lagi. Ia kembali terdiam.
"Kak Anggap saja aku tidak pernah bicara apapun pada kakak, aku tidak mau hal tersebut memperburuk hubungan kakak dengan ibu.
Aku sudah memaafkan semua perlakuan ibu. Apa yang ibu lakukan mungkin karena aku bukan anak yang pandai membalas budi", ucap Sheza lagi, ada tekanan kesedihan yang teramat sangat dalam suaranya.
"Tapi She.... ", ucapan Seif seketika terhenti karena dipotong Sheza.
"Sudahlah kak, jangan dipikirkan lagi. Aku tahu aku bukan anak kandung ibu. Tapi Kakak adalah anak kandung ibu, jadi jangan sampai Kakak menjadi durhaka kepada ibu. Kakak harus selalu menjadi anak yang berbakti pada ibu. Terima kasih untuk sudah menjadi kakak terbaik, kakak yang selalu menjagaku selama ini", Sheza tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Mata Sheza mengembun Ia berusaha sekuat mungkin menahan butiran air mata yang sudah memaksa untuk keluar.
Tapi tak urung, air mata lolos juga mengalir dari sudut mata indahnya.
Adegan demi adegan itu disaksikan oleh dua pasang mata dibalik dinding kaca transparan itu. Mereka berdua tanpa sadar menahan nafas, seolah terbawa suasana, ikut terhanyut dengan kesedihan yang dialami Sheza.
__ADS_1