My Little Gwen

My Little Gwen
Kembali bertemu


__ADS_3

Malam semakin beranjak. Gelap nampak memenuhi setiap sudut di luar sana. Kesunyian semakin terasa kental, seiring dengan setiap orang mulai terlelap di peraduan dibuai malam. Namun saat ini Zafier masih asyik berbicara dengan sang daddy, meski tak terdengar satu pun balasan. Zafier lebih seperti sedang berbicara sendiri.


Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada penyesalan yang tak terbantahkan. Penggalan demi penggalan kenangan memenuhi benaknya. Tiba-tiba saja semua perkataan sang sahabat, Arsen terngiang kembali. Ia tidak pernah menyangka akan mengalami kondisi serupa yang dialami Arsen.


Di saat ia baru saja menyadari ketidakpeduliannya selama ini pada sang daddy karena berkaca pada kondisi papi Arsen, di saat hanya tinggal selangkah lagi pertemuannya dengan sang daddy, tapi takdir berkata lain. Tiba-tiba perasaan takut kehilangan memenuhi benak Zafier.


Dulu ketika sang daddy masih sehat dan bisa merespon semua ucapannya, ia tidak pernah punya waktu untuk berbicara dengan sang daddy. Zafier malah sibuk di luar negeri membangun bisnisnya sendiri. Berulang kali sang daddy memintanya untuk kembali ke tanah air. Zafier malah memberikan beribu alasan untuk menolak kepulangannya. Seharusnya saat itu ia menyadari satu hal, bahwa sang daddy pasti sangat merindukannya. Zafier menghela nafas berat, seberat rasa bersalah yang menghinggapinya.


Tiba-tiba Zafier menggertakan giginya, tangannya mengepal. Ia kembali ingat siapa yang menjadi penyebab sang daddy terbaring koma seperti ini. Sontak dendam memenuhi dada dan aliran darahnya. Jika ia tidak ingat akan kondisi sang daddy yang masih belum stabil, rasanya ingin sekali ia kembali ke markas. Ia ingin mencincang pria yang telah menembak sang daddy. Tapi Zafier ingat kematian hal yang terlalu mudah dan menyenangkan bagi bangsat satu itu. Ia sudah memiliki sebuah rencana bagi bangsat itu serta dalang yang berada di belakang penembakan daddy Zaki. Kau tunggu saja tanggal mainnya bangsat, gumam Zafier penuh kemarahan.


Setelah puas bercerita dan mengajak sang daddy berbicara. Ia melirik ke arah belakang, tepat ke arah kamar mandi di ruangan itu. Ia melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka. Sejenak Zafier terdiam. Sepertinya tadi ia terlalu fokus dengan sang daddy, hingga ia tidak menyadari kalau calon ibu sambungnya itu telah keluar dari ruangan. Mungkin wanita itu tidak mau mengganggu dirinya dan sang daddy, hingga wanita itu memutuskan keluar diam-diam, pikir Zafier.


Zafier melirik jam tangan yang melingkar kokoh di tangannya. Malam sudah sangat larut. Zafier bergegas keluar, ia ingin mencari calon istri sang daddy. Ia akan menjaga daddy kali ini. Ia akan meminta calon istri daddy untuk beristirahat saja di mansion. Kasihan juga kalau seorang wanita harus berada di sini malam hari.

__ADS_1


Ketika Zafier keluar dari ruang rawat sang daddy, ia memperhatikan sekitarnya, tapi ia sama sekali tidak menemukan satupun wanita di luar sana. Kemudian Zafier berjalan ke arah paman Ganial yang nampak tengah duduk di ruang tunggu tepat di depan ruang rawat Zaki.


Begitu melihat Zafier yang berjalan tepat ke arahnya, Ganial sontak berdiri.


"Apa paman melihat calon istri daddy?" tanya Zafier.


Ganial sedikit terkejut dengan pertanyaan Zafier, "Tadi ada di sini tuan muda, sepertinya ia sedang ke kafe rumah sakit ini. Mungkin ia lapar. Tadi ia ditemani oleh Carlos", jawab Ganial.


"Baiklah paman, aku hanya ingin mengatakan padanya kalau aku yang akan menjaga daddy malam ini. Tolong paman sampaikan saja padanya, ia bisa pulang dan beristirahat saja di mansion", ujar Zafier lagi.


Dua orang itu semakin mendekat. Zafier tidak berkedip menatap mereka, seolah memastikan sosok wanita yang membuatnya penasaran itu. Perlahan namun pasti jarak mereka semakin dekat, hingga akhirnya hanya tinggal beberapa meter saja.


Sontak mata Zafier terbelalak kaget, manakala dua sosok itu berada tepat dalam jangkauan matanya. Zafier menatap tajam salah satu sosok wanita di depannya. Matanya menyorot tepat ke seorang wanita yang sangat ia kenal. Wanita itu si juga tengah menatap ke arahnya. Mata mereka bertemu. Wanita itu juga tidak kalah terkejut. Sejenak mereka bertatapan. Tatapan yang mengandung berjuta makna, yang hanya mereka berdua yang tau arti tatapan itu.

__ADS_1


Karen memperhatikan Sheza dan Zafier secara bergantian. Ia seperti tidak dianggap ada di sana. Dunia seolah berputar diantara dua orang itu saja. Tapi kemudian Karen nampak sedikit panik. Akhirnya ia memilih beranjak diam-diam dari sisi Sheza. Ia berjalan menuju Carlos dan para pengawal di sana.


"Shezan....", sapa Zafier, atau lebih tepatnya seperti sebuah pertanyaan untuk memastikan.


"Tu...tuan Chastelein", ujar Sheza gugup. Mata Zafier tidak lepas dari mata hazel Sheza. Mata itu setajam mata pedang, mata itu seolah bersiap mengoyak Sheza, jika Sheza tidak memberikan penjelasan tentang keberadaannya di sini.


Sheza sendiri terdiam, tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata, meski dalam hati ia juga mempertanyakan keberadaan Zafier di sini.


Setelah saling bertatapan mata tanpa mengucapkan satu patah kata pun selain nama masing-masing, Zafier pun berlalu menuju ruang rawat sang daddy tanpa berpamitan.


Ia ingin menenangkan diri setelah semua keterkejutannya. Ia memilih masuk kembali ke ruangan sang daddy sesuai rencananya tadi. Ia ingin menenangkan jantungnya yang terus berdetak kencang tak beraturan. Berada begitu dekat dengan Sheza sangat tidak baik bagi jantungnya.


Sheza cukup terkejut ditinggal begitu saja. Sama seperti ketika di kota J. Mereka berpisah tanpa berpamitan. Tapi kemudian ia tersentak. Matanya menatap tanpa berkedip, ketika tubuh Zafier menghilang di balik pintu ruang rawat daddy Zaki. Tanpa penjelasan apapun dari Zafier, ia tahu apa posisi dan makna keberadaan zafier di sana.

__ADS_1


Sesaat kemudian Sheza pun beranjak pergi dari sana. Ia tidak mungkin ikut masuk ke dalam ruang rawat daddy Zaki, meski ia masih mengkhawatirkannya, karena ada seseorang yang lebih berhak untuk berada di sana, pikir Sheza. Ada perasaan sedih menyergapnya. Ia tidak bisa lagi merawat daddy Zaki yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri. Tanpa bisa ia cegah, matanya berkaca-kaca, dan sebutir bening airmata menetes di sudut mata hazelnya.


__ADS_2