
Sheza masih berdiri di depan meja riasnya, untuk memastikan tampilannya sudah rapi. Karen hanya memperhatikan sang nona, meski berdandan ala kadarnya, namun pesona dan kecantikan sang nona tidak akan hilang sama sekali.
"Anda sudah sangat cantik Nona. Tanpa berdandan sama sekalipun setiap laki-laki akan terpesona oleh tampilan natural anda. Anda sudah terlahir dengan pesona luar biasa Nona", puji Karen jujur.
Sheza hanya menanggapinya dengan mata berputar malas. Ia bukannya merasa tersanjung. Ia malah menganggap bahwa ucapan Karen hanyalah sebuah sindiran. "Jangan ucapkan lagi omong kosong itu Karen", ujarnya datar.
Setelah merasa cukup rapi. Sejak keluar dari kamar yang ditempatinya. Ia berjalan tenang menuju arah di mana ruang makan berada, sementara di belakangnya Karen mengikuti dengan setia.
Ruangan makan itu sudah berada tepat di depan mata. Untuk kesekian kalinya Sheza membuang nafas berat sebelum kaki itu melangkah memasuki ruangan makan.
Sheza memasuki sebuah ruang makan dengan desain dan dekorasi klasik. Ruang makan luas yang didominasi dengan cat berwarna silver itu nampak sangat mewah. Sebuah meja besar dengan deretan kursi yang amat sangat banyak berjejer menutupi meja. Dua buah lampu kristal mewah menggantung diatasnya, menjadi sumber penerangan di ruangan itu. Dindingnya sendiri dipenuhi dekorasi dengan berbagai hiasan dan lukisan dari maestro ternama.
Di ruangan itu sudah menunggu Zafier dan dr. Niko. Zafier duduk di kursi utama. Sementara dr. Niko duduk di sebelah kirinya. Karen yang mengikuti Sheza sejak dari kamar tidak lagi terlihat. Karen cukup tau diri dengan memilih untuk bergabung dengan para pengawal lainnya di luar mansion.
"Maaf, saya datang terlambat", ujar Sheza menunduk dengan nada menyesal.
Ketika ia mengangkat wajah, netranya bersirobok dengan netra abu tajam. Melihat wajah tampan itu, Sheza langsung merasa bad mood. Sheza masih kesal dengan peristiwa semalam, apalagi wajah tampan di depannya benar-benar memasang ekspresi tidak bersalah sama sekali.
"Lagipula apa yang bisa kuharapkan dari laki-laki berkuasa seperti dirinya. Mereka bisa bertindak semaunya terhadap wanita manapun yang mereka inginkan. Tapi aku sangat kesal karena mereka menyamakanku seperti wanita-wanita itu", Sheza mendengus kesal. rasanya ingin sekali melemparkan salah satu kursi ini kepada pria di depannya itu, namun auranya yang begitu mendominasi, cukup menciutkan nyalinya.
__ADS_1
Sejak kecil Sheza memang diajarkan oleh Ayah Arshaka untuk menjaga harga diri dan tubuhnya. Ia memang tidak menyukai sentuhan sama sekali dari lawan jenis sejak ia kecil. Hingga besar pun ia tidak tidak suka jika ada lawan jenis yang menyentuh tubuhnya. Satu-satunya hal yang bisa ia terima adalah bersentuhan ketika bersalaman saja. Itulah kenapa dia sangat kesal ketika Zafier seenaknya memeluk tubuhnya. Ia merasa seperti direndahkan dan pria di depannya itu melakukannya tanpa perasaan bersalah sedikitpun, semudah itu. Kata maaf yang diucapkannya semalam bukanlah kata maaf yang tulus dan penuh penyesalan. Sheza merasa pria di depannya itu menyamakan dirinya dengan wanita-wanita yang selama ini bisa dipeluknya dengan mudah.
Andai Sheza tahu bahwa ia adalah satu-satunya wanita yang pernah dipeluk Zafier seumur hidupnya, tentu saja setelah sang ibu.
Lagi-lagi Zafier merasa tersesat oleh netra hazel yang menatapnya lekat-lekat. Ia begitu benci itu, meski jika ia mau jujur, ia sendiri sebenarnya menikmati perasaan itu. Perasaan yang tanpa sadar mulai menggeser keberadaan Gwen di hatinya. Sayangnya, perasaan itu justru datang di waktu dan pada orang yang salah.
Zafier sebenarnya menangkap tatapan sinis dari netral Hazel itu, tapi ia berusaha untuk mengacuhkannya. Zafier enggan menyadari kesalahannya semalam, ia tidak ingin mengungkit kebodohannya itu. Terlalu malu rasanya. Mau ditaruh ke mana wajahnya. Ia yang biasanya dikejar-kejar wanita kemudian harus meminta maaf hanya karena salah peluk. Sementara banyak wanita ingin berada di posisi Sheza saat itu. Bahkan mereka akan rela melakukan hal yang lebih lagi untuk seorang Zafier.
Zafier sendiri merasa sedikit aneh. Berdekatan dengan Sheza bahkan memeluknya tidak menimbulkan perasaan tidak nyaman atau jijik sama sekali. Tubuhnya merespon dengan baik, tidak ada penolakan sama sekali, ia merasa sangat sangat nyaman. Apa karena saat memeluk dia menganggap bahwa Sheza adalah Gwen? sehingga respon tubuhnya tidak menolak. Apa perlu aku memeluk Sheza sekali lagi untuk membuktikannya? Aissh...pikiran macam apa itu!, Zafier mengutuk pikirannya sendiri. Tanpa sadar ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sheza yang sedang menatap Zafier nampak mengerutkan keningnya. Ada apa dengan dia, batin Sheza.
"Halo Nona Sheza, kita bertemu lagi. Apakah nona sudah merasa sehat? Jika belum, aku dengan senang hati akan memeriksa Nona kembali", ujar dr. Niko tersenyum lebar, dengan kerlingan mata nakalnya.
Sheza hanya tersenyum basa basi menanggapinya, "Terima kasih dr. Niko, aku sudah merasa lebih baik".
Zafier tidak bersuara, hanya menatap dr. Niko dengan tatapan membunuh.
Dr. Niko sama tidak menyadari tatapan tajam Zafier, karena saat ini ia tengah menatap Sheza lekat dan penuh harap.
__ADS_1
"Silakan duduk Nona Sheza, perutku sudah minta diisi sedari tadi", potongnya dengan nada. dingin.
Siapa juga yang menyuruhmu menungguku, rutuk Sheza, namun hanya bisa diucapkannya dalam hati. Hanya tatapan kesal yang ditujukannya kepada Zafier, namun sayangnya pria tampan itu sedang tidak melihat ke arahnya.
Sheza pun segera duduk. Ia memilih duduk di sisi yang sama dengan dr. Niko, tapi ia memilih berjarak dengan mengosongkan satu kursi diantara mereka.
Zafier menatap Sheza dengan kening berkerut. Apa terlalu menakutkan untuk duduk di sebelahnya? hingga ia harus memilih duduk di sana, batinnya. Tapi sudahlah, ia tidak ingin memicu perseteruan di meja makan, sehingga Zafier hanya diam saja tanpa menanggapi.
Sheza ingin sesi sarapan ini segera berakhir, karena ia tidak sabar ingin membicarakan sesuatu tentang kepindahannya dari mansion ini.
Begitu Sheza duduk, para pelayan yang memang telah bersiap di belakang mereka, mulai sibuk menghidangkan berbagai sarapan. Mereka semua makan dengan tenang tanpa ada satu orang pun yang menyela atau berkomentar.
Setelah menyelesaikan sarapannya. Sheza menatap
Zafier kembali.
"Sepertinya ada yang ingin anda katakan Nona?", tanya Zafier. Ia bukannya tidak menyadari tatapan Sheza sedari mereka makan tadi. Ia hanya tidak ingin berbicara saat makan. Satu aturan yang ia pelajari sejak ia kecil. Selain cukup berbahaya jika dilihat dari sisi kesehatan, hal itu juga dianggap sebagai sesuatu yang kurang sopan.
"Hmm... Ya Tuan Muda Zafier. Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda. Apakah anda ada waktu?", tanya Sheza begitu formal.
__ADS_1
Zafier menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia tidak suka dengan sikap formal Sheza, tapi ia juga bingung untuk mengatakan bagaimana seharusnya.