
Pagi itu Sheza sedang sibuk dengan berkas-berkas di ruangannya. Ia ingat hari ini ia harus memenuhi permintaan tuan Arsen yang menginginkan semua data-data keuangan terkait kerjasama tersebut. Sheza pun sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Ia harus melakukan pengecekan kembali dan memastikan diantara berkas data proyek kerjasama itu, tidak terselip berkas data keuangan internal perusahaan.
Tak berapa lama kemudian ia mendengar ketukan di pintu ruangannya. Sekretaris Sheza masuk diikuti oleh seseorang di belakangnya. Awalnya Sheza tidak terlalu memperhatikan seseorang yang berada di belakang sekretarisnya itu, karena ia fokus mengamati bekas-bekas yang dibutuhkannya.
Seseorang di belakang sekretaris Sheza itu berdeham, "Ehemm....!".
Ia mencoba menarik perhatian Sheza. Ia merasa diabaikan, padahal sedari tadi, begitu ia memasuki pintu ruangan Sheza, matanya tak lepas memandang sosok cantik di depannya itu.
Reflek Sheza mengangkat kepalanya. Netra hazelnya tertuju pada asal suara yang didengarnya. Sesaat netra hazelnya bersitatap dengan netra hitam milik Arsen.
Sheza sedikit terkejut, namun ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. Sementara pria itu tampak tersenyum sumringah. Sepagi ini ia sudah disuguhi dengan pemandangan segar dan sangat menarik. Sosok yang menatapnya sungguh makhluk Tuhan yang paling indah, kecantikannya tanpa cela, sungguh sempurna.
Yaa....Siapa lagi yang saat itu datang ke ruangan Sheza pagi-pagi sekali, jika bukan Arsen. Tapi kali ini Arsen hanya datang sendirian. Ia seolah sengaja tidak membawa Ken, sang sekretaris.
"Halo nona Arshaka, takdir kembali mempertemukan kita", ujar pria itu dengan percaya diri. Tanpa sungkan pria berwajah tampan itu mengulurkan tangannya. Kedua matanya berbinar penuh harap berharap wanita cantik yang berada di hadapannya bersedia untuk meraih uluran tangannya.
Mata Sheza sontak mendelik mendengar kata-kata pria barusan.
"Haaah! Takdir? Apa aku tidak salah dengar? Jelas-jelas ia yang dengan sengaja pagi-pagi sekali sudah muncul di hadapanku", geram Sheza dalam hati.
Sheza terdiam sesaat. Wanita cantik itu menghela nafas pelan, sebelum ia mengulurkan tangannya sembari tersenyum tipis, namun mematikan untuk kaum adam yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Hanya sekejap Sheza segera menarik tangannya, senyuman tipisnya masih terukir cantik.
"Silakan duduk tuan Arsen", ujar Sheza berusaha, ramah namun tetap dengan ekspresi daftarnya. Arsen langsung mengambil posisi duduk di sofa tepat di depan meja kerja Sheza. Dari posisinya duduk ini ia akan ia bisa menikmati kecantikan Sheza dengan jelas.
Sheza kemudian mengalihkan tatapannya pada sang sekretaris. "Kalila tolong buatkan minuman untuk tuan Arsen", ujar Sheza pada sang sekretaris.
Entah kenapa suara Sheza terdengar mengalun begitu lembut di telinga Arsen. Suara itu begitu menghanyutkan Arsen. Rasanya Arsen ingin selalu mendengarnya, selalu dan selalu...
"Baik nona", ujar Kalila sambil menunduk hormat pada Sheza. Selanjutnya Kalila pun berjalan keluar meninggalkan ruangan Sheza.
Sepeninggal Kalila, sang sekretaris, Sheza masih asik berkutat dengan berkas-berkasnya. Sementara Arsen yang duduk di sofa tepat di depan meja kerja Sheza nampak menikmati pemandangan yang tersuguh di depannya dengan tenang. Ia sangat bersyukur akan kesibukan Sheza. Hal itu membuat kedua netra Arsen bebas menatap lekat tak berkedip pada Sheza. Seolah-olah jika ia berkedip maka wanita cantik yang ada di depannya akan menghilang begitu saja.
Setelah menyelesaikan berkas-berkas yang dibutuhkannya, Sheza kemudian mengangkat wajahnya. Tepat pada saat itu Arsen masih asik menikmati pemandangan di depannya. Dan sontak saja netra hazel Sheza bersitatap dengan netra hitam Arsen kembali.
Arsen yang sedikit terkejut dan malu karena tertangkap basah menatap wajah Sheza, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain, dengan wajah dan telinga yang berwarna merah. Ia benar-benar tidak sanggup menatap netra hazel dari wanita yang berada tepat di depannya itu lama-lama.
"Deg.....!".
Dada Arsen bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat. Jantungnya tiba-tiba menggila, kehilangan kontrol. "Ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungku", batin Arsen sembari memegang dadanya. "Sepertinya aku harus menghubungi Ken untuk mendampingiku di sini, karena jika tidak aku bisa saja bertindak tidak terkontrol", batin Arsen lagi.
Sementara itu Ken yang sudah sampai sedari tadi, saat ini sedang berada di depan ruangan CEO.
__ADS_1
Fabian mengatakan bahwa Arsen belum memasuki ruangan itu dari tadi pagi. Ken cukup kebingungan mencari keberadaan bosnya itu. Ia sendiri tidak tahu kemana harus mencari bosnya. Dan tak berapa lama kemudian sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Sebuah pesan dari bosnya. "Arsen saat ini aku berada di ruangan nona Arshaka, segera kau kemari mendampingiku sebelum aku melakukan sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan".
Ken sangat terkejut membaca pesan dari sang bos. Bergegas ia berlari menuju lift. Pintu lift tertutup begitu ia masuk. Karena lantai di mana Ken berada saat ini adalah beberapa lantai teratas yang hanya terdapat ruangan dari unsur pimpinan perusahaan, maka lift yang tengah dinaikinya hanya berisi dirinya seorang.
Ken merasa lift yang dinaikinya ini turun begitu lambat. Ia kuatir bosnya melakukan sesuatu yang tidak terkontrol terhadap nona Arshaka, jika itu terjadi maka bisa dipastikan kejadian tersebut akan merusak bisnis dan proyek kerjasama dua perusahaan, dan menghancurkan persahabatan dua pria mapan dan tampan yang sudah terjalin sejak lama.
Begitu pintu lift terbuka, Ken bergegas berlari menyusuri ruangan untuk mencari dimana nona Arshaka berada. Beruntungnya ia bertemu dengan Kalila sekretaris Sheza.
Ken sampai di ruangan Sheza bersamaan dengan kedatangan Karen, asisten Sheza. Karen menatapnya dengan netra sangat tidak bersahabat. Ken cukup terkejut melihat wanita di depannya. Ia merasa asing karena belum pernah bertemu dengan wanita itu. Sebenarnya wanita ini cukup cantik meski dandanannya persis seperti laki-laki, ia menggunakan setelan celana hitam beserta kemeja dan blazer senada, dandanannya persis seperti seorang bodyguard wanita.
Mereka sama-sama akan membuka pintu ruangan Sheza. Karen nampak melotot pada Ken.
"Mau apa kau masuk ke sini?", tanya Karen galak. Ia memukul keras tangan Ken yang sedang memegang pegangan pintu ruangan Sheza.
Ken tersentak, seketika tangan Ken terlepas dari pegangan pintu itu. Ia cukup terkejut merasakan kekuatan wanita yang memukul tangannya tadi. Sebagai seseorang yang mempunyai ilmu bela diri, ia cukup kagum dengan kekuatan wanita di depannya.
"Apa urusanmu? Kau sendiri sedang apa di sini?", bukannya menjawab, Ken malah balik bertanya dengan wajah datar.
"Ini ruangan bosku, kau sendiri mau apa ke sini?", jawab Karen masih dengan mode galak. Ken malah menganggap wajah Karen terlihat menggemaskan. tanpa sadar sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman, meski samat.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan mengawal bosku", ujar Ken tenang dan bersiap masuk kembali. Karen nampak sedikit bingung tapi kemudian ia kembali dengan ekspresi datarnya.
"Apa nona Sheza sudah menggantikan keberadaanku?", batin Karen. "Bukannya nona tahu aku sedang mendapatkan tugas dari paman Ganial", batin Karen lagi. Ia tidak lagi mempedulikan Ken yang sudah akan membuka pintu dan hendak melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Sheza. Karen masih sibuk dengan pikirannya.