My Little Gwen

My Little Gwen
Di rawat di mansion


__ADS_3

Meski malam semakin larut, Zafier masih betah berada di ruangan dokter Eka. Nampaknya mereka sedang terlibat pembicaraan yang serius. Setelah satu persatu dokter yang berada di ruangan itu mulai pamit undur diri karena merasa pembicaraan Zafier dengan dokter Eka sudah mulai menyentuh ranah pribadi, Zafier pun merasa lebih leluasa berbicara dengan dokter Eka.


"Hmm...jadi karena hanya kita berdua disini sekarang, apakah bisa dijelaskan siapa wanita tadi. Ketika kami akan mengambil tindakan, ada seorang wanita yang terus bersikeras masuk dan mendampingi tuan Zaki", ujar dokter Eka. Keningnya berkerut seolah mempertanyakan posisi wanita yang memaksa masuk tadi. "Fier?", tanya dokter Eka penasaran. Ia menatap lurus ke arah Zafier yang berada tepat di depannya, berharap sekali mendapatkan jawaban. Tapi Zafier masih dalam mode diam, bingung harus menjawab apa.


"Kamu tau Zafier, wanita tadi sangat cantik, jangan bilang kalau dia calon istrimu Fier. Kalau memang benar, selamat, kamu beruntung berjodoh dengannya. Selain cantik, ia juga sangat baik dan perhatian, pamam bisa melihat semua perhatiannya pada daddymu, seolah daddymu itu ayahnya sendiri", jelas dokter Eka lagi.


Zafier terperangah namun berusaha tersenyum menutupi rasa canggungnya, semakin bingung memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan identitas wanita itu sebenarnya. Jelas saja wanita itu memperhatikan daddy, karena daddy adalah calon suaminya, batin Zafier.


"Hmm... Sebenarnya wanita tadi... Hmm, Aku sendiri tidak mengenalnya paman, aku belum bertemu dengannya. Tapi daddy pernah mengatakan padaku kalau ia akan menikah dengan seorang wanita. Jadi bisa jadi wanita yang paman ceritakan itu mungkin adalah calon istri daddy", jelas Zafier pelan.


Dokter Eka terdiam, bingung sekaligus takjub. Sama sekali tidak menyangka bahwa kenyataan yang ada justru bertolak belakang dengan apa yang ada dalam pikirannya. Dokter Eka menyentuh belakang kepalanya, membuat gerakan seolah-olah menggaruk, padahal tidak ada yang gatal sama sekali. Tiba-tiba saja ia merasa malu karena terlalu banyak bicara.


Zafier hanya memperhatikan semua kecanggungan dokter Eka. Kemudian ia berusaha mengalihkan pembicaraan selanjutnya.


"Paman Eka, bagaimana kalau daddy dirawat di mansion saja. Aku akan menyiapkan ruangan dengan segala peralatan dan perlengkapan persis seperti di sini. Untuk dokter spesialis yang khusus merawat daddy, aku serahkan pada paman untuk memberikan rekomendasi, jika perlu paman bisa membantu kami memilihnya langsung, bahkan jika itu adalah dokter terbaik dari luar negeri. Aku harap paman bisa memberikan rekomendasi dokter terbaik. Sebenarnya aku ingin paman yang mengurus daddy secara langsung, tapi aku yakin paman tidak akan mau meninggalkan Rumah Sakit ini. Tapi aku tetap berharap, meskipun ada dokter khusus untuk perawatan daddy, aku harap Paman tetap melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap daddy", ujar Zafier.

__ADS_1


Dokter Eka terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu. Ia tidak langsung memberikan jawaban.


"Paman harus mendiskusikan ini dengan tim dokter yang telah menangani daddymu Fier, apalagi saat ini kondisi daddymu belum 100% stabil. Paman dan tim harus memastikan dulu kondisi daddymu lebih stabil. Paman akan mengabarimu lebih lanjut setelah ini", lanjut dokter Eka.


"Baiklah paman, aku akan menunggu kabar baik dari paman, sementara itu akan aku akan memastikan semua persiapan ruangan beserta sarana dan prasarana perawatan dady di mansion nantinya.


Setelah selesai mendiskusikan kondisi sang daddy dengan dokter Eka dan timnya, Zafier pun bergegas undur diri untuk melihat kondisi sang daddy.


Selanjutnya Zafier berjalan menyusuri lorong untuk kembali ke ruangan di mana sang daddy dirawat, diikuti oleh James dan Carlos serta beberapa pengawal. Begitu sampai di depan ruangan sang daddy, Zafier melihat Ganial masih setia berdiri di depan pintu itu. Ganial nampak tenang di sana, sorot matanya sulit diartikan.


"Paman Ganial ada sesuatu yang harus aku diskusikan dengan paman", ujar Zafier.


Mereka berdua kemudian berjalan menuju kursi ruang tunggu yang tepat berada di depan ruang rawat Zaki.


"Paman, tadi aku sudah membicarakan perihal niatku untuk merawat daddy di mansion kita saja. Paman Eka berjanji akan membicarakan hal tersebut dengan tim dokter yang menangani daddy. Menurut paman Eka, jika kondisi Dedi lebih stabil maka kemungkinan daddy bisa dirawat di mansion kita", jelas Zafier.

__ADS_1


"Baiklah tuan muda, saya setuju dengan rencana tuan muda. Lagipula tuan Zaki akan lebih terjamin keamanannya dan segala sesuatunya jika berada di mansion", ujar Ganial.


"Iya, betul paman, aku juga sudah minta rekomendasi dari paman Eka, siapa dokter terbaik yang bisa merawat daddy secara khusus di mansion kita nanti secara full time, karena aku yakin paman Eka tidak akan mau meninggalkan rumah sakit ini. Sebenarnya kita juga tidak bisa membawa Daddy ke markas meskipun di sana ada rumah sakit kita dengan segala fasilitasnya. Kondisi daddy terlalu beresiko untuk dibawa dengan helikopter ataupun jet pribadi", Zafier menghela nafasnya. Ada kekecewaan di wajahnya.


"Untuk itu tolong paman atur semua hal terkait persiapan ruangan serta sarana dan prasarana untuk perawatan daddy seperti di rumah sakit ini, untuk mansion kita", ujar Zafier lebih sebagai sebuah perintah.


"Baik tuan muda", jawab Ganial patuh. Selanjutnya Ganial undur diri untuk melaksanakan tugas yang diberikan Zafier.


"Baiklah paman aku akan melihat kondisi daddy", ujar Zafier berlalu.


"Oh uya tuan muda, saat ini di dalam, hmm....ada calon istri tuan Zaki", ujar Ganial ragu-ragu.


Zafier yang sudah berjalan menuju ruang rawat sang daddy hanya menoleh ke belakang menatap Ganial dan mengangguk.


Zafier mengetuk pintu ruang rawat sang daddy, ia tidak terdengar suara sahutan dari dalam. Zafier kemudian membuka pintu perlahan, tapi ia tidak melihat satu orang pun di dalam, selain hanya sang daddy yang sedang terbaring. Mungkin wanita itu sedang berada di kamar mandi, pikir Zafier.

__ADS_1


Zafier kemudian berjalan menuju ranjang sang daddy. Ia duduk di sana menatap wajah pucat sang daddy, mata sang daddy terpejam rapat.


"Apa kabar daddy", gumamnya pelan. " Tadi aku sudah meminta kepada Paman Eka agar perawatan daddy bisa dipindahkan ke mansion saja. Aku yakin daddy akan lebih aman dan nyaman jika berada di mansion kita. Paman Eka bilang kalau kondisi Daddy telah stabil, maka daddy bisa dipindahkan ke mansion. Aku akan mendatangkan dokter terbaik untuk daddy. Paman eka juga akan tetap mengawasi daddy", Zafier sedang fokus mengajak sang daddy bercerita untuk merangsang otak sang daddy yang berada dalam kondisi koma, hingga ia tidak menyadari ada seorang wanita di belakangnya yang nampak memperhatikannya sedari tadi.


__ADS_2