
Pagi pun menjelang. Sinar matahari yang menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela kamar yang tidak tertutup dengan tirai. Kamar dimana Sheza terbaring itu sekarang terlihat lebih terang. Sheza belum terusik untuk segera bangun dari tidurnya. Entah karena kelelahan akibat kondisi psikisnya atau karena obat yang diminumnya, Sheza masih belum terbangun.
Sementara itu, seorang pria tampan yang berada di ruangan yang sama, nampak menatap dalam pada sosok Sheza yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Bagian lengan dari kemeja pria itu tergulung hingga batas siku, menampakkan guratan vena di lengannya yang atletis, sementara kedua tangannya berada di saku celana.
Yaa ... Siapa lagi pria itu jika bukan Zafier. Ia sudah berada di kamar itu sedari subuh tadi. Perasaannya tidak tenang. Jujur, ia begitu khawatir mengingat kondisi Sheza. Ia belum bisa tenang sebelum melihat Sheza kembali sadar dan baik-baik saja. Ia merasa bersalah karena ikut melibatkan Sheza dalam rencananya menjebak para penjahat itu. Ia merasa bahwa apa yang Sheza alami saat ini adalah sebagai akibat dari tekanan psikologis akibat terlibat langsung dalam kejadian yang mungkin sangat mengerikan bagi Sheza. Ia ingin sekali menunggu dan memastikan Sheza kembali sadar, tapi apa daya, pagi ini ia harus ke markas untuk mengintrogasi orang-orang yang berhasil ditangkap pada waktu penculikan Sheza.
Keberadaan Zafier pagi itu didampingi oleh kepala pelayannya Adolf.
"Paman tau kan apa yang harus paman lakukan jika nona Sheza telah bangun?", tanya Zafier pada Adolf dengan kedua netranya yang masih terpaku pada sosok Sheza.
"Siap tuan muda. Saya akan melaporkan semua perkembangan dari nona Sheza", jawab Adolf dengan sikap hormat.
Setelah mendengar jawaban pasti dari Adolf, Zafier perlahan melangkahkan kakinya ke arah pintu. Sebelum ia membuka pintu kamar itu, ia kembali menoleh pada sosok Sheza yang terbaring di atas ranjangnya, setelah beberapa saat kemudian, dengan sigap tangannya menggenggam pegangan pintu. Ia membuka pintu dan berlalu dari sana diikuti oleh sosok Adolf di belakangnya.
Di sudut ruangan, Karen benar-benar memenuhi perintah Zafier untuk tidak tidur selama menjaga Sheza. Sedari tadi, ia hanya memperhatikan interaksi Zafier dan kepala pelayan Adolf. Ia sama sekali tidak berani untuk mengeluarkan suara.
Beberapa saat kemudian pintu kamar diketuk dari luar. Pintu kamar itu kembali terbuka, dua orang pelayan nampak mendorong troli berisi penuh dengan makanan.
"Nona, ini semua sarapan untuk nona Sheza dan nona Karen. Kami permisi dulu nona", ujar mereka dengan sikap hormat. Karen tidak memberikan jawaban apapun. Ia hanya menatap para pelayan dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu, kedua troli yang penuh berisi makanan ditinggalkan oleh kedua pelayan yang membawanya tadi. Kemudian kedua pelayan itu pun berjalan menuju pintu keluar dan menghilang dibalik pintu besar itu.
Karen berjalan menuju arah troli makanan berada. Ia menatap makanan itu tanpa selera. Kondisi sang nona masih mengkhawatirkan, ia belum bisa tenang sebelum ia menyaksikan Sheza bangun dengan kondisi lebih baik.
Karen menarik salah satu kursi dan berjalan menuju ranjang. Ia meletakkan kursi itu di samping ranjang Sheza, kemudian duduk di sana, menatap wajah pucat sang nona dengan khawatir.
__ADS_1
"Nona kumohon sadarlah", mohon Karen dengan suara pelan. Permohonan itu diiringi dengan doa didalam hatinya. Kebersamaannya bersama Sheza bukanlah sebentar. Ia sangat mengagumi sosok sang mona yang tidak pernah menganggapnya sebagai seorang bodyguard semata. Sheza benar-benar memperlakukan dirinya seperti seorang teman bahkan saudara. Itulah mengapa Karen merasa memiliki keterikatan emosional dengan sosok cantik yang tengah terbaring itu.
Bersama Sheza, sosok Karen yang sebelumnya dingin dan datar serta minim ekspresi, banyak mengalami perubahan. Dulunya Karen banyak terlibat dengan misi-misi berbahaya. Karena memang lebih banyak terlibat dengan bisnis dunia bawah milik tuan besar Zaki yang saat ini lebih banyak dijalankan oleh Juan. Perintah dari tuan besar Zaki untuk menjaga nona Sheza membuat hidupnya lebih berwarna.
Karen terus larut dengan pikirannya sampai kemudian ia menangkap pergerakan dari tubuh Sheza. Tangan Sheza mulai bergerak-gerak. Tak berapa lama, kedua netra hazel milik Sheza terbuka sepenuhnya.
Sheza bergerak hendak bangun, namun tangan Karen langsung menghentikan pergerakan Sheza. Ia menahan Sheza untuk bangun.
"Nona tetaplah berbaring. Nona masih harus istirahat", pinta Karen.
Pergerakan Sheza terhenti. Tangannya menyentuh kepalanya. Ia merasakan kepalanya sedikit nyeri. Karena itu Sheza mengikuti ucapan Karen. Ia kembali merebahkan badannya di atas ranjang.
"Nona harus sarapan dan setelah itu meminum obat nona", ujar Karen lembut.
Tanpa menunggu jawaban dari Sheza, Karen kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan menuju troli makanan yang ditinggalkan oleh para pelayan tadi.
"Tapi aku belum lapar Karen. Aku belum ingin sarapan", tolak Sheza dengan suara yang masih lemah.
"Nona harus memaksakan diri untuk memakan sarapan ini, agar nona dapat pulih kembali. Apa nona tidak ingin menemui tuan besar Zaki yang saat ini sedang dirawat di mansion ini juga?", ujar Karen berusaha membujuk Sheza.
Begitu Karen menyebut nama Zaki, netra Sheza nampak berbinar penuh harap. Ia memang belum sempat menjenguk daddy Zaki karena kesibukannya di perusahaan.
Tanpa menunggu jawaban dari Sheza, karen mengambil makanan dari atas troli. Ia mulai menyuapi sang nona dengan telaten
__ADS_1
Sheza pasrah tidak bisa menolak. Ia ingin segera pulih kembali agar dapat menjenguk daddy Zaki, dan agar dapat kembali pulang ke apartemen.
Kepala pelayan Adolf yang mendapat kabar bahwa Sheza sudah sadar bergegas menuju kamar di mana Sheza berada. Ia mengetuk pintu perlahan kemudian mulai membuka pintu kamar itu. Begitu masuk ke dalam kamar, Adolf membungkukkan tubuhnya pada Sheza.
"Selamat pagi nona! Bagaimana kondisi nona? setelah nona sarapan, saya akan meminta Oleta untuk melakukan pemeriksaan kembali pada nona", ujar Adolf sopan.
" Tidak usah paman, aku merasa tubuhku baik-baik saja", tolak Sheza secara halus
"Maaf nona. Saya hanya diberi perintah oleh tuan muda Zafier. Saya tidak berani melanggar", Adolf kembali berbicara dengan sopan.
Sheza tidak berkomentar lagi. Ia hanya menghela nafas. Jika sang tuan muda sudah memutuskan sesuatu, maka hal itu adalah hal yang mutlak bagi para anak buahnya. Sheza hanya bisa pasrah untuk mengikutinya saja.
Beberapa saat kemudian sheza telah menyelesaikan sarapan dan meminum obatnya. Oleta juga sudah berada di dalam kamar sedari tadi. Ia mengeluarkan peralatan medis yang di bawanya. Ia mulai memeriksa Sheza dengan cekatan. Tekanan darah nadi dan detak jantung Sheza nampak sudah mulai normal.
"Apa kepala nona masih sakit?", tanya Oleta dengan hormat.
"Tidak terlalu sakit lagi bibi. Mungkin ini hanya akibat karena aku terlalu lama berbaring", jawab Sheza berusaha tersenyum.
"Baiklah nona, semua hasil pemeriksaan nona tampak normal. Namun nona masih harus beristirahat agar tubuh normal kembali pulih. Kami akan segera keluar dan tidak akan mengganggu waktu istirahat nona lagi", ujar Oleta hormat.
Sheza hanya mengangguk, ia tersenyum pada Oleta dan Adolf.
"Terima kasih paman dan bibi atas perhatian kalian", ujar Sheza.
__ADS_1
"Itu semua sudah menjadi kewajiban kami nona", ujar Adolf dan Oleta nyaris bersamaan.
"Kami undur diri dulu nona. Semoga nona dapat segera pulih", Oleta dan Adolf membungkukkan tubuhnya pada Sheza, sebelum mereka meninggalkan kamar tersebut.