My Little Gwen

My Little Gwen
Pembicaraan pribadi


__ADS_3

Matahari menyapa pagi yang menjelang. Sinarnya yang menyilaukan perlahan masuk melalui celah-celah jendela ruang rawat rumah sakit yang tidak tertutup rapat oleh tirai. Zafier terbangun karena merasakan hangatnya sinar matahari yang menerpa tubuhnya.


Pagi datang terasa begitu cepat bagi Zafier, karena semalam ia benar-benar tidak bisa tidur.


Sebenarnya semalam Zafier sudah merasa sangat lelah dan ingin sekali tidur, tapi matanya sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama, karena otaknya masih saja berkutat di seputar pertemuan yang tidak terduga dengan Sheza. Dalam kondisi yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka berdua. Alhasil, Zafier benar-benar merasa lelah bergadang semalaman.


Zafier berpikir bahwa mandi dapat sedikit membuat tubuhnya fresh. Maka Zafier pun memutuskan untuk membersihkan diri. Perlahan ia beranjak menuju kamar mandi. Selang beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi, dengan sudah berpakaian lengkap. Zafier merasa tubuhnya sedikit lebih segar.


Perlahan Zafier duduk di pinggir ranjangnya, seolah masih memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian ia berjalan menuju kursi yang berada tepat di samping ranjang sang daddy. Ia menghempaskan tubuhnya begitu saja di sana. Ia menatap dalam wajah sang daddy. tidak ada perubahan yang berarti di sana masih sama seperti sebelumnya. Zaki masih terbaring dengan wajah pucat di atas ranjang itu. Berbagai peralatan masih nampak menempel pada tubuhnya. Zafier menghela nafasnya dengan berat. Menatap sedih pada sang daddy. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk meringankan beban penderitaan sang daddy.


Jika saja tim dokter mengizinkan, rasanya ia ingin sekali membawa sang daddy terbang ke Belanda dan memberikan perawatan terbaik di sana.


"Selamat pagi daddy. Bagaimana kabar daddy hari ini?", tanya Zafier mengawali sapaan paginya pada sang daddy. Meskipun ia tahu bahwa sapaan itu tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari sang daddy.


Daddy, maafkan aku karena tidak bisa menemani daddy seharian di sini. Aku terpaksa harus meninggalkan daddy lagi hari ini. Aku punya beberapa jadwal pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau untuk urusan pelaku dibalik penembakan daddy aku bisa menyerahkan kepada Juan. Kami sudah tau siapa dalangnya dad. Rasanya terlalu ringan hukuman bagi dalang itu jika ia langsung ditangkap. Aku ingin sesuatu yang spesial buatnya dad. Sesuatu yang tidak akan pernah dilupakannya, yang akan menghancurkannya sehancur-hancurnya. Aku punya rencana tersendiri untuk melenyapkan pelaku penembakan dady.


Zafier berbicara pada sang daddy dengan penuh emosi. Ia lebih seperti sedang berdialog sendiri. Ia membuang nafas, ekspresi dinginnya berubah gelap. Genggaman tangannya mengepal. Bibirnya terkatup rapat dengan suara gigi yang menyatu kuat.

__ADS_1


Satu lagi daddy, aku tidak mungkin membiarkan perusahaan yang sudah daddy bangun dari nol hancur begitu saja. Aku punya tanggung jawab moral untuk melanjutkannya dad. Zafier kembali menatap sedih wajah sang daddy.


Aku punya beberapa pertemuan bisnis dengan para direktur di perusahaan cabang, termasuk di kota ini dad. Aku juga harus mengurus beberapa pertemuan terkait investasi ke beberapa perusahaan yang menurut pengamatanku memilih prospek yang bagus. Aku harap daddy senang, aku sudah memenuhi keinginan daddy untuk melanjutkan perusahaan ini, meski aku sadar ini sudah terlambat dad. Suara Zafier menjadi berat, terdesak perasaan bersalah.


Daddy tahu, kadangkala ada penyesalan dihatiku, kalau saja aku tahu bahwa semuanya akan terjadi. Sejak daddy memintaku untuk pulang dan dan meneruskan bisnis. Aku akan menerimanya dengan senang hati asalkan kejadian serupa ini tidak terjadi aku rela menebus segala kebebasanku dan segala usaha yang sudah aku bangun di luar negeri kalau saja aku tahu semua ini akan terjadi.


Maafkan aku dad. Aku merasa seperti seorang anak durhaka. Entah untuk ke berapa kalinya aku mengatakan ini dad, aku mohon bertahanlah dad. Aku akan lakukan apapun yang daddy inginkan, asalkan daddy dapat kembali pulih seperti sedia kala.


Zafier memandang sendu wajah sang daddy yang terbaring dengan mata tertutup rapat. Ia kembali menghela nafasnya berat, seolah helaan itu akan mampu sedikit meringankan beban yang menumpuk di otaknya.


Perhatian Zafier kemudian teralihkan ke arah ponsel yang dipegangnya. Tiba-tiba saja ada perasaan seperti merindukan seseorang. Kemudian ia membuka galeri ponsel, tangannya bergerak dengan lincah untuk menggulir foto satu persatu hingga ia menemukan foto seseorang yang dicarinya. ia menyentuh permukaan ponselnya dengan penuh perasaan. Ponsel itu memperlihatkan foto seorang gadis kecil yang beranjak remaja. Zafier tersenyum, ia menatap foto itu dengan sorot mata lembut.


Di saat pikiran Zafier kembali menerawang tentang ingatannya semalam. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Carlos tertera di sana. Zafier tidak menjawab telepon itu, melainkan segera berdiri dari kursinya. Ia berjalan keluar, dan berniat langsung menemui Carlos, karena ia tidak ingin pembicaraannya dapat mengganggu ketenangan sang daddy.


begitu ya sampai di luar ruangan rawat Kang Didi Javier melihat keberadaan Charles di tengah para pengawal yang sedang berjaga di sana melihat kehadiran Zafier di luar ruangan Charles bergegas berjalan menuju ke arah Zafier


"Maaf tuan muda, saya mengganggu tuan", ucap Carlos dengan sedikit menundukkan tubuh. Zafier tidak mengeluarkan suara, ia hanya mengangguk.

__ADS_1


"Maaf tuan muda, Karen memberikan informasi bahwa nona Sheza ingin meninggalkan mansion tuan Zaki. Zafier nampak berpikir, keningnya berkerut.


"Hmm....kenapa ia ingin meninggalkan mansion daddy? ", tanya Zafier.


"Maaf tuan. Karen tidak memberikan alasan lebih lanjut", jawab Carlos.


"Carlos, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu secara pribadi", ujar Zafier.


Mendengar ucapan Zafier, Carlos segera memahami situasi.


"Mari tuan muda, kita bisa menuju ruangan VIP di sebelah sana. Kebetulan ruangan itu memang disediakan untuk tuan muda agar tuan dapat beristirahat dengan lebih baik di sana", ajak Carlos.


Zafier terdiam ia ingat ketika pertama kali sampai di rumah sakit ini. Ganial pernah menawarkan kepadanya untuk beristirahat di salah satu ruangan VIP rumah sakit ini. Namun pada saat itu ia memang menolak mentah-mentah, karena ia hanya ingin berada di dekat sang daddy. Ia sendiri tidak pernah mengetahui dimana ruangan tersebut berada.


Zafier pun kemudian berjalan menuju arah yang ditunjuk oleh Carlos. Begitu mereka sampai di depan ruangan VIP tersebut, Carlos bergegas membuka pintu ruangan itu dan menutupnya kembali setelah mereka masuk. Mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu lebih seperti sebuah apartemen, mempunyai satu ruangan terbuka dengan beberapa sofa dan perabotan lainnya, serta satu tempat yang diberikan sekat berupa dinding dan pintu kaca layaknya sebuah kamar. Ruangan itu didominasi oleh cat berwarna putih.


"Mari duduk tuan muda", ujar Carlos memandu Zafier ke salah satu sofa. Ia sendiri tetap beridiri di depan Zafier.

__ADS_1


Zafier menegadahkan kepalanya menatap Carlos. "Kenapa kamu tidak duduk Carlos?", tanya Zafier aneh.


Carlos cuma tersenyum sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


__ADS_2