
Sheza sampai di mansion Tuan Zaki. Pintu gerbang besar dibuka pengawal berbadan tinggu besar yang ada di sana. Pengawal tersebut menunduk hormat pada Carlos.
Mobil terus melaju melewati halaman yang sangat luas.
"Siapa Carlos sebenarnya", pikir Sheza
"Aku pikir dia cuma sopir biasa, tapi kalau dia sopir biasa, tidak mungkin pengawal itu menunduk hormat padanya", batin Sheza lagi.
Mobil berhenti tepat di depan pintu mansion tersebut. Carlos membukakan pintu, Sheza turun perlahan. Pintu dibuka pelayan dari dalam.
"Nona, tuan Ganial sudah menunggu anda di ruang tengah", ucap pelayan tersebut menundukkan kepalanya.
"Ya tuhan, apa aku tidak bisa istirahat dulu", keluh Sheza pelan.
Walau kesal, Sheza tetap melangkahkan kaki menuju ruang tengah.
"Apa paman mencariku?", tanya Sheza lagi.
"Duduklah Sheza", ujar Ganial.
Sheza bergegas duduk tepat di depan sofa dimana Ganial duduk. Tak berapa lama datang pelayan membawakan minuman dan makanan ringan untuk mereka berdua.
"Kamu masih kuliah Sheza?"" tanya Ganial.
"Iya paman, aku kuliah sabtu dan minggu, sudah semester akhir, tahun ini aku wisuda", jawab Sheza lagi.
"Kamu ingat perjanjian kita?", tanya Ganial lagi.
* Lihat Episode "Tawar menawar dengan sebuah masa lalu"
"Aku masih ingat paman", jawab Sheza lagi.
"Sesuai perjanjian kita, maka aku akan mulai menggemblengmu", ujar Ganial.
"Menggembleng apa paman?", tanya Sheza bingung.
"Senin depan akan ada guru kepribadian, guru beberapa bahasa, guru bela diri, dan guru beberapa ketrampilan lain yang akan menggemblengmu. Setelah kamu wisuda, kamu akan melanjutkan kuliah master jurusan bisnis di EUR, Erasmus University Rotterdam", jelas Ganial panjang lebar.
"Tapi aku bekerja paman, bagaimana mungkin mempelajari itu semua?", tanya Sheza bingung
"Kamu tidak perlu bekerja Sheza, di mansion ini semua kebutuhanmu akan terpenuhi", jawab Ganial lagi.
__ADS_1
"Maaf paman, tapi aku tidak kau bergantung pada orang lain. Aku masih mampu bekerja, walau penghasilanku tidak besar", ujar Sheza lagi.
"Aku tidak bermaksud merendahkan pekerjaanmu Sheza, tapi bukankah kamu sudah menyetujui perjanjian kita. Anggaplah semua yang kamu lakukan adalah bentuk pekerjaan", ujar Ganial lagi.
"Mulai besok, kamu tidak usah bekerja lagi. Carlos yang akan mengurus surat pengunduran dirimu. Kuliahmu juga akan diurus Carlos, jadi kamu hanya perlu menunggu waktu wisuda saja", jelas Ganial lagi.
Sheza cuma menghela nafas, tidak bisa menolak.
"Orang kaya bisa mengurus segala sesuatu dengan mudah", ujar Sheza pelan, namun tak urung terdengar juga oleh telinga Ganial.
Ganial hanya tersenyum.
"Andai kamu tau kekayaan yang menjadi hakmu nona Sheza, Tuan Zaki hanya ingin kau digembleng hingga layak menjalankan itu semua. Berbagai ilmu harus kau kuasai untuk pertahanan dirimu, dan untuk menjalankan perusahaan peninggalan daddymu", batin Ganial lagi.
"Baiklah paman, apa yang menurutmu baik saja", ujar Sheza pasrah.
Dan hari-hari berat pun akan dimulai Sheza.
_______
Jadwal Sheza sangat padat setiap harinya.
Seperti pagi hari ini, hari pertama Sheza dimulai dengan les kepribadian. Guru privatnya adalah seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik, berpenampilan rapi ala wanita kantoran kuno. Rambutnya digulung ke atas, sebuah kacamata tebal bertengger dihidungnya yang mancung.
"Panggil saya miss Manda, nona. Saya seorang trainee di salah satu sekolah kepribadian ternama di kota P", begitu dia memperkenalkan diri.
Hari pertama Sheza mempelajari semua teori yang memusingkan dan membosankan baginya.
Materi pembelajaran dibagi atas materi kepribadian umum dan materi kepribadian dalam dunia profesional.
Materi kepribadian umum meliputi program yang cukup beragam. Beberapa di antaranya adalah ekspresi suara dan sikap tubuh, termasuk cara berdiri, cara duduk, cara memutar badan, hingga cara berjalan.
Ekspresi suara menjadi salah satu materi penting yang berguna untuk orang-orang yang masih malu atau tidak percaya diri saat berbicara atau presentasi di depan banyak orang. Sedangkan sikap tubuh berguna untuk memberikan kesan yang baik saat pertamakali bertemu dengan orang baru.
Tidak sampai situ saja, materi lainnya yang juga diajarkan terutama untuk para pekerja adalah etika berbisnis dan table manner. Table manner penting diajarkan untuk semua orang dan diperlukan setiap saat.
Table manner adalah tingkah laku kita di atas meja baik dengan keluarga dekat maupun rekan kerja. Table manner diperlukan setiap saat agar kita tahu paling tidak cara makan ala Inggris, Amerika, Jepang, atau China seperti apa.
Materi kepribadian profesional pada dasarnya menempatkan bahwa pembawaan diri sangat penting untuk diperhatikan. Sheza diajarkan banyak hal yang sering diterapkan sehari-hari, terutama cara bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, baik dalam kehidupan personal, relasi eksternal maupun dunia pekerjaan.
Sore harinya, Sheza belajar bela diri. Karena sudah punya dasar bela diri bekal dari gemblengan ayah dan kakak laki-lakinya, maka tidak terlalu sulit bagi Sheza untuk mengikuti.
Sesi latihan Sheza tak lepas dari pengamatan Ganial dan Carlos.
"Pantas saja pukulannya keras sekali, ternyata dia sudah punya dasar bela diri", gerutu Carlos.
__ADS_1
"Kenapa dia memukulmu", tanya Ganial.
"Dia marah karena aku lancang memanggil diq sayang dan aku tarik tangannya", terang Carlos tanpa sadar.
Seketika Ganial terkejut, selanjutnya dia menarik telinga Ganial ke arah tamam belakang.
Carlos pun menepuk mulutnya sendiri yang keceplosan.
"Aaww... ma... maaf paman, aku mengaku salah", ujar Carlos pelan karena takut menarik perhatian, padahal Ganial menghentak dan menarik telinga Carlos sekuat tenaganya. Meski sudah tidak muda lagi, Ganial juga menguasai beberapa ilmu bela diri, sehingga tenaganya lebih kuat dari orang biasa.
"Please paman, lepaskan dulu telingaku, aku punya alasan melakukannya", mohon Carlos lagi.
Sesampai di taman belakang, Ganial menghajar Carlos sejadi-jadinya. Carlos tidak melawan karena dia tau dia salah, dia hanya berusaha bertahan dan melindungi diri dari amukan Ganial. Untungnya karena faktor usia Ganial yang tidak muda lagi, pukulan dan tendangan Ganial tidak terlalu memberikan efek yang parah pada Carlos karena tubuhnya yang sudah terlatih
Carlos adalah penanggung jawab dan ketua tim keamanan yang dipercaya Zaki. Carlos memang telah terlatih dengan berbagai ilmu bela diri. Sebelumnya Carlos merupakan perwira yang tergabung dalam Denjaka. Dia ditugaskan oleh atasannya yang merupakan sahabat Zaki. Karena ingin lebih fokus pada tugas yang diberikan atasannya Carlos memutuskan mundur dari angkatan dan memilih untuk mengabdikan diri pada Zaki, selain itu juga karena gajinya yang terbilang fantastis.
Setelah kelelahan memukuli Carlos, akhirnya Ganial menghentikan aksinya sambil terengah-engah.
"Sekarang jelaskan alasanmu", hardik Ganial lagi.
"Waktu itu nona Sheza bertemu seorang laki-laki, paman. Cara laki-laki itu memandang nona sangat berbeda, sepertinya dia menyukai nona. Oleh karena itu, aku memanggilnya sayang dan menarik tangannya, supaya laki-laki itu mengira aku adalah kekasih atau suaminya, paman"' jelas Carlos panjang lebar.
Sejenak Ganial terdiam.
"Aku bisa menerima alasanmu untuk kali ini saja, jangan sampai kau ulangi lagi, kau tau apa yang terjadi kalau tuan sampai tau", hardik Ganial lagi.
"Siap paman, tidak akan ada kedua kalinya", janji Carlos
"Dan kau jangan coba-coba menyimpan rasa pada nona, kau tau identitasnya kan", ancam Ganial lagi.
"Apa begitu terlihat jelas di wajahku paman, sampai paman menuduhku begitu", tanya Carlos tanpa berani menatap mata Ganial.
"Aku sudah tua Carlos, aku tidak bisa kau bohongi, pandangan matamu terlihat jelas kau sangat mengaguminya", hardik Ganial lagi.
"Ya ampun paman, antara kagum dan cinta itu berbeda paman", sangkal Carlos lagi.
"Makanya aku ingatkan posisi nona, agar rasa kagum itu berhenti cukup sampai di sana saja, jangan sampai berkembang menjadi cinta", jelas Ganial lagi.
"Siap, paman", ujar Carlos menunduk hormat pada Ganial.
"Aku mohon tolong gantikan tugasku dengan yang lain saja paman", mohon Carlos. Carlos takut tidak bisa mengontrol hatinya jika selalu berdekatan dengan Sheza.
Ganial yang paham betul bagaimana naik turunnya emosi laki-laki muda, mengerti akan kondisi yang Carlos hadapi. Untuk itu Ganial langsung menyetujui permintaan Carlos.
"Baiklah, kau utus saja satu anak buah perempuanmu yang bisa mengemudi dan bisa bela diri", jawab Ganial lagi.
__ADS_1
"Siap paman", jawab Carlos.