
Akhirnya pertemuan bisnis yang dilakukan Zafier dengan salah seorang klien yang berasal dari negera matahari terbit, berakhir dengan kesepakatan untuk bekerja sama dalam sebuah mega proyek di kota P. Setelah masing-masing asisten mengurus administrasi awal mereka. Meeting dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang telah tersedia di meja yang lain. Netra Zafier hanya memperhatikan orang-orang yang nampak sibuk menikmati hidangan dalam ruangan VVIP itu. Ia nampak duduk dengan tenang, seolah tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Yaa ... Zafier sebenarnya merasa gelisah sedari tadi, namun wajahnya yang tanpa ekspresi dapat menyembunyikan itu semua. Zafier belum bisa bernafas lega. Pikirannya masih dipenuhi dengan kekhawatiran terhadap kondisi Sheza. Entah kenapa sejak mengetahui situasi yang sedang dihadapi Sheza, sejak tadi pikirannya hanya dipenuhi tentang bagaimana kondisi Sheza saat ini. Meski Juan dan Carlos dapat diandalkan dalam kondisi seperti ini. Namun ia belum tenang jika belum mengetahui bagaimana kondisi terakhir Sheza. Selama hampir dua jam Zafier benar-benar tersiksa dengan pikirannya, ia tidak mungkin bertanya lebih lanjut pada Carlos dalam situasi meeting yang sedang berlangsung. Walaupun ia merasa bahwa kondisi Sheza tak kalah penting dengan meeting yang sedang dilakukannya ini, tapi Zafier merasa sebagai sorang pebisnis ia harus profesional dalam berbagai situasi
Ia melirik Carlos yang berada tepat di sampingnya dengan tatapan tajam. Carlos nampak sedang makan dengan tenang. Sementara dirinya benar-benar kehilangan selera makan. Tak satupun makanan dapat menggugah seleranya.
Bisa-bisanya ia makan dengan tenang, sementara aku kehilangan selera makan, kesal Zafier. Ia kembali menatap Carlos dengan pandangan yang sangat tajam. Namun orang yang ditatap masih makan dengan santai, belum menyadarinya sama sekali.
Rasa penasaran untuk mengetahui kondisi Sheza saat ini terus menerus memenuhi otaknya. Namun ego dan rasa gengsi menahannya untuk bertanya lebih lanjut pada Carlos. Zafier terus menimbang-nimbang, apakah ia akan bertanya atau tidak pada Carlos.
Aargh, persetan dengan rasa gengsi ini, batin Zafier frustasi. Tapi ... Bukankah hal yang wajar jika aku mengkhawatirkan calon istri daddyku sendiri, Zafier bermonolog. Lagi-lagi ... mencari pembenaran atas kekhawatiran yang dirasakannya saat ini. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia peduli pada Sheza, namun kepeduliannya bukanlah sebagai seorang calon anak sambung. Jika saja calon istri ayahnya bukanlah Sheza Apakah Javier akan sepeduli ini? Entahlah....
Zafier masih sibuk berperang dengan batinnya. Ia hanya terdiam, kembali tenggelam dalam pikirannya, sementara netranya nampak terpaku pada hidangan di depannya.
Semua itu tidak lepas dari pengamatan tajam seorang Yoshihide.
__ADS_1
"Hmm ... Anda sendiri tidak makan tuan Safaraz?", tanya Yoshihide sambil terus menikmati hidangannya. Ia memang sudah fasih berbahasa Indonesia. Indonesia seperti rumah kedua baginya. Ia terbiasa bolak balik ke Indonesia untuk mengurus bisnisnya yang cukup banyak di Indonesia.
Sejurus kemudian tuan Yoshihide berhenti makan. Ia meletakkan alat makannya, netranya menatap Zafier lekat. Ia kembali bertanya, "Sedari tadi anda hanya menatap hidangan saja. Apa ada sesuatu yang mengganggu anda tuan Safaraz?", Yoshihide tidak mampu menahan rasa penasarannya.
Pertanyaan Yoshihide sedikir mengalihkan perhatian Zafier. Lamunannya seketika buyar.
"Saya ingin anda mencicipi semua hidangan ini tuan Yoshidihe. Saya yakin di negara Anda tidak ada menu hidangan seperti ini. Saya sendiri menetap di kota ini, kapanpun saya menginginkannya, saya akan mendapatkannya dengan mudah. Sementara anda dengan segala kesibukan, saya yakin anda tidak akan punya waktu banyak untuk kembali menikmati hidangan ini di tempat ini", ujar Zafier datar. Ia berusaha menutupi rasa penasaran rekan bisnisnya.
"Oo, kalau begitu terima kasih atas kepedulian Anda tuan Safaras. By the way, bagaimana kalau akhir pekan ini saya undang anda makan malam bersama untuk merayakan kerjasama kita tuan Safaraz?", tanya tuan Yoshihide penuh harap.
Pertanyaan tuan Yoshihide kembali membuyarkan lamunan Zafier. Ia mengalihkan pandangannya menatap tuan Yoshihide. Ia sebenarnya ingin menolak, namun rasanya tidak sopan mengecewakan rekan bisnisnya. Apalagi ini adalah kerjasama pertama mereka dalam sebuah mega proyek.
"Baiklah tuan Safaraz, senang bisa bekerjasama dengan anda, saya sudah mendengar nama besar Safaraz Corp di dunia bisnis. Semoga mega proyek kerjasama kita dapat berjalan lancar. Asisten saya akan menghubungi asisten anda untuk menginformasikan jadwal dan lokasi undangan saya", ujar tuan Yoshihide, setelah berbicara kemudian ia berdiri dari kursinya, begitu juga dengan Zafier, mereka saling berjabat tangan.
"Sama-sama tuan Yoshihide, semoga kerjasama kita ini dapat sukses dan berjalan lancar", ujar Zafier.
__ADS_1
Tuan Yoshihide melakukan ojigi, yakni budaya membungkukkan badan bagi orang Jepang. Hal dilakukan untuk melakukan penghormatan bagi orang lain. Zafier pun melakukan hal yang sama.
Selanjutnya tuan Yoshihide bersama dengan para asistennya berjalan menuju pintu ruang meeting dan mereka pun menghilang di balik pintu itu.
Sepeninggal tuan Yoshihide, Javier kembali duduk di sofa. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa itu.
Pikirannya kembali pada kondisi Sheza. Daripada didera rasa pusing yang berlarut-larut karena beban pikiran ini, akhirnya Zafier memutuskan bahwa ia akan bertanya langsung pada Carlos. Zafier menarik nafasnya kemudian menghembuskannya perlahan. Seolah ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk menanyakan sesuatu yang sangat sakral. Ia kembali menatap Carlos yang kembali duduk tepat di sampingnya, dengan tajam.
Carlos yang ditetap seperti itu menjadi gugup. Aura sang tuan muda begitu mengintimidasi. Dia merasa seperti seorang pesakitan yang sedang di sidang
"Carlos, bagaimana kondisi nona Sheza?", tanya Zafier dengan ekspresi dibuat sedatar mungkin. Zafier benar-benar bisa menyembunyikan ekspresinya.
Carlos sedikit tertegun, ia nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia berusaha memastikan kalau telinganya tidak salah dengar. Dahinya mengernyit. Ia merasa sedikit aneh, sejak kapan tuan mudanya yang acuh dan dingin ini peduli pada Sheza. Eh, tapi tunggu dulu, bukannya tadi pagi kepedulian itu sudah terbangun.
"Kenapa kau malah diam dan tidak menjawab pertanyaanku Carlos? ", tanya Zafier masih dengan ekspresi datar. Ia merasa sedikit aneh dengan diamnya Carlos.
__ADS_1
Carlos terkejut. "Ma-maaf tuan. Saya hanya merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan tuan. Saya sudah menghubungi Karen tuan. Mereka tidak akan pergi tanpa kita, mereka akan menunggu kita, tuan", jawab Carlos berusaha tenang.
"Kenapa harus terkejut Carlos? Bukankah hal yang lumrah kalau aku mengkhawatirkan calon istri ayahku?" Zafier balik bertanya dengan nada dingin. Tatapannya tajam, penuh aura mengintimidasi, Carlos merasa sesak. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap netra abu-abu sang tuan muda.