
Bandara kota J sore itu tampak sangat ramai dan padat. Sheza sampai di bandara satu jam lebih awal dari jadwal keberangkatannya. Ia dan Karen bergegas turun dari kendaraan yang mengantar mereka. Mereka berjalan beriringan, di belakang mereka supir Ruben nampak membawa koper mereka.
Mereka berhenti tepat di pintu masuk bandara.Sheza meminta kopernya dari supir Ruben. Sheza beralih menatap Ruben. Ia ingat semua pertolongan yang sudah dilakukan Ruben, meski semua atas perintah bosnya, Zafier.
Sebenarnya Sheza sangat ingin menanyakan keberadaan bos Ruben, kenapa ia tidak ikut mengantarnya. Tapi rasa gengsi lebih mendominasi perasaannya.
"Terima kasih Ruben atas semua pertolonganmu selama ini", ucap Sheza tulus, ia tersenyum pada Ruben.
Ruben menatap wajah Sheza, ia juga tersenyum sekilas kemudian kembali menundukkan kepalanya.
"Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah dari tuan Zafier", ujar Ruben.
Sheza terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa, tapi pada akhirnya ia berkata, "Hmm ya.....tolong sampaikan terima kasihku pada tuan Chastelein".
"Siap nona, tuan pasti sangat senang mendengarnya", ujar Ruben sambil membungkukkan badan penuh hormat. Ruben pun kemudian pamit untuk meninggalkan bandara.
Selanjutnya mereka pun berpisah. Sheza nampak berjalan di ikuti Karen sambil menyeret kopernya. Sheza tertunduk lesu mengamati jalan yang dilaluinya.
Mereka terus berjalan sampai mereka memasuki ruang tunggu bandara. Mereka lewati pemeriksaan demi pemeriksaan dengan lancar.
Setibanya di dalam ruang tunggu, Sheza menempati kursi di sudut bandara. Ia menatap orang-orang yang sibuk beraktivitas di ruang tunggu, masih ada sedikitnya tanda tanya di hatinya kenapa Zafier tidak kunjung datang, bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.
Sedih? Sudah pasti itu yang dirasakan Sheza.
Sheza terus larut dalam pikirannya sendiri, hingga ia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata tajam bak mata elang, yang mengamatinya dari sudut yang berbeda. Mata dingin yang menyiratkan kerinduan. Mata itu tak lepas barang sedetik pun dari wajah Sheza, ia seolah takut jika ia berkedip maka sosok Sheza akan hilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian panggilan untuk penumpang pesawat yang akan di tumpangi Sheza sudah terdengar.
Sheza beranjak berdiri dan bersiap-siap menarik kopernya. Tiba-tiba tanpa alasan punggungnya terasa panas, refleks Sheza menoleh ke belakang.
Sekilas ia melihat siluet pria yang menatap ke arahnya, sosok itu tampak tak asing baginya Namun karena ia fokus akan menaiki pesawat, pandangan Sheza pun beralih ke depan. Ia mengabaikan keingintahuannya tentang siapa pria pemilik siluet itu.
Sheza dan Karen pun bersiap-siap memasuki pesawat. Sheza menghembuskan nafasnya dengan kasar, akhirnya ia akan berangkat meninggalkan kota J, meninggalkan semua kenangan yang pernah ada di kota ini. Sheza menarik kopernya dengan lesu.
Sementara di sudut yang berbeda sepasang mata tajam itupun tertunduk lesu, setelah ia mendapati Sheza hilang dari jangkauan pandangan matanya. Semua telah berakhir, gumamnya pelan.
Akhirnya Sheza menaiki pesawat yang akan membawa mereka kembali ke kota P. Sepanjang perjalanan Sheza lebih banyak diam. Ia hanya menatap sendu awan-awan di luar sana melalui jendela di sampingnya. Sementara Karen sudah terlelap sedari tadi.
Lebih kurang satu jam tiga puluh menit akhirnya pesawat yang membawa Sheza dan Karen sampai di kota P.
Tiba-tiba saja, ponsel salah satu anak buah Zaki berdering keras. Ia bergegas mengambil ponsel dari dalam kantongnya, berbicara sejenak kemudian kembali memasukkan ponsel itu ke dalam kantongnya.
"Maaf Nona Sheza, Paman Ganial tadi baru saja menghubungi saya. Tuan Zaki ingin bertemu dengan nona. Saat ini tuan sedang dalam perjalanan dari Singapura ke kota J, kita diminta menunggu di suatu tempat. Begitu pesawat yang Tuan Zaki sampai di kota J, ia akan langsung menemui nona Karena setelah ini akan langsung bertolak ke kota J untuk mengurus beberapa bisnisnya di sana serta untuk menemui putranya", ujar anak buah Zaki.
Sheza terdiam. Misinya akan segera dimulai.
"Baiklah silakan antar kami ke sana", ujar Sheza lembut.
Sementara itu, wajah Karen nampak pucat. Ia ingat semua kecerobohan yang telah dilakukannya di kota J. Ia sudah membayangkan berbagai hukuman atas kecerobohannya itu. Tuan Zaki pastinya tidak akan memaafkannya dengan mudah atas kecerobohannya dalam menjaga Sheza.
Karen nampak gelisah. Semua tingkah laku Karen tidak lepas dari pengamatan Sheza.
__ADS_1
"Karen ada apa denganmu? Kenapa kamu begitu gelisah?", tanya Sheza penuh selidik.
Di tengah keheranan Sheza, Karin hanya terdiam, tapi tatapan matanya penuh penyesalan.
"Nona maafkan kesalahan saya", jawabnya pelan, nyaris tidak terdengar. Karen hanya menundukkan kepalanya dalam.
Sheza menjadi semakin heran, "Kamu minta maaf untuk apa Karen?", tanya Sheza.
"Saya minta maaf atas kecerobohan saya di kota J yang menyebabkan nona menjadi terluka. Saya sangat malu, saya sangat takut bertemu dengan paman Ganial dan terutama tuan Zaki", jawab Karen lagi.
"Sudahlah Karen itu semua bukan kesalahan mu paman Ganial dan daddy Zaky pasti bisa memahaminya", ujar Sheza baru saja menenangkan Karen. "Ayolah, semua akan baik-baik saja".
Keren menjadi sedikit tenang.
Selang beberapa menit kemudian mereka memasuki sebuah parkiran restoran termewah di Pusat kota P, Platinum Grill Resto.
Platinum Grill adalah resto termewah di kota P. Resto dengan desain interior serba mewah serta berbagai fasilitas luar biasa menyediakan berbagai jenis makanan, baik makanan tradisional sampai pada makanan luar negeri. Chef yang mereka pakai untuk mengolah makanan di sana juga bukan chef sembarangan. Umumnya chef-chef itu sudah mempunyai sertifikasi internasional.
Begitu mereka sampai di resto tersebut, mereka bergegas turun dari kendaraan. Di pintu masuk resto seorang Porter sudah menunggu mereka.
"Selamat malam nona Sheza, mari saya antar ke ruangan yang sudah direservasi oleh tuan Zaki", ujar si porter, dan selanjutnya si porter mengantarkan mereka ke salah satu private room resto.
Karen menolak untuk tidak ikut masuk ke private room. Ia tahu diri di mana posisinya. Sheza yang sudah memahami situasi, kemudian memutuskan masuk seorang diri ke private room resto
Sheza memasuki private room resto dengan sangat bersemangat. Ia ingin mengucapkan terima kasih atas segala fasilitas yang disediakan daddy Zaki untuknya. Dia sangat senang bisa bertemu dengan sang kakak setelah sekian lama. Tanpa kebaikan daddy Zaki, ia sadar entah kapan ia bisa bertemu dengan sang kakak. Ia juga berniat membujuk daddy Zaki untuk memberi Karen kesempatan. Ia menjelaskan bahwa semua yang menimpanya juga bukan kesalahan Karen. Sheza duduk di dalam private room dan menunggu dengan sabar kedatangan daddy Zaki.
__ADS_1