
Pagi menjelang siang. Terik matahari sudah terasa sangat menyengat kulit. Perlahan kendaraan Ruben yang membawa Sheza dan Karen meninggalkan parkiran klinik Sarana Medika, tempat dimana selama ini Sheza dirawat, tempat dimana selama beberapa hari ini Sheza menghabiskan waktunya bersama Zafier.
Ketika kendaraan mulai melewati pagar dan plang nama klinik, mata Sheza masih terus menatap bangunan klinik itu. Ia seolah tidak rela ketika kemudian bangunan klinik itu perlahan-lahan menghilang dari pandangan matanya.
Seiring menghilangnya klinik itu dari jangkauan matanya, Sheza merasa seolah kehilangan kenangannya bersama Zafier di sana. Kenangan itu telah tertinggal juga di sana.
Sheza meluruskan tubuhnya kembali. Ia menghela nafasnya dengan berat. Seberat rasa yang menghimpitnya saat ini. Di sepanjang perjalanan menuju hotel dimana ia menginap, Sheza larut dengan pikirannya. Mengenang kembali moment-moment kebersamaan mereka. Moment ketika Zafier menyuapinya dengan telaten, sementara mata mereka saling berpandangan. Sheza memegang dadanya sendiri, getaran itu masih terasa jelas.
Beberapa saat kemudian, kendaraan yang membawa Sheza memasuki halaman hotel. Sheza dan Karen bergegas turun begitu kendaraan itu berhenti di depan pintu masuk hotel. Seorang porter menyambut mereka dengan senyum ramah. Sheza hanya menganggukkan kepalanya. Bahkan untuk tersenyum saja begitu berat rasanya bagi Sheza.
Sheza masuk ke lobby hotel dengan tergesa-gesa. Karen mengikutinya dari belakang. Begitu sampai di lobby hotel, Sheza mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lobby, mengamati setiap sudutnya. Ia berharap menemukan sosok itu tengah duduk menantinya di sana. Tapi harapannya tidak sesuai realita yang ada. Ia tidak menemukannya di lobby Hotel itu.
"Nona silahkan ke kamar lebih dahulu, saya akan mengurus semua urusan di sini, kita akan check out dari hotel hari ini", ujar Karen. Sheza hanya mengangguk, sementara matanya fokus menatap setiap sudut ruangan. Suaranya tidak terdengar sedikitpun.
Puas mengamati semua sudut tanpa hasil, Sheza pun berjalan dengan gontai menuju lift. Ia memasuki lift dengan tertunduk lesu. Sheza tau Zafier juga menginap di hotel yang sama dengannya. Sheza berpikir mungkin saja saat ini Zafier sedang beristirahat di kamarnya.
Sheza berharap tanpa sengaja ia akan menemukan sosok itu di dalam lift yang dinaikinya. Setiap kali lift berhenti pada setiap lantai, ia menatap penuh harap saat pintu lift terbuka. Ia berharap sosok itu akan masuk dari depan sana. Tapi sampai pada lantai dimana ia menginap, harapan hanya tinggal harapannya saja. Lagi-lagi ia tidak bertemu sosok itu.
Akhirnya Sheza sampai di depan pintu kamarnya. Ia memasuki kamar hotelnya. Sheza kemudian
__ADS_1
duduk di salah satu sofa di ruang tamu. Entah kenapa ia menjadi begitu tidak bersemangat seperti semangatnya ketika mendengar dokter berkata bahwa ia sudah pulih dan sudah boleh pulang.
Sheza hanya terdiam di sofa itu. Ia hanya memperhatikan ketika Karen masuk dan membereskan semua barang-barang mereka yang ada di dalam kamar masing-masing.
Sheza berjalan menuju ke arah jendela hotel, ia menyibak gorden besar yang menutupi jendela kaca hotel itu dan tersajilah pemandangan Kota J yang luar biasa. Sejenak ia memperhatikan lalu-lalang kendaraan di bawah sana. Cukup lama ia termenung di sana, meski pandangannya ke arah jendela tapi pikirannya menerawang jauh.
Karen telah menyelesaikan semua aktivitasnya. Semua barang telah rapi di dalam koper masing-masing. Karen hanya memperhatikan setiap tingkah laku Sheza. Kemudian Karen melirik jam yang berada di pergelangan tangannya.
"Nona sudah saatnya kita harus berangkat ke bandara, Ruben telah menunggu kita di bawah" ujar Karen lembut. Ucapan Karen membuyarkan semua lamunan Sheza.
Sheza menatap Karen tanpa ekspresi. Sejenak ia mengerutkan dahinya, tapi kemudian memilih mengangguk saja. Ia menutup kembali tirai jendela perlahan. Ia melangkah keluar diikuti oleh Karen dengan membawa semua barang-barang mereka.
"Maaf nona, Ruben memaksa untuk mengantar kita ke bandara. Saya merasa tidak enak menolak kebaikan mereka nona, jadi saya terpaksa menerima keinginan mereka untuk mengantarkan kita ke bandara", jelas Karen. Meski Sheza tidak bertanya apapun, tapi Karen merasa kerutan di dahi Sheza tadi adalah mempertanyakan kenapa Ruben yang mengantarkan mereka.
Mendengar suara Sheza, Karen menatap Sheza senang. Ia merasa sangat lega.
"Syukurlah akhirnya nona bersuara, dari tadi saya sangat cemas. Apa nona merasa sakit? Bagaimana dengan luka nona?", tanya Karen, kecemasan tergambar jelas di wajahnya.
Pandangan mata saja beralih ke wajah Karen, "aku tidak apa-apa Karen. Aku sehat-sehat saja, lukaku juga sudah mulai sembuh", jawab sheza, ia memaksakan diri untuk tersenyum, senyum itu terlihat begitu kaku.
__ADS_1
"Syukurlah nona!", ujar Karen lega.
Akhirnya lift yang membawa mereka turun, sampai di lobby hotel. Di sana ternyata Ruben telah menunggu. Sheza kembali mengamati sekeliling lobby hotel, setiap sudut tidak luput dari pandangan mata hazelnya. Dan untuk kesekian kakinya Sheza kecewa, sosok itu tidak datang.
Mata Sheza kemudian menatap Ruben, ia tersenyum pada Ruben. Sebuah senyuman yang benar-benar membekukan dunia Ruben. Ruben terdiam kaku menatap senyum Sheza cukup lama.
"Ruben kau tidak apa-apa? ", tanya Sheza lembut. Ia merasa aneh dengan respon Ruben. Sheza melambaikan tangannya di depan wajah Ruben.
Ruben tersadar, "aku tidak apa-apa nona", wajahnya memerah karena malu.
"Kenapa wajahmu merah? Apa kamu demam?", tanya Sheza lagi khawatir, karena selama ini Ruben sudah sangat baik padanya.
Ruben bertambah malu. "Sa-saya hanya kepanasan di luar tadi nona, terima kasih atas perhatiannya", ujar Ruben menunduk, ia tidak berani lagi menatap mata Sheza.
Sang sopir yang berdiri di belakang Ruben, memperhatikan semua adegan tadi. Ia benar-benar tidak dapat menahan tawanya. Ruben langsung melirik sadis pada sang sopir. Matanya melotot kesal. Sang sopir sendiri mengedipkan salah satu matanya. Sambil melewati Ruben untuk mengambil barang-barang Sheza, ia berbisik pelan pada Ruben, jangan sampai Tuan Javier mengetahuinya, diiringi dengan senyum mengejek sang sopir.
Ruben langsung terdiam. Ia bergidik ngeri mengingat ucapan sang sopir. "Mati aku jika tuan Zafier sampai tau", gumamnya pelan.
Sheza hanya memperhatikan semua adegan di depan matanya dengan tersenyum. Tapi entah kenapa, ia masih saja tetap memperhatikan setiap sudut lobby hotel. Berharap tiba-tiba sosok yang dicarinya ada di sana. Tapi semua hanya tinggal harapan Sheza semata. Zafier tidak datang. Sheza nampak kecewa, tapi ia berusaha menyembunyikannya.
__ADS_1
Sudahlah mungkin memang harus berakhir seperti ini, batin Sheza perih.
Sopir kemudian membawa semua barang-barang Sheza dan Karen. Kemudian mereka berdua mengikuti Ruben dan sang sopir menuju kendaraannya.