My Little Gwen

My Little Gwen
Sudah puas menatapku nona?


__ADS_3

Sheza menunggu Seif dengan Sabar. Menunggu beberapa menit bukan masalah besar baginya, toh selama ini ia telah menunggu selama berbulan-bulan tanpa kepastian untuk dapat bertemu dengan sang kakak.


Sheza sudah larut dalam lamunannya, ingatannya kembali pada masa kecilnya bersama Seif, adegan demi adegan seolah diputar satu persatu di ingatannya. Tapi dari dulu sebenarnya Sheza agak merasa aneh, karena ingatan demi ingatan yang muncul di otaknya hanyalah penggalan peristiwa ketika dia sudah cukup besar. Sheza tidak bisa mengingat masa-masa kecilnya. Tapi bagi Sheza itu bukanlah hal yang terlalu penting baginya. Ia tidak mau pusing memikirkan hal tersebut.


Tak terasa 20 menit sudah berlalu, Sheza benar-benar bersabar untuk menunggu, namun matanya tak henti menatap pintu masuk, berharap kakaknya, Seif, tiba-tiba muncul di sana.


Dan benar saja, matanya menangkap seseorang yang masuk dengan tergesa-gesa di pintu masuk. Sheza tau betul sosok itu, sosok tinggi berkulit sawo matang, postur tubuhnya atletis, wajah tampan sang kakak dengan senyum yang selalu menghiasi bibir penuhnya. Sosok seorang kakak yang dirindukannya. Rasanya Sheza ingin sekali berteriak dan mengejar sang kakak di pintu masuk itu. Tapi karena Sheza tau dimana ia berada, Sheza terpaksa menahan diri.


Sheza menunggu Seif mendekat dengan sabar. Begitu Seif tepat berada di depannya, Seif merentangkan kedua tangannya, tanpa banyak berpikir Sheza langsung memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan lagi.


Seif tersenyum melihat tingkah adiknya. Ia balik memeluk erat tubuh sang adik. Ia pun kemudian mengusap dan mencium kepala sang adik dengan lembut. Cukup lama mereka saling berpelukan melepas rindu. Orang yang tidak mengenal mereka akan berpikir kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sudah lama terpisah dan baru saja bertemu kembali.


Mereka berdua tidak mengetahui ada dua pasang mata yang mengamati semua tingkah laku mereka. Satu pasang mata memandang normal, satu pasang lagi dengan pandangan membunuh.


Sheza dan Seif saling bertukar cerita tentang banyak hal. Tapi sepertinya mereka berdua tidak terbuka terhadap satu sama lain.


Seif sepertinya banyak menyimpan rahasia tentang bagaimana ia bertemu dengan Zaki dan hubungannya dengan Zaki saat ini.


Sementara Sheza sendiri tidak menceritakan secara detail hubungannya dengan Zaki saat ini.


Tak terasa sudah 30 menit mereka berbincang-bincang. Kalau Seif tidak ingat harus kembali bekerja, maka ia tidak akan peduli berapa. lama ia bertemu Sheza.


"She, kakak masih belum puas bertemu dan berbincang denganmu, tapi kakak harus kembali bekerja", ujar Seif berat.

__ADS_1


"Aku paham kakak, aku masih di kota J seminggu ke depan, kita masih waktu untuk bertemu kak", ujar Sheza lagi.


Setelah saling bertukar alamat masing-masing, Dengan berat hati Sheza dan Seif terpaksa harus mengakhiri pertemuan mereka. Mereka berjanji untuk bertemu kembali selama Sheza masih di kota J.


Kemudian mereka berdua sama-sama berdiri dari kursinya, hendak beranjak ke luar, ketika tiba-tiba seseorang menabrak Seif dengan sangat kuat. Untungnya Seif adalah seseorang yang menguasai ilmu bela diri, sehingga ia mampu menguasai dirinya sehingga tidak sampai terjatuh.


"HAI.... KAMUUUU", teriak Sheza


Terdengar hardikan Sheza. Seif menahan lengan Sheza yang berniat mengejar orang itu.


Seif terdiam, ia hanya menatap bagian belakang tubuh orang yang menabraknya. Seif tau kota J kota besar, resto dimana ia makan juga bukan resto biasa. Orang-orang yang biasa menghabiskan waktu di sini bukanlah orang-orang sembarangan, untuk itu Seif tidak berani memperpanjang urusan di sini.


"Sudah She, biarkan saja", ujar Seif lembut.


"Nona tidak apa-apa? ", tanya Karen khawatir. Tiba-tina saja Karen sudah berada di belakang Sheza.


"Aku tidak apa-apa Karen, kakakku yang ditabrak orang tidak sopan tadi", tukas Sheza dengan wajah cemberut. "Aku ingin sekali mengejarnya agar ia minta maaf pada kakak, tapi kakak malah melarangku", lanjut Sheza kesal.


"Sudahlah She, kakak tidak apa-apa", ujar Seif menenangkan Sheza.


"Oiya kak, ini temanku Karen", Sheza memperkenalkan Karen pada Seif.


" Seif", ujarnya tersenyum sambil menjabat tangan Karen, sementara Karen masih dengan wajah dingin tanpa ekspresinya.

__ADS_1


Seif memperhatikan Karen. Karen cukup cantik meski terkesan tomboi, ia mengenakan celana hitam dan jaket hitam. Rambutnya pendek, tubuhnya atletis, posturnya menandakan ia ahli bela diri. Melihat emblem yang melekat di pakaian Karen. Seif tau Karen bukan teman sembarangan, Karen adalah anak buah tuan Zaki, batin Seif.


"Nona, mari kita kita kembali.ke hotel, aku sudah menyelesaikan tagihan", ujar Karen pendek.


Kemudian mereka bergegas keluar dari resto. Seif kembali dengan kendaraannya sendiri, ia akan kembali bekerja. Sementara Sheza dan Karen kembali ke hotel.


Dalam perjalanan, Karen bisa mengetahui ada yang membututi mereka mulai dari resto, tapi karena ia tau yang membututi mereka adalah orang-orang tuan Zafier, Karen memilih diam saja, dan merahasiakannya dari Sheza.


Karen menginformasikan semuanya kepada Ganial. Ganial memerintahkannya agar membiarkan orang-orang Zafier mengetahui siapa Sheza dari pengamatan luar saja, karena seluruh info tentang Sheza sudah dilindungi dan tidak bisa diakses siapapun.


"Kau tau Karen, rasa-rasanya aku begitu familar dengan orang yang menabrak kakak tadi, meski aku melihatnya dari belakang, tapi aku lupa bertemu dimana", ujar Sheza mencoba mengingat.


Karen menahan nafas khawatir. Bisa gawat kalau nona Sheza mengetahui kalau tuan Zafier yang menabraknya, bisa-bisa ia langsung melabrak Zafier di hotel, karena mereka satu hotel.


"Mungkin itu hanya perasaan nona saja", Karen berusaha menenangkan Sheza. Sheza hanya menatap Karen.


Akhirnya kendaraan yang membawa Sheza memasuki parkiran hotel. Sheza memasuki pintu masuk hotel lebih dahulu, Karen memang sengaja menjaga jarak. Sheza yang tidak menyadari Karen cukup tertinggal jauh di belakang, terus saja berjalan menuju lift.


Matanya hanya terpaku pada ponsel yang berada di tangannya. Ia nampak sibuk menulis pesan, hingga ia tidak menyadari sesosok pria dengan tubuh tinggi dan atletis tepat berada di depannya, pria itu tidak beranjak, ia diam saja di jalur jalan yang akan dilalui Sheza. Dan seperti yang sudah diperkirakan si pria, Sheza menabrak pria itu dengan cukup kuat. Si pria tidak bergeming, namun Sheza yang sedang tidak dalam kondisi siap hampir saja jatuh, jika sepasang tangah kokoh itu tidak menahan pinggangnya dengan kuat.


Untuk beberapa saat keduanya terdiam pada posisi ambigu tersebut. Mata mereka saling bertatapan cukup lama. Sheza seolah terhipnotis pada mata itu, ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah tampan dengan sorot mata dingin itu. Ia benar-benar dibuat terpana. Sampai kemudian si pria bicara dengan santai.


"Sudah puas menatapku nona? Tubuh anda cukup berat", ujarnya sambil tersenyum. Sheza pun tersadar.

__ADS_1


__ADS_2