
A B Restourant.
Disinilah Arsen berada saat ini. Sebuah resto termewah di kota J. Ia memenuhi janjinya untuk mengajak Zafier bertemu. Ia memilih saat makan siang.
Kedatangan arsen bertepatan juga dengan kedatangan Zavier. Mereka kebetulan bertemu di area parkiran. Mereka bersalaman kemudian memasuki pintu masuk Resto secara bersamaan.
Seorang porter resto menyambut mereka, mengantar mereka ke ruangan VIP. Kali ini mereka memilih ruang VIP yang dikelilingi oleh kaca transparan jadi dari ruangan itu mereka tetap bisa mengamati kondisi di sekitarnya. Mereka merasa pembicaraan kali ini hanya pembicaraan santai, jadi tidak perlu berada di ruangan yang tertutup.
Tak berapa lama pelayan resto menghidangkan pesanan mereka. Berbagai menu yang sangat menggugah selera telah tertata rapi di atas meja.
Mereka menikmati hidangan sambil berbincang santai tentang hal pribadi dan tentang perkembangan perusahaan masing-masing.
"Aku baru saja berinvestasi pada perusahaan Surya Darmawangsa. Kau kenal mereka kan Arsen?", tanya Zafier sambil menikmati menu yang tersaji.
"Hmm....ya. Apa si tua Surya tidak menawarkan anaknya padamu?", tanya Arsen dengan senyum mengejek. Zafier menatap Arsen penuh tanda tanya. Dahinya berkerut.
"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya menebak", Arsen tertawa. "Siapa yang tidak tau siapa Surya, ia pengusaha yang cukup diperhitungkan di kota ini. Prospek usahanya cukup bagus ke depannya. Sayangnya ia suka menghalalkan segala macam cara. Orang-orangmu harus benar-benar mengawasi proyek kalian kali ini. Selain itu, kabar baiknya, menurut penerawanganku, kau sudah masuk daftar calon menantu idamannya, hahaha", tawa Arsen semakin keras. Untungnya ruangan mereka cukup meredam suara, sehingga tawa Arsen tidak begitu mengganggu pengunjung yang lain.
Zafier menatap kesal pada Arsen. "Haish...Aku tidak menyangka kau masih punya nyali untuk mengejekku".
"Hahaha... maafkan aku tuan Zafier", ujar Arsen masih tersenyum mengejek.
"Hmm....tapi tebakanmu benar. Ia membawa anaknya pada pertemuan bisnis pertama kami. Dari matanya, aku menangkap makna lain dari niatnya mempertemukan kami. Walau begitu, wanita itu jelas-jelas bukan tipeku", keluh Zafier. "Ia benar-benar tipikal wanita penggoda, bagiku wanita seperti itu membuatku sakit kepala saja. Sungguh memuakkan sekali", ujar Zafier, ekspresinya jijik.
"Sebagai sahabat aku hanya bisa berpesan agar kau hati-hati. Pria tampan sepertimu dengan usaha dan kekayaan berlimpah pastilah menjadi incaran semua wanita, tak terkecuali Sherly Darmawangsa. Jika Sherly sudah menentukan targetnya, maka sama seperti ayahnya. Ia akan menggunakan berbagai macam cara untuk memilikimu", papar Arsen, kali ini wajahnya sangat serius.
__ADS_1
Mendengar ucapan Arsen, Zafier meringis. Semua wanita mengincarku? Aku cuma ingin satu wanita saja, Shezan. Jangankan mengincarku, tertarik saja tidak, Zafier mengeluh dalam hati, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, ada kegalauan dalam raut wajahnya.
Perubahan yang terjadi pada Zafier tidak luput dari perhatian Arsen.
"Heeey, kom op (Belanda: ayolah) bro.... kenapa wajahmu se galau ini", Arsen tertawa mengejek. " Sherly bukanlah apa-apa, jangan sampai wanita macam itu mengacaukan hidupmu. Kalau kau perlu bantuan menanganinya, hubungi saja aku. Jangankan cuma wanita seperti dia, perusahaan ayahnya bisa kita hajar bersama-sama", ujar Arsen penuh emosi.
Seketika Zafier melongo. Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya Arsen mengira dirinya takut pada Sherly Darmawangsa.
"Siapa yang takut pada wanita itu? ", tanya Zafier bingung. "Aku tidak bilang takut kan?".
Arsen menatap wajah Zafier. "Tapi kenapa wajahmu berubah jadi jelek begitu, seperti wajah orang putus asa dan galau menghadapi kenyataan", ujar Arsen dengan mimik dibuat-buat.
Zafier tertawa. "Aissh... kau ini salah sangka Arsen, ada hal lain yang sedang aku pikirkan tadi".
Arsen menatap Zafier ingin tau. Tapi Zafier tidak berniat menjelaskan lebih lanjut maksud kata-katanya tadi.
"Apa hubungan Stefano Darmawangsa dengan Surya Darmawangsa? ", tanya Zafier lagi penasaran.
Arsen terkejut atas pertanyaan Zafier, tapi tak urung ia tetap menjawab pertanyaan Zafier. "Stefano anak haram Surya dengan wanita lain. Surya hanya punya satu anak perempuan. Ia sangat ingin punya anak laki-laki. Oleh sebab itu ia sangat senang ketika ia tau punya anak laki-laki dengan wanita simpanannya dulu. Ia baru menemukan Stefano ketika Stefano beranjak remaja. Ia sangat menyayangi dan memanjakan Stefano. Dan kau taulah bagaimana sifat seseorang ketika tiba-tiba ia mendadak jadi orang kaya. Ia bertingkah semaunya. Apapun yang diinginkannya harus jadi miliknya. Kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang Surya. Ia suka mabuk-mabukkan dan bermain perempuan. Ia merasa semua wanita bisa menjadi miliknya. Ia benar-benar paket komplit yang bisa dicap sebagai pria brengsek", jelas Arsen dengan berapi-api.
Zafier mengamati perubahan emosi di wajah Arsen.
"Hei.... hei kenapa kau emosi sekali? Apa wanitamu pernah menjadi korbannya", tuduh Zafier menyelidik.
Bola matq Arsen memdelik mendenfar tuduhan Zafier. "Bukan wanitaku, tapi adik salah seorang asistenku. Stefano mengincar wanita itu, dan bodohnya wanita itu tergiur harta Stefano, wanita itu dijebak hingga ia menyerahkan tubuhnya pada Stefano. Kemudian wanita itu hamil namun Stefano tidak mau mengakui bahwa anak itu adalah anaknya. Menurutnya jika wanita itu bersedia tidur dengannya, maka bisa jadi ia tidur juga dengan pria lain", papar Arsen.
__ADS_1
"Lalu bagaimana akhirnya? ", tanya Zafier.
"Adik asistenku bunuh diri di usia yang masih sangat belia. Asistenku nyaris akan membunuh Stefano jika aku tidak menahannya. Aku pastikan padanya kalau suatu saat ia bisa membalas kejahatan Stefano", ujar Arsen penuh dendam.
"Benar-benar pria yang harus dilenyapkan dari muka bumi", ujar Zafier. Ia ingat kembali bagaimana Stefano memaksa Sheza dengan menarik tangannya. Saat itu ia sangat ingin mematahkan tangan pria itu. Hanya saja, saat itu respon Stefano hanya diam saja, jadi ia pun tidak mau memperpanjang masalah.
"Oh ya, bagaimana kau mengenal Stefano, Zafier? Apa ia mencari masalah denganmu?", Arsen menatap Zafier minta penjelasan.
"Bukan masalah besar Arsen", ujar Zafier menenangkan Arsen.
Sementara itu, Sheza yang hari ini kembali memiliki janji makan siang dengan sang kakak di A B Restourant, telah sampai di area parkir resto.
Seperti biasa, Sheza bersama Karen. Namun Karen memilih untuk memberikan Sheza privasi untuk bertemu sang kakak.
Sheza bergegas memasuki resto. Di depan pintu masuk, seorang porter telah menyambutnya. Ia di antar sang porter ke meja yang telah direservasi sebelumnya.
Sheza tau ia akan lebih dahulu datang, karena sang kakak Seif harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Sheza hanya memesan minuman saja sembari menunggu kedatangan sang kakak. Sheza asyik memainkan ponsel untuk membunuh rasa jenuhnya.
Arsen dan Zafier masih asyik berbincang santai sambil menikmati berbagai hidangan di depan mereka, sampai suatu ketika mata Arsen tertuju pada satu sosok di meja luar ruang VIP. Tepat di belakang Zafier yang duduk di depannya. Dinding ruangan yang terbuat dari kaca transparan memang memungkinkan Arsen mengamati kondisi di luar ruangan.
Arsen merasa sosok itu sangat tidak asing baginya. Arsen kembali memperhatikan dengan lebih fokus sosok wanita tersebut.
__ADS_1
Seketika Arsen menganga. Arsen ingat siapa sosok itu. Sosok yang selama ini dicari dan dirindukannya, tapi kemudian seperti menghilang di telan bumi.
"Di.... dia...!!", Arsen tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Arsen seperti orang kesurupan. Matanya melotot, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Zafier. Zafier terkejut sekaligus bingung melihat tingkah Arsen.