
"Fier... Fier...!", teriakan seorang gadis kecil menggema di ruangan itu. Ia sibuk mengejar seorang pria kecil yang tertawa senang menggodanya. Kaki kecilnya terus berlari mengiringi langkah kaki pria kecil itu.
"Fier, berhentilah, Gwen capek, kembalikan barbie Gwen, Fier", pintanya memohon.
"Boleh, kalau Gwen bisa menyusul Fier", usil pria kecil itu.
" Fier...", rajuk si gadis kecil.
"Oke.... oke Fier kembalikan tapi cium ya", pintanya. Senyuman licik terbit di wajah tampan si pria kecil.
"Tidak mau, kata mommy bukan muhrim, daddy bilang gak boleh cium laki-laki sembarangan, cuma boleh cium daddy ", tolak gadis kecil itu kesal, netra hazelnya melotot marah. Namun jangankan menakutkan, wajah gadis kecil itu terlihat imut. Mungkin itulah yang menyebabkan si pria kecil betah sekali mengusili gadis kecil itu.
"Iish, anak kecil tau muhrim pula", sungut pria kecil itu tak kalah kesal.
"Tapi demi barbie, Gwen akan lakukan, Fier tutup mata dulu", pintanya lembut, ia memilih mengalah, asalkan barbienya kembali.
Pria kecil itu mulai menutup matanya, sementara si gadis kecil berjalan perlahan meraih seekor kucing anggora gendut berbulu tebal. Kucing itu nampak pasrah dalam gendongannya. Gwen kemudian memegang kepala kucing itu dan mengarahkan serta menempelkan bibir kucing itu ke pipi si pria kecil.
__ADS_1
Karena merasa ciuman si gadis kecil agak aneh, pria kecil itu pun membuka matanya. Ia bukan main kaget ketika melihat seekor kucing gendut tepat di depannya. Si gadis kecil tak kalah kaget, karena rencananya ketahuan. Gadis kecil itu segera melepas kucingnya, merebut barbienya yang berada di tangan pria kecil itu, dan kemudian kabur mencari sang mommy, mencari perlindungan sambil tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai si pria kecil.
"Gweeeeen", teriak pria kecil itu mengamuk. Namun tak mampu berbuat apa-apa, selain melotot pada si gadis kecil.
Detik berikutnya, Sheza merasa dirinya berpindah tempat. Yaa ... Hanya dalam hitungan detik Sheza sudah berada di lokasi yang berbeda.
Ia tengah berada di jalanan yang sepi. Ia tidak tahu dimana ia berada saat ini. Dari lokasi dimana ia berdiri, ia bisa melihat jika jalanan itu diapit tebing terjal di sebelah kanan, sementara di bagian kiri jalan itu terdapat jurang yang cukup dalam.
Sebuah mobil meluncur dari arah belakang Sheza, mobil itu nampak berjalan stabil melewati jalur sebelah kiri yang berbatasan dengan jurang.
Sheza dikejutkan dengan sebuah truk yang bergerak cepat dari arah depan. Sepertinya truk itu kelebihan muatan, karena mulai berjalan tidak stabil. Awalnya truk itu berjalan kencang di jalur sebelah kanan. Tapi perlahan truk itu berjalan tidak seimbang.
Ia hanya bisa melihat ketika truk yang kelebihan muatan itu mengambil semua jalan lawannya yang ada di jalur sebelah kiri.
Entah kenapa mobil kecil itu tidak segera menekan rem, karena sudah melihat truk yang berjalan tidak terkendali ke arahnya dari jarak yang cukup jauh sebelumnya. Kenapa sopirnya tidak segera menginjak rem? Apa rem mobilnya blong?, pikir Sheza. Jarak semakin terkikis antara mobil dan truk itu. Setelah nyaris bertabrakan, mobil itu memilih membanting stir ke arah kiri untuk menghindari tabrakan dengan truk besar itu.
Mobil itu menabrak pembatas jalan sebelah kiri. Kuatnya tekanan dari mobil itu membuat pembatas jalan tidak mampu menahan mobil. Pembatas jalan terlepas dan tanpa bisa dihindari mobil itu meluncur dengan cepat ke dalam jurang yang dalam.
__ADS_1
Sheza sangat terkejut, ia terdiam beberapa detik sampai kemudian menyadari apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Ia segera berlari menuju pembatas jalan. Menatap ke arah jurang yang dalam. Bingung harus melakukan apa.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba tubuh Sheza sudah berada di dasar jurang itu. Sheza mengamati lokasi di mana ia berada saat ini. Sampai kemudian ia melihat sebuah mobil tergeletak cukup jauh di depan sana. Mobil itu tampaknya mengalami kerusakan yang sangat parah.
Beberapa saat kemudian ia melihat seorang pria perlahan keluar dari bagian kemudi mobil. Dahi pria itu nampak berdarah. Awalnya pria itu sedikit oleng, ia berdiri sejenak berpegangan pada mobil. Setelah mampu menguasai diri, baru ia dapat berdiri tegak. Ia berjalan ke arah pintu belakang.
Pria itu perlahan membuka pintu belakang mobil yang agak macet karena benturan. Begitu pintu belakang mobil terbuka wajahnya nampak berubah pias, kesedihan tergambar jelas pada ekspresi pria itu. Kemudian bagian kepalanya melongok ke dalam mobil. Mungkin memeriksa korban lain yang berada di bagian belakang. Tak Berapa lama ia berdiri kembali, namun di dalam gendongannya kini sudah ada seorang anak kecil. Anak kecil itu sepertinya seorang perempuan terlihat dari gaun yang dikenakannya. Anak itu berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bagian kepala anak itu mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sepertinya luka anak itu lebih parah dari luka yang diderita oleh si pria.
Penasaran. Tanpa sadar Sheza berjalan mendekati mobil itu. Setelah berada lebih dekat. Sheza bisa melihat wajah si pria dan anak itu lebih jelas. Meski berlumuran darah, wajah anak yang berada dalam gendongan pria itu mengingatkan Sheza pada seseorang.
Yaaa ... Sheza bisa melihat wajah anak itu mirip dengan gadis kecil yang ia lihat sebelumnya. Gadis kecil yang memanggil dirinya Gwen.
Kemudian netra Sheza beralih ke wajah si pria. Begitu netranya menatap wajah si pria, Sheza terbelalak. Ia terdiam beberapa saat, sampai kemudian menyadari sesuatu. Wajah yang amat sangat dikenalnya. Wajah yang dulu selalu mengurusnya, menyayanginya dengan tulus. Wajah pria yang membesarkannya sepenuh hati. Yang belakangan ia ketahui sebagai ayah angkatnya.
Sheza pasti tau betul siapa pria itu. Sheza berteriak-teriak memanggil sosok yang sedang menggendong anak kecil itu.
"Ayah! Ayah! Ini she ayah", teriaknya berderai air mata. Ia begitu merindukan sosok itu. Sosok yang meninggalkannya tanpa memberi penjelasan latar belakang dirinya, siapa orangtua kandungnya.
__ADS_1
Tapi sosok yang Sheza panggil tidak bergeming sama sekali. Seolah panggilan Sheza hanyalah angin lalu. Atau ia memang tidak menyadari atau tidak melihat keberadaan Sheza di tempat itu.
Yaa ... sosok itu adalah Arshaka, ayah yang begitu tulus menyayangi dan membesarkannya melebihi anak kandungnya sendiri. Arshaka memang lebih memanjakan Sheza dibanding Seif, sang kakak laki-laki yang notabene adalah anak kandung Arshaka. Sheza sendiri pun sudah menganggapnya seperti ayah kandungnya sendiri hingga saat ini.