
Di atas ranjang, sosok cantik Sheza masih terbaring tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian dr. Niko sudah memasuki kamar dimana Sheza berada. Dr. Niko membawa semua perlengkapan medisnya. Dr. Niko langsung menuju ranjang Sheza. Ia nampak bersemangat, mengingat tujuannya dipanggil adalah untuk melakukan pemeriksaan langsung pada sosok cantik yang dipertanyakannya tadi.
Saat ini dr. Niko tengah berada tepat di depan sosok cantik Sheza. Jika pada saat Zafier membawa Sheza pertama kali ke dalam kamar ini, ia tidak bisa melihat secara jelas sosok cantik ini. Sekarang ia bisa melihat dan menikmati wajah cantik Sheza sepuasnya. Tanpa sadar, dr. Niko terus menatap intens sosok yang terbaring di ranjang itu. Netranya nyaris tak berkedip menatap Sheza.
Sementara itu, semua tingkah dr. Niko tidak luput dari perhatian Zafier. Zafier berdiri bersebrangan dengan dr. Niko. Ia berdiri di sisi lain ranjang, kedua tangannya berada di saku celana. Ia mengamati semua gerak-gerik dr. Niko dengan tatapan tajam dan aura mengintimidasi.
Ia mendengus melihat bagaimana dr. Niko yang begitu terpesona menatap Sheza. Memang hal yang wajar bagi seorang pria untuk jatuh hati pada kecantikan seorang wanita. Namun entah kenapa ia merasa enggan melihat pria lain terpesona pada Sheza. Itu pasti karena Sheza adalah calon ibu sambungku. Adalah suatu hal yang wajar jika aku harus melindungi calon istri daddy, karena saat ini daddy tidak bisa langsung menjaga calon istrinya, batin Zafier. Untuk kesekian kalinya berusaha mencari pembenaran dari tindakannya.
Begitu menyadari bahwa netra dr. Niko tidak juga kunjung beralih dari sosok Sheza, Zafier mulai merasa terganggu. "Berhenti menatapnya Niko, aku tidak memintamu ke sini untuk menatapnya", desis Zafier dengan dingin.
Dr. Niko yang tersadar, segera berdehem. Ia menggosok tangannya beberapa kali, berusaha menghilangkan rasa canggung yang menerpa dirinya. "Ayolah! Jangan marah Zafier, aku hanya sedang mengagumi keindahan ciptaan yang maha kuasa, yang ada di depanku", ujar dr. Niko acuh. Namun netranya tidak berani menatap langsung netra Zafier. Dirinya sibuk mempersiapkan peralatan yang akan ia gunakan untuk melakukan pemeriksaan pada Sheza.
Ketika dr. Niko mulai melakukan pemeriksaan pada Sheza. Sebuah interupsi dari suara bariton yang berat dan dalam terdengar dari arah bersebrangan dengannya. Seketika netra dr. Niko beralih ke si empunya suara.
__ADS_1
"Oleta, kamu bantu dr. Niko memeriksa Sheza", ujar orang yang tak lain adalah Zafier. Suaranya terdengar datar, namun sarat perintah.
Dr. Niko menghela nafas berat. Rasanya ingin sekali mengeluarkan sumpah serapah pada sosok pria tampan yang berada di seberangnya itu, detik ini juga. Seseorang yang berani mengintervensi pekerjaan seorang dokter, padahal pria itu sendiri yang menginginkan kehadirannya untuk memeriksa Sheza. Sungguh, rasanya dr. Niko ingin sekali segera angkat kaki dari ruangan itu. Namun apa daya, dr. Niko sungguh tak berdaya, selain hanya bisa pasrah menerima kesewenang-wenangan Zafier.
Ketika dr. Niko memeriksa Sheza, ia merasa seperti di bawah tekanan. Tatapan tajam Zafier benar-benar membuat ia merasa terintimidasi, padahal Zafier sendiri tidak melakukan apa-apa. Dr. Niko harus memastikan bahwa ia sama sekali tidak menyentuh kulit Sheza sedikitpun. Segala hal yang berkaitan dengan pemeriksaan langsung pada tubuh Sheza dilakukan oleh Oleta.
Akhirnya dr. Niko bisa bernafas lega, setelah ia selesai memeriksa Sheza. Dr. Niko merasa seperti memeriksa seseorang di medan perang yang berisiko sewaktu-waktu dapat diserang oleh musuh. Zafier adalah musuhnya itu. Musuh ya sewaktu-waktu dapat meledakkan jantungnya, jika ia menyentuh kulit Sheza sedikit saja.
Keringat nampak mengucur deras di keningnya, padahal ruangan itu dilengkapi dengan AC. Memeriksa Sheza di bawah tekanan Zafier benar-benar mengurus energinya. Dokter itu tidak bisa mengabaikan tekanan itu.
"Ya Tuhan...Ada apa dengan anda tuan Niko? Apa A/anda baik-baik saja? Kenapa keringat anda deras sekali tuan Niko?", tanya Oleta spontan begitu ia menatap wajah dr. Niko. Wajahnya tampak cemas.
Merasa diabaikan Oleta kembali bertanya "Tuan ... tuan, anda tidak apa-apa? Kenapa anda hanya diam saja?". Wajahnya tidak kalah cemas dari pertanyaan pertamanya tadi
Dr. Niko menatap Oleta tajam. "Bukan urusanmu!", jawabnya pendek dan terdengar kasar. Ia berharap jawabannya kali ini dapat membungkam mulut wanita itu.
__ADS_1
Mendengar jawaban dr. Niko yang sedikit kasar Olera tertunduk. Didalam hati ia bertanya-tanya, apakah ada bagian dari ucapannya tadi yang menyinggung perasaan dr. Niko. Ia kemudian diam dan berusaha mengintrospeksi dirinya.
Tidak lagi mendapatkan pertanyaan dari Oleta, dr. Niko kembali fokus pada kondisi Sheza. Netranya beralih menatap sosok tampan yang masih berdiri kokoh di seberang ranjang.
"Saat ini nona Sheza sudah stabil Zafier. Tekanan darah, tekanan jantung dan nadinya normal. Sepertinya nona Sheza mengalami semacam tekanan psikologi karena sesuatu hal. Aku hanya bisa melakukan observasi lebih lanjut apabila ia telah sadar nanti. Saat ini aku hanya bisa memberikan obat-obat untuk meredakan nyeri dan antidepressan. Kau harus pastikan ia beristirahat. Sebaiknya ada yang menjaganya di sini selama 24 jam", jelas dr. Niko serius.
Netra Zafier hanya menatap dr. Nico tajam, kemudian beralih pada Sheza yang terbaring lemah di ranjang.
"Aku sangat bisa diandalkan untuk menjaga, jika kau lupa. Aku akan dengan senang hati menjaga nona cantik ini", goda dr. Niko. Zafier hanya menatap dr. Niko datar, kemudian ia memutar bola matanya malas.
Selanjutnya netra Zafier beralih pada Karen. "Karen kau berjaga di sini selama 24 jam. Aku tidak mengizinkan kau untuk tidur", perintah Zafier tegas, lagi-lagi dengan aura mengintimidasi.
"Baik tuan muda", jawab Karen seraya membungkukkan tubuhnya.
Sebenarnya aku sudah terjaga saat tadi anda masuk ke dalam kamar, tuan muda Zafier. Saya hanya berpura-pura tidur, saya hanya tidak ingin mengganggu tuan muda. Saya menyaksikan apa yang tuan lakukan di balkon. Saya bisa menatap pandangan mendamba pada netra anda tuan muda, bisik karen dalam hati. Ia masih sayang nyawanya, bisa gawat kalau menjelaskan itu semua pada tuan muda di depannya.
__ADS_1
Selanjutnya semua orang yang berada di dalam kamar itu pun meninggalkan kamar kecuali Karen yang sudah didaulat Zavier untuk menjaga Sheza selama 24 jam penuh.
Sepeninggal semua orang, Karen mendekati ranjang Sheza. Ia duduk di dekat kaki. "Nona maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya menyaksikan tuan muda Zafier di dekatmu. Aku benar-benar tidak berani untuk mengganggu tuan muda Zafier. Aku bingung harus bagaimana nona. Mungkin yang terbaik bagiku hanya tetap mulut. Aku bisa melihat pandangan mendamba pada mu dari tamu muda Zafier nona, monolog Karen pada dirinya sendiri.