My Little Gwen

My Little Gwen
Perasaan Carlos


__ADS_3

Di kamar mandi. Setelah selesai membersihkan wajahnya, Sheza bergegas keluar dari kamar mandi untuk melihat kembali kondisi Zaki. Ia membuka pintu kamar mandi perlahan.


Begitu pintu kamar mandi terbuka, Sheza mendengar suara seseorang sedang berbicara di luar. Kening Sheza berkerut, hatinya bertanya-tanya siapa yang tengah berbicara pada daddy Zaki. Ia mengintip dari dalam kamar mandi melalui pintu kamar mandi yang sedikit ia buka. Ia bisa melihat seorang pria sedang duduk di sebelah daddy Zaki. Sheza tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, karena posisi pria itu yang membelakangi Sheza. Pria itu terlihat serius berbicara pada daddy Zaki, sama halnya seperti dirinya yang sering mengajak daddy Zaki untuk berbicara. Sepertinya pria ini juga sedang berusaha untuk menstimulasi kesadaran daddy Zaki dengan mengajaknya bercerita. Meski hanya melihat pria itu dari belakang, tapi insting Sheza mengatakan kalau pria itu adalah putra satu-satunya daddy Zaki. Sheza tidak ingin mengganggu keintiman antara ayah dan anak itu. Sheza pun perlahan-lahan keluar dari kamar mandi. Ia berjalan sangat pelan menuju pintu keluar yang saat itu memang sedang terbuka. Sepertinya pria itu lupa untuk menutup pintu kembali ketika ia masuk tadi.


Zafier yang sedang fokus berbicara dengan sang daddy, sama sekali tidak menyadari seseorang yang menyelinap keluar di belakangnya.


Sesampainya di luar kamar, Sheza menghela nafas lega. Ia bersyukur kehadirannya tadi tidak sampai mengganggu ayah dan anak itu. Sejenak Sheza mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia berusaha mencari keberadaan Karen. Tapi pandangan mata Sheza justru tertuju pada seorang pria yang sedang bersandar di dinding lorong. Ia merasa mengenal pria tersebut, namun Sheza ragu karena jaraknya yang cukup jauh. Perlahan ia berjalan mendekati sosok pria tersebut. Pria yang ia tatap, nampak sedang asyik menatap ponselnya. Semakin dekat semakin Sheza yakin siapa pria itu. Tepat ketika berada di depan pria itu, Sheza nyaris berteriak, "CARLOS", panggilnya.


Carlos tersentak kaget. Ia menatap sosok yang berada tepat di depannya. Matanya tak bisa berpaling dari wanita yang memanggilnya. Wanita yang sempat terus membayanginya setelah ia pergi. Wanita itu masih secantik dulu, kulit putih halus, terawat dan terlihat bersinar. Rambut hitam kecoklatannya nampak terayun terkena angin malam. Apalagi mata hazelnya yang indah dan memikat, kecantikan itu benar-benar nyata di depannya sekarang.


Carlos terpana melihat wanita yang berada tepat di depannya. Seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Wanita itu memiringkan kepalanya dan mengembangkan senyumnya yang menawan. Mata coklat berwarna hazel itu begitu tajam menghunus jantung Carlos. Seketika Carlos tercekat, jantungnya berdetak cepat, oksigen serasa lenyap dari paru-parunya. Wajah Carlos memerah.


Ya tuhan, lindungi jantungku, batin Carlos memegang dadanya sendiri. Masih secantik dulu, gumam Carlos dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Egh... Ehmm...No...nona.... Saya", Carlos menjadi gugup seketika, hingga tak mampu meneruskan kata-katanya.


Sheza mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan tingkah Carlos. Tapi sejurus kemudian ia tersenyum pada Carlos. Matanya menatap wajah Sheza lekat. Carlos sungguh terkesima dengan senyuman wanita yang berada di hadapannya. Senyum itu benar-benar mengalihkan dunia Carlos.


Mata Carlos kembali berbinar. Ada kerinduan mendalam dalam tatapannya. Rasanya ingin sekali ia memeluk sosok wanita yang ada di depannya itu, tapi ia sadar akan identitas dirinya.


Tiba-tiba Carlos merasa jantungnya semakin berdebar kencang, ia memegang dadanya kembali, seolah sedang berusaha untuk menetralkan kembali debaran jantungnya.


"Carlos, ada apa denganmu? ", tanya Sheza lembut. "Wajahmu pun nampak memerah. Apa kau sedang sakit?", tanya Sheza sambil terus memperhatikan wajah Carlos. Carlos merasa wajahnya memanas ditatap seperti itu oleh wanita yang telah lama dirindukannya.


"Jangan panggil aku nona, panggil Sheza seperti biasa kau memanggilku. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana dengan kabarmu Carlos? Aku selalu menanyakan bagaimana kabarmu pada Karen, tapi ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Kau menghilang begitu saja dari perusahaan, aku jadi merasa bersalah. Apa kau dihukum karena memberikan aku akses untuk menghubungi kakakku. Maafkan aku Carlos". Sheza berbicara panjang lebar. Penyesalan nampak jelas di wajahnya.


Carlos bukan menjawab tapi ia malah terpesona. Pandangan Carlos begitu fokus pada bibir mungil Sheza yang mencecarnya. Bibir itu......Rasanya ia ingin sekali....ah sudahlah, batin Carlos, ia memukul kepalanya sendiri. Menyadarkan diri dari pikiran liarnya sendiri.

__ADS_1


Sheza terdiam melihat Carlos tidak mengatakan apa-apa. Carlos hanya menatapnya saja. Sheza kemudian mengayunkan tangannya di depan wajah Carlos untuk menyadarkan Carlos.


"Carlos ada apa denganmu", tanya Sheza lagi cemas.


Carlos tersentak. "Ehmm.. Sa.. Saya tidak apa-apa nona Sheza", ujar Carlos berusaha tersenyum untum mencairkan kegugupannya.


"Iiish, sudah kubilang panggil Sheza saja", ujar Sheza melotot kesal. "Carlos, kondisi daddy Zaki sudah stabil sekarang. Ayo temani aku ke cafe rumah sakit ini, aku merasa sangat lapar", ujar Sheza sambil menarik tangan Carlos. Carlos terperangah mulutnya seolah terkunci tidak mampu berkata-kata.Ia hanya mengikuti Sheza dengan pasrah. Makanya menatap Ganial yang berada tak jauh dari sana. Ganial hanya mengangguk. Ia tau kondisi Charles karena tidak mungkin menolak permintaan Sheza, lagi pula Carlos juga bisa diandalkan untuk melindungi Sheza.


Karen yang dari tadi memperhatikan reaksi Carlos terhadap Sheza, cuma bisa memukul keningnya sendiri.


Sambil menarik Carlos, Sheza berjalan ke arah Karen. Setelah dekat, Sheza pun ikut menarik Karen yang berpapasan dengannya. Karen pun dengan setia mengikuti. Sementara James yang tidak pernah bertemu Sheza, hanya mengerutkan keningnya melihat Carlos begitu pasrah ditarik oleh wanita itu. James tau betul siapa dan bagaimana Carlos karena mereka dibesarkan bersama.


Begitu mereka bertiga sampai di kafe rumah sakit, Sheza memesan beberapa makanan yang diinginkannya. Begitu juga dengan Carlos dan Karen.

__ADS_1


Carlos masih tidak berpaling dari tatapannya kepada Sheza. Ia masih dalam mode tatapan intens pada Sheza. Semua tingkah Carlos itu tidak lepas dari perhatian Karen. Tiba-tiba saja Karen menendang pelan kaki Carlos. Seketika Carlos sadar, ia langsung menatap tajam pada Karen, tapi sejurus kemudian ia terdiam, tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia paham Karen sedang memperingatkannya, mengingatkan posisinya.


Sheza makan dengan lahap perasaannya sedikit membaik karena kondisi Zaki juga sudah mulai stabil. Sambil makan, Sheza tampak bercerita pada Carlos dan Karen tentang kondisi Zaki. Sepanjang ia bercerita, pandangan Carlos tidak lepas dari wajah Sheza. Karen yang memahami tatapan mata Carlos, hanya geleng-geleng kepala sekaligus menatap iba pada Carlos. Sementara Sheza tampak santai, karena ia tidak mengerti pada tatapan mata Carlos yang mendamba dirinya.


__ADS_2