My Little Gwen

My Little Gwen
Panggil aku, daddy!!


__ADS_3

Hari ini situasi perusahaan Zaki dimana Sheza bekerja, terlihat berbeda. Zaki sang CEO sedang berada di kantor. Zaki memang memiliki jadwal yang sangat padat, karena ia sedang mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Zaki sangat jarang berada di kota P. Segala urusan perusahaan banyak diwakilkan pada Carlos dan Ganial.


Setelah melakukan meeting dengan para petinggi perusahaan, Zaki nampak sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas meja di ruang kerjanya. Ganial dengan setia menemaninya.


"Gani, bisa kau kosongkan jadwalku ke luar negeri dalam 3 bulan ini, jika harus terpaksa, cukup untuk jadwal dalam negeri saja. Anak itu pulang juga akhirnya", ujar Zaki bernafas lega.


"Aku ingin menghabiskan waktu dengannya, membayar waktu-waktu yang hilang bersamanya dulu, di saat ia membutuhkanku. Aku tau ini sudah terlambat Gani, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku salah Gani, pelarianku karena kehilangan Alexa adalah dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan. Aku menjadi orang yang gila kerja. Aku melupakan putraku satu-satunya yang sedang membutuhkanku", mata Zaki menerawang, terlihat jelas rasa bersalah di wajahnya.


"Aku egois Gani. Aku bersyukur anakmu Gavin mendampinginya dengan baik. Aku bersyukur Zafier tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk. Andai waktu bisa diulang kembali, aku akan tebus semua waktuku bersama Zafier, Gani. Tapi itu hal yang sangat mustahil", sesal Zaki.


"Jangan terlalu berlarut-larut dalam penyesalan tuan, semua yang tuan lakukan adalah demi tuan muda Zafier juga", ujar Ganial mencoba menenangkan Zaki.


"Dia tidak butuh semua ini Gani. Dia sudah memiliki semuanya", ujar Zaki.


"Belum semuanya tuan, dia belum memiliki Gwennya", ujar Ganial.


"Kau benar Gani, semoga apa yang kulakukan ini dapat menebus semua kesalahanku di masa lalu", ujar Zaki penuh harap.


"Bagaimana dengan jadwalku?", tanya Zaki.


"Saya bisa atur untuk 2 bulan ke depan tuan, tapi untuk 3 bulan, saya rasa agak sulit tuan, tapi tetap akan saya usahakan", ujar Ganial.


"Bagaimana dengan rencana kita dengan Sheza? Apa dia bisa diajak kerjasama?", tanya Zaki lagi.


"Bisa kau panggil dia untukku? Aku akan bicara serius dengannya", ujar Zaki.


"Baiklah tuan saya akan minta Carlos memanggilnya. Karena kalau diminta langsung menghadap tuan, pasti akan menimbulkan kecurigaan bagi yang lain, tuan", ujar Ganial.


"Siapa yang berani mencurigaiku Gani? Apa mereka sudah bosan hidup", ujar Zaki dengan nada kesal.


"Mana ada yang berani mencurigai tuan", jawab Ganial sadar akan ucapannya yang keliru.

__ADS_1


"Hanya saja tuan pernah mengatakan, kalau Sheza harus bekerja layaknya staf biasa agar dia mulai belajar dari bawah, agar dia merasakan perjuangan demi perjuangan dalam bekerja, agar membentuk mental dan kepribadian menjadi kuat dan mampu bertahan dalam segala situasi dan kondisi. Rasanya sangat aneh jika seorang staf biasa kemudian dipanggil langsung oleh tuan. Hal itu akan menimbulkan kecurigaan tentang Sheza. Pada akhirnya Sheza akan diistimewakan pegawai karena dianggap sebagai staf yang punya kedudukan khusus", jelas Ganial lagi.


Zaki mengangguk-angguk sebagai tanda dia paham dengan penjelasan Ganial.


Selanjutnya Ganial pun menghubungi Carlos untuk segera memanggil Sheza.


Sheza tampak sibuk di ruangan kerjanya. Karen duduk tak jauh dari posisi Sheza. Karen tampak serius menerima panggilan dari seseorang lewat ponselnya. Sheza yang sedang sibuk, tidak terlalu memperhatikan Karen.


Setelah panggilan dari ponselnya berakhir, Karen berdiri mendekati Sheza, dan membisikkan sesuatu.


"Sheza, tuan Zaki memanggilmu, tapi agar tidak mencurigakan, dia meminta Carlos mewakilinya untuk memanggilmu. Sebentar lagi asisten Carlos akan mencarimu kesini, untuk meminta izin pada bos kita", bisik Karen.


Dalam lingkup kantor, Karen memang menghilangkan panggilan nona agar tidak terdengar mencurigakan bagi orang lain. Sementara di luar kantor, Karen tetap memanggil nona meski telah berulang kali Sheza meminta agar menghilangkan kata nona pada panggilannya.


Sejenak Sheza menyimak ucapan Karen. Keningnya berkerut. 'Ada apa tuan Zaki mencariku, apa ada kesalahan kerja yang aku lakukan', pikir Sheza lagi. Ada rasa takut didalam dirinya. Kesan pertemuan pertama dengan Zaki yang terkesan dingin dan tidak bersahabat meninggalkan trauma tersendiri.


Tak berapa lama, sesuai ucapan Karen, asisten Carlos menjemputnya. Sheza mengikuti asisten tersebut. Selanjutnya Sheza dibawa ke arah lift khusus. Lift terus naik, tidak berhenti di lantai dimana ruangan Carlos berada. Lift berhenti di lantai paling tinggu dimana ruangan CEO berada. Sheza dipersilahkan keluar lift, selanjutnya asisten Carlos mengantarkan Sheza menuju ruangan CEO.


Mereka berdua berhenti di depan ruangan sekretaris Zaki. Setelah berbicara dengan sekretaris Zaki, asisten Carlos meninggalkan Sheza di sana. Selanjutnya Sheza diantarkan sekretaris tersebut ke ruangan CEO.


"Selamat siang Sheza, duduklah!", ujar Ganial tersenyum ketika melihat Sheza masuk didampingi sekretaris Zaki.


"Terima kasih paman", ucap Sheza. Sementara mata Sheza mengamati Zaki yang masih nampak sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya.


"Paman Ganial, hmm.....?", tanya Zaki. Matanya menatap Ganial tajam. Ganial tertunduk malu, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf tuan", jawab Ganial pelan.


"Kenapa kau memanggilku tuan?", tanya Zaki pada Sheza.


Sheza terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Jadi tuan ingin dipanggil apa?", ujar Sheza balik bertanya.


"Panggil aku sayang, bukannya aku calon suamimu", jawab Zaki dengan mimik serius.


Sejenak Sheza menatap Zaki. Keningnya berkerut. Mukanya memerah.


Kemudian terdengar suara tawa Zaki pecah di ruangan itu.


Sheza termangu, wajah datar yang cenderung dingin itu ternyata bisa tertawa.


"Kau jangan memandangku seperti itu Sheza, apa kau tidak pernah melihat orang tertawa", tanya Zaki di sela-sela tawanya.


"Sering tuan, hanya saja agak aneh melihat wajah serius tuan bisa tertawa", jawab Sheza polos.


Tawa Zaki makin keras.


"Kau sangat lucu nak", ujar Zaki.


Sheza terkejut, panggilan Zaki begitu menyentuh. Seperti panggilan orangtua pada anaknya. Panggilan yang sangat dirindukannya sepeninggal sang ayah. Sejenak Sheza menunduk, matanya terasa panas dan berembun. Sheza berusaha menahan agar airmatanya tidak tumpah begitu saja.


Apa yang Sheza lakukan tidak lepas dari perhatian Zaki dan Ganial.


"Kau menangis Sheza?", tanya Zaki merasa tidak enak.


"Apa ada perkataanku yang menyakiti perasaanmu nak?", tanya Zaki lagi merasa kuatir.


Sheza mengangkat kepalanya, panggilan kedua itu begitu telak menghancurkan benteng pertahanan Sheza. Airmata Sheza tumpah tak terbendung.


"Maafkan saya, tuan. Saya terlalu emosional. Panggilan tuan mengingatkan saya pada ayah. Panggilan yang sudah lama tidak pernah saya dengar lagi sejak kepergian ayah", jawab Sheza penuh haru.


Sejenak Zaki terdiam. Ia terharu.

__ADS_1


"Jangan panggil aku tuan, Sheza, panggil aku daddy seperti Zafier memanggilku", ujar Zaki lagi


'Panggil aku daddy, seperti kau memanggilku ketika kau kecil Sheza', batin Zaki.


__ADS_2