My Little Gwen

My Little Gwen
Rapat dengan CEO


__ADS_3

Pagi pun datang menjelang. Sheza segera bangun dari tidurnya setelah merasakan cahaya matahari menyilaukan matanya. Cahaya itu masuk dari celah-celah gorden kamarnya. Sheza mengucek matanya perlahan. Ia kemudian beranjak menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang terasa lengket serta membersihkan tubuhnya.


Sheza harus segera bergegas. Hari ini ada rapat penting dengan CEO mereka, yang Sheza tahu selama ini CEO perusahaannya adalah Zaki. Sheza sendiri hanya bisa menebak-nebak siapa yang akan memimpin rapat kali ini. Isu yang beredar di tengah para pegawai perusahaan mengatakan bahwa kali ini rapat akan dipimpin oleh CEO langsung, padahal Sheza tahu betul kondisi daddy Zaki saat ini dalam keadaan koma. Jadi sangat tidak mungkin bagi daddy Zaki untuk hadir langsung dalam rapat tersebut.


Kondisi Zaki saat ini memang tidak diketahui oleh para pegawai perusahaan di kota P. Kondisi Zaki memang sangat dirahasiakan. Informasi yang beredar di luar hanya menyatakan bahwa Zaki sedang sibuk mengurus bisnisnya di luar negeri, sehingga memang tidak dapat hadir dalam rapat penting perusahaan.


Setelah membersihkan diri Sheza menuju wardrobe yang berada di dalam kamar apartemennya. Ia memilih menggunakan setelan kerja, berupa rok selutut dengan blazer berwarna senada tosca muda yang dipadupadankan dengan kemeja berenda berwarna putih di bagian dalam.


Sheza menyanggul rambut panjangnya, memakai make up tipis. Kemudian bergegas keluar dan turun ke parkiran apartemen di mana Karen sudah menunggunya. Beberapa saat kemudian Karen dan Sheza sudah melaju di jalanan kota P menuju kantor.


Begitu turun dari kendaraannya, Sheza melirik jam tangannya. Ia menyadari sebentar lagi rapat akan dimulai. Sheza bergegas menuju ruangannya, meletakkan tasnya di meja kerja, kemudian berjalan cepat menuju ruangan meeting.


Di dalam ruangan sudah berkumpul beberapa orang direktur. Masih lima belas menit sebelum rapat dilakukan, semua orang sudah berkumpul di ruangan itu. Mereka semua menunggu datangnya sang CEO. Rapat semacam ini memang sangat jarang dilakukan karena memang Zaki banyak beraktivitas di luar kota dan luar negeri, sehingga kebanyakan rapat memang hanya dihadiri oleh para direktur. Atau terkadang Ganial yang menjadi perwakilan Zaki


Lima menit kemudian pintu ruangan meeting terbuka, seseorang yang asing bagi semua orang di dalam itu kecuali Sheza melangkah masuk ke dalam ruangan meeting. Sosok itu diikuti oleh Carlos.


Tiba-tiba saja suasana ruangan rapat membeku dalam sekejap. Sheza menelan ludah dengan gugup.


Sosok yang ia lihat kali ini jauh berbeda dengan sosok yang sebelumnya pernah ia kenal. Sosok itu seolah memiliki dua kepribadian. Jika sosok pria yang ia kenal sebelumnya adalah sosok yang lembut dan penuh perhatian, kali ini ia melihat sosok yang dingin dan arogan. Sosok yang ia lihat ini nyaris seolah tidak mempunyai perasaan.


Ia melihat sosok Zafier yang ramping, tampan dan bertubuh atletis itu seolah terpapar cahaya yang menyilaukan. Wajah tampannya tanpa ekspresi. Tatapannya seperti pisau es, dengan dingin menatap tajam ke seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu satu persatu.


Tubuh tegap dan tinggi semampai itu dibalut setelan jas berwarna hitam yang melekat sangat elok di tubuhnya. Fitur wajahnya yang sempurna mampu menghipnotis orang yang melihatnya sehingga terpesona. Matanya yang dalam dan dingin menyiratkan egonya yang besar. Seluruh tubuhnya seolah memancarkan aura arogan dan mendominasi.

__ADS_1


Sesaat Zafier mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan meeting itu. Ia kembali menatap orang-orang yang ada di sana satu persatu dengan tatapannya yang tajam, sampai kemudian matanya tertuju pada satu sosok wanita yang duduk di salah satu kursi di hadapannya. Wanita itu juga sedang menatapnya, sesaat mata mereka beradu. Sheza merasa gugup, lalu tertunduk. Wajahnya memerah dan panas.


Selanjutnya rapat pun dimulai suasana menjadi serius dan tegang. Zafier memperkenalkan dirinya kepada semua peserta rapat. Carlos yang sebelumnya memang dipekerjakan Zaki di perusahaan itu sebagai orang kepercayaan Zaki, banyak memberikan masukan dan gambaran kepada Zafier.


Akhirnya rapat pun selesai. Sheza pun bernafas lega. Satu persatu orang yang ikut dalam meeting itu pun keluar, dengan terlebih dahulu membungkukkan tubuhnya kepada Zafier.


Pada saat Sheza akan mencapai pintu keluar ruangan meeting, tiba-tiba saja ia mendengar sebuah suara berat memanggil namanya. Tubuh Sheza tiba-tiba saja seolah membeku, langkahnya terhenti, kakinya terasa berat.


"Nona Arshaka...!".


Ia menatap ke arah asal suara itu, sesaat matanya beradu dengan mata tajam dan dingin Zafier.


Perlahan Sheza berjalan mendekati tempat di mana Zafier duduk. Sheza duduk tepat di seberang Zafier.


Suara yang mampu membuat bibir Zafier terkunci. Carlos yang sebelumnya berdiri di samping Zafier kemudian mengambil posisi duduk tepat di depan Sheza. Zafier kemudian mengangguk kepada Carlos.


"Nona Sheza, siang ini selepas makan siang akan ada rapat dengan beberapa perusahaan yang akan kita lakukan investasi. Untuk itu nona Sheza selaku Chief Financial Officer (CFO) akan mendampingi tuan Zafier", ujar Carlos


"Baik tuan", jawab Sheza.


"Baik nona Sheza, kita bertemu nanti setelah makan siang", ujar Carlos lagi.


Sheza mengangguk, kemudian tersenyum pada Carlos, selanjutnya ia berdiri dari kursinya, membungkuk pada Zafier kemudian berlalu keluar dari ruangan meeting.

__ADS_1


Kepergian Sheza diikuti oleh pandangan dari sudut mata Zafier. Carlos sendiri juga ikut memperhatikan Sheza hingga menghilang di balik pintu ruangan meeting.


Sheza sedang makan siang di ruangannya ditemani oleh Karen. Sesaat kemudian Sheza melirik jam yang melingkar di tangannya, ia menghela nafas. Biasanya Sheza memang selalu terlibat, apabila ada urusan terkait investasi terhadap perusahaan lain. Tapi entah kenapa kali ini ia merasa sedikit berbeda. Masih ada Carlos di sana. Tadi ia merasa sangat aneh dengan perubahan Carlos. Ia merasa seperti orang asing ketika berhadapan dengan Carlos tadi.


Ponsel Sheza tiba-tiba saja berdering seiring dengan telah selesainya Sheza makan siang.


Sheza menatap layar ponselnya, tertera nama Carlos di sana. Sheza mendengus kesal, kemudian ia melempar ponselnya pada Karen


Karen yang mendapatkan lemparan tiba-tiba, kaget dan kelabakan. Tapi untungnya ia mempunyai refleks yang baik, sehingga bisa menangkap ponsel itu dengan mudah.


Ketika ponsel itu berada di tangannya, Karen melihat ada nama Carlos muncul disana. Meski heran, ia bergegas menekan tombol ok. Suara Carlos terdengar di ujung sana.


"Nona Sheza, setengah jam lagi tuan Zafier menunggu anda di private park kantor", ujar Carlos.


"Baik bos", jawab Karen santai.


Tidak terdengar lagi suara Carlos di sana. Meski Karen tahu bahwa Carlos masih ada di ujung telepon sana. Karen berusaha menahan tawanya. Ia yakin saat ini Carlos pasti bingung begitu mendengar suara berbeda dari ponsel Sheza.


"Maaf bos, ini aku", ujar Karen jujur.


"Baiklah", ujar Carlos seraya mengakhiri panggilan telepon.


Carlos sedikit meringis. Ia tahu Sheza pasti marah pada gayanya yang terlalu kaku dan formal. Carlos juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tidak mungkin sesantai dulu ketika berhadapan dengan Sheza di depan Zafier. Karena ia yakin Zafier akan sangat marah kalau ia bersikap sedekat itu dengan Sheza. Karena bagaimanapun yang Zafier tau, Sheza adalah calon ibu sambungnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sheza", batinnya.


__ADS_2