
Akhirnya satu persatu orang-orang mulai meninggalkan ruangan Sheza. Zafier menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan Sheza. Sosok tampan yang tingkah lakunya justru di luar nalar. Kepergiannya mampu membuat bibir seksi Sheza nyaris menganga lebar diikuti mimik kebingungannya yang menurut Carlos sangat menggemaskan.
Saat ini yang tersisa hanya Sheza dan Karen. Sepeninggal semua orang. Sheza mulai merasa tenang. Sheza dan Karen saling berpandangan bingung. Sheza kemudian berdiri dari sofa dimana ia duduk. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.
Sheza memilih kembali duduk di kursi kerjanya. Perlahan wanita cantik itu menyandarkan punggungnya dengan santai di sandaran kursi kebesarannya.
"Hng... Ada apa dengan orang-orang hari ini?", keluh Sheza pelan, seraya menghela nafas.
Namun ia sedikit lega karena kedatangan Zafier tadi membuat ia tidak perlu lagi berurusan dengan Arsen.
"Paling tidak kedatangan tuan Safaraz tadi sudah membuat aku lepas dari tuan Arsen", ujar Sheza lega.
Karen yang memperhatikan situasi sedari tadi, juga nampak tengah berpikir keras. Namun paling tidak ia bersyukur bahwa nonanya sudah terlepas dari masalah dengan tuan Arsen. Tetapi ia sangat tidak menyangka bahwa tuan Zafier sendiri yang akan turun tangan langsung untuk membantu nona bisa terlepas dari tuan Arsen. Karen masih nampak terus berpikir dalam mode diamnya.
"Karen, aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang diinginkan oleh bos kita tadi ke sini, bukannya ia tidak pernah mau berurusan dengan kita, biasanya hanya Carlos yang diutusnya untuk menangani semua urusan terkait perusahaan. Kita bertemu tuan Safaraz juga hanya pada saat ada rapat yang melibatkan semua divisi. Apa kau tidak merasa aneh Karen?", tanya Sheza. Ia menatap Karen tajam. Kedua tangannya diletakkan di bawah dagu untuk menyangga kepalanya.
Karen yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah sendiri. Ia bingung harus menjawab apa. Ia kuatir nonanya akan marah kalau ia menceritakan bahwa ia baru saja meminta bantuan Carlos agar Sheza terlepas dari tuan Arsen. Sebenarnya ia sedikit curiga bahwa kedatangan langsung Zafier tadi ke ruangan kerja nona Sheza tidak lebih hanya membantu nona terlepas dari tuan Arsen. Tapi logikanya menyangkal, rasanya tidak mungkin juga tuan Zafier akan ikut campur dalam hal sepele seperti ini.
Hmm....sepertinya nanti dia akan memaksa Carlos untuk menjelaskan semua ini, batin Karen.
Karen sudah memutuskan sebelum ia mengetahui secara jelas alasan dari kejadian tadi maka untuk sementara ia akan tutup mulut saja.
__ADS_1
"Iya nona, saya juga merasa bingung dengan kejadian tadi. Tapi sudahlah nona, tidak usah dipikirkan lagi. Kita ambil sisi positifnya saja. Paling tidak nona sudah terlepas dari gangguan tuan Arsen bukan?", jawab Karen enteng.
Mendengar jawaban Karen, Sheza hanya terdiam sambil kembali menghela nafas. Sejurus kemudian ia sudah tenggelam dengan berkas-berkas dan pekerjaannya.
"Maaf nona, saya mohon izin untuk kembali dulu ke ruangan saya, nona bisa memanggil saya jika membutuhkan saya", pamit Karen.
Sheza hanya menganggukkan kepalanya, sementara kedua matanya masih tetap fokus dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.
Setelah mendapatkan anggukan dari Sheza, Karen keluar setelah undur diri. Karen bergegas berjalan menuju ruangannya. Setibanya di depan ruangan kerja, perlahan ia membuka pintu ruangan itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, seolah-olah tengah memindai isi ruangan, jika terdapat sesuatu yang mencurigakan. Kemudian ia berjalan menuju meja kerjanya, ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya itu. Karen memejamkan kedua matanya, menghembuskan nafas lega.
Karen mengambil ponsel yang berada di kantongnya, kemudian nampak mulai sibuk mengetik di ponsel itu. Setelah merasa cukup, ia mengirimkannya, sebuah nama pengirim tercatat di sana, Carlos.
Karen: Bos, ada apa dengan tuan muda Zafier tadi??
Merasa bahwa ia tidak akan mendapatkan informasi apapun dari Carlos, Karen pun berhenti menghubungi Carlos.
Tak berapa lama kemudian Karen sudah tenggelam dalam pekerjaannya. Melupakan semua peristiwa tadi.
Sementara itu Sheza yang awalnya tenggelam dalam pekerjaannya sepeninggal Sheza tadi, kini nampak sedikit gelisah. Sejenak ia meregangkan tubuhnya, kemudian kembali bersandar, menegakkan kepalanya. Kedua matanya terpejam.
Tak lama kemudian ia kembali membuka kedua matanya. Perlahan ia menjauh dari kursi kebesarannya, kedua kakinya membawa tubuhnya ke arah jendela besar di ruangan itu. Dari jendela itu terpampang pemandangan kota P dengan segala aktivitas dan kesibukan siang hati, layaknya sebuah kota besar. Kendaraan nampak berlalu lalang dengan kemacetan di bawah sana.
__ADS_1
Sheza kemudian melirik jam yang melingkar cantik di tangannya. Hmm...ternyata sudah waktunya makan siang. Pantas saja cacing-cacing di perutku sudah mulai berdemonstrasi sedari tadi. Oh iya, aku kan tidak jadi sarapan gara-gara tuan Arsen menggangguku pagi tadi, gumamnya. Tangannya reflek menyentuh perutnya.
Kemudian ia berjalan kembali ke meja kerjanya, meraih sebuah ponsel yang tergeletak di sana.
Ia menekan pencarian sebuah nomor, nama Karen terpampang di layar ponselnya.
Kemudian netra hazel Sheza memandang bekas-bekas yang berserakan di atas meja kerja, entah kenapa ia kehilangan semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
Sheza: Kau di mana sekarang Karen?
Bagaimana kl kita makan siang di luar? Otakku sedang tidak baik-baik saja sekarang? Aku butuh healing!
Karen: Eh nona, aku sdg berada di ruanganku. Apa yang terjadi nona? apa tuan Arsen mengganggu Nona lagi?
Sheza: Tidak, sepertinya masalah dengan tuan Arsen sudah bisa ditanggulangi. Aku yakin tuan Zafier tidak akan membiarkan calon ibu sambungnya diganggu oleh tuan Arsen bukan?
Karen: Pastinya tidak nona. Oke nona Aku on the way ke ruangan nona, mari kita makan siang di luar!
Beberapa saat kemudian Sheza bersama Karen sudah melaju di jalanan kota P. Karena ingin santai bercerita dan menikmati perjalanan, maka Sheza dan Karen melakukan perjalanan tanpa membawa sopir. Namun sepanjang perjalanan Karen nampak sedikit gelisah. Karen bukannya tidak menyadari bahwa sejak mereka meninggalkan parkiran Safaraz corp, sebuah mobil jeep terus membututi mereka. Karen yang merasakan kecurigaan pada mobil yang selalu menjaga jarak dengan mobil yang dikendarainya, mulai waspada.
Beberapa kali Karen berusaha menguji mobil itu, dengan cara berhenti di beberapa tempat ramai, meski diiringi dengan tatapan mendelik marah dari pemilik mata hazel itu. Dan hasilnya mobil Jeep itu masih tetap berada dalam jangkauan jarak pandang dengan kendaraan mereka. Mata Karen sedikit mendelik. Apa mau mereka?, gumam Karen sangat pelan. Untungnya Sheza yang berada tepat di sampingnya, tidak menyadari gerak-gerik dan gumamannya. Sheza nampak tetap fokus pada layar HP yang berada di tangannya.
__ADS_1
Otak Karen terus bekerja. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar mereka berdua dapat menyelamatkan diri dari orang-orang yang mengincar mereka. Karen menyadari meski ia dan Sheza mempunyai kemampuan bela diri, namun Karen yakin di dalam kendaraan tersebut jumlah para penjahat itu tidak hanya satu atau dua orang. Jumlah orang-orang dalam mobil jeep itu mungkin cukup untuk melumpuhkan mereka berdua yang notabene adalah wanita dengan keterbatasan kekuatan.