My Little Gwen

My Little Gwen
Patah hati


__ADS_3

Matahari hampir tenggelam ketika meeting dengan beberapa perusahaan yang akan ikut dalam proyek Zafier berakhir. Sheza sudah keluar dari ruangan setelah berpamitan dengan Zafier. Keluarnya Sheza dari ruangan itu menjadi sebuah persoalan ketika Arsen kemudian menyadari bahwasanya Sheza adalah wanita yang selama ini dicarinya. Begitu mengetahui hal tersebut, Arsen langsung bergegas mengejarnya keluar ruangan meeting.


Zafier menatap Carlos, ia menganggukkan kepalanya. Seketika Carlos bergerak cepat menuju Arsen dan bergegas mencekal lengan Arsen. Arsen memberontak, nyaris mengamuk. Ia berbalik dan memukul balik Carlos namun Carlos berhasil menghindar dengan mudah. Keinginan Arsen mengejar Sheza seketika terhenti. Carlos melepaskan cekalannya pada tangan Arsen setelah mendapatkan anggukan kepala dari Zafier.


"Apa maksudmu Zafier? Kenapa kau menghentikan aku untuk mengejar wanita itu. Kau tahu bukan bahwa aku sudah sangat lama mencarinya dan saat ini ia berada di sini. Aku ingin ia mengetahui isi hatiku, sebelum semua kembali terlambat seperti dahulu. Kau hanya menyita waktuku. Aku tidak akan bisa bertemu lagi denganmu", teriak Arsen, ia nampak frustasi dan sangat kesal.


Zafier menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Ia mencoba mengontrol dirinya. "Hallo broer (Belanda:hai bro) kenapa kau nampak begitu frustasi. Apa kau lupa di mana wanita itu bekerja? Sekarang enyahkan semua rasa frustasi mu itu. Kau harus dengarkan aku, ia tidak akan kemana-mana karena ia adalah CFO di perusahaan daddy", jelas Zafier. Sebagai sahabat, ia berusaha menghibur Arsen.


Arsen menatap Zafier, ia mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Zafier. Kekesalannya nampak mulai mereda. Wajahnya sudah kembali normal, seiring dengan deru nafasnya.


Perlahan Zafier berjalan menghampiri Arsen. Setelah ia berdiri tepat di depan Arsen. Ia memegang pundak Arsen. Wajahnya nampak sedikit prihatin menatap Arsen. Walaupun masih dengan tatapannya yang tajam dan dingin.


"Maar.... (Belanda: tapi)", Zafier menjeda ucapannya.


Perhatian Arsen teralihkan pada Zafier. Ia menoleh ke arah Zafier, merasa sedikit penasaran dengan kelanjutan yang akan diucapkan Zafier. Keningnya sedikit berkerut.


Zafier menarik nafasnya pelan, seolah ia sedang berusaha menyusun kata-kata yang tepat dan tidak menyakiti sahabatnya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian baru Zafier melanjutkan ucapannya.


"Sorry broer... Sepertinya kali ini kamu harus mengalami kekecewaan dan kepahitan lagi", ujar Zafier prihatin.


Arsen tampak bingung. "Alsjeblieft.... (Belanda: please) Kau jangan berbelit-belit Zafier. Jelaskan saja secara langsung apa maksud ucapanmu?", Arsen nampak mulai kesal.


Zafier kembali melanjutkan ucapannya. "Yang perlu kamu ketahui adalah.... wanita itu, Shezan Shaziya Arshaka itu adalah calon ibu sambungku, yang aku ceritakan pada mu waktu itu, saat aku berkunjung ke mansionmu di kota J", ujar Zafier tenang.


Bagai petir menyambar di siang bolong begitulah kira-kira perumpamaan berita yang didengar oleh Arsen di telinganya. Arsen langsung terperangah, matanya terbelalak, mulutnya nyaris menganga. Ia benar-benar terkejut dan sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Arsen kemudian duduk kembali di salah satu kursi yang ada di ruangan itu. Seolah apa yang didengarnya membuat ia tidak sanggup berdiri lebih lama. Arsen memegang kepala dengan kedua tangannya. Ia nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, frustasi. Sungguh ia tidak sanggup untuk menerima kenyataan.


Arsen mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, menarik nafasnya dengan kasar. Ia berusaha fokus dan mencoba menguasai diri. Setelah beberapa saat, ia mulai mampu berpikir normal.


Dalam hati, Zafier sebenarnya merasa sedikit senang. Karena ia merasa seperti memiliki teman sepenanggungan, sama-sama merasakan patah hati yang sama. Tapi pastinya sampai kapanpun ia tidak akan pernah mengakui perasaannya itu di depan Arsen.


"Dengan alasan kau adalah sahabatku, aku tidak ingin kau mempermalukan dirimu sendiri di hadapan Sheza, karena ke depannya, kita akan berada dalam proyek ini, maka kau akan selalu melihat dan berhubungan dengan Sheza. Kau harus bisa mengendalikan dirimu, broer", ujar Zafier mengingatkan.


Arsen langsung lemas tak berdaya begitu mendengar ucapan Zafier.

__ADS_1


"Apa aku bisa mundur sebagai investor dari proyek ini Zafier", tanya arsen memohon.


"Kau yakin ingin mundur Arsen?", tanya Zafier memastikan.


Arsen terdiam seolah berpikir. Di otaknya berkelebat kembali pembicaraannya dengan Zafier tentang benefit yang bisa mereka peroleh dari proyek ini. Lagi-lagi arsen memijat keningnya.


"Sebenarnya perusahaan daddy bisa saja menjadi satu-satunya investor dalam proyek ini. Namun mengingat kau adalah sahabatku. Lagipula pada waktu itu kau pernah mengatakan bahwa ingin mengembangkan perusahaan milik sepupumu yang hilang itu, sebagai wujud rasa bersalahmu terhadap sepupumu itu. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk melibatkanmu di dalam proyek ini apalagi perusahaan itu memang berlokasi di kota ini", ujar Zafier lagi.


"Aaaargh... ", Arsen memukuli kepalanya pelan.


"Ah... Sudahlah broer. Ayolah, kalau kau ingin melepaskan semua beban pikiranmu itu. Aku akan menemanimu malam ini. Ayo ikut denganku kalau kau ingin memuntahkan semua unek-unekmu itu. Aku tahu kau pasti akan mencari pelarian. Ayo kau ikut denganku ke mansion. Aku tahu kemana pelarianmu jika pikiranmu sedang buntu seperti sekarang. Aku tidak mau kau salah jalan atau berbuat sesuatu yang nekat", ajak Zafier.


Arsen tidak menjawab, ia hanya menatap Zafier dengan tatapan nanar.


"Kau tahu, saat ini kondisi di kota P ini sedang tidak kondusif. Musuhku sedang berkeliaran. Aku yakin mereka sedang mengawasi setiap langkahku. Aku tidak mau kau menjadi target berikutnya karena kau dekat denganku", lanjut Zafier cemas. Arsen pasrah. Ia berjalan gontai mengikuti Zafier.


Beberapa saat kemudian mereka sudah melaju di jalanan kota P menuju mansioan sang daddy. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang mansion Zaki. Begitu pintu gerbang setinggi sepuluh meter itu terbuka secara otomatis. Beberapa pengawal nampak mengambil tempat, mereka berdiri berjejer dan memberikan penghormatan dengan membungkukkan badan mereka ke arah kendaraan yang membawa Zafier masuk. Kendaraan itu terus melaju melewati halaman yang sangat luas sampai ke mereka berhenti tepat di depan pintu masuk mansion Zaki.

__ADS_1


Kehadiran mereka disambut oleh Kepala pelayan di mansion itu, Adolf. Pria berumur lima puluhan, berketurunan Belanda yang sudah menjadi kepala pelayan di mansion Zaki sejak mommy Zafier masih hidup. Istri Adolf dulunya adalah asisten kepercayaan mommy Zafier, ia sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang kemudian juga bekerja sebagai pengawal Zaki. Ia bernama Evan.


Pada saat malam hari semua pelayan di mansion Zaki memang harus berada ditempat mereka masing-masing. Tempat tinggal para pelayan berada di komplek yang lokasinya tidak terlalu jauh dari mansion utama. Mereka tidak diizinkan untuk berkeliaran di dalam mansion, kecuali ada perintah dari tuan rumah. Satu-satunya yang akan tetap berada di dalam Mansion hanya Adolf. Sebagai orang yang kepercayaan Zaki dan orang yang dipercayakan dan ditugaskan untuk mengurus segala sesuatunya di dalam mansion tersebut.


__ADS_2