
Malam begitu tenang. Gelap masih setia menemaninya. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali suara burung malam yang beterbangan. Udara begitu dingin. Hembusan angin malam mulai terasa menusuk tulang. Meski langit nampak cerah tapi tak satupun bintang bertebaran.
Tiba-tiba kesunyian malam itu di pecahkan oleh sebuah teriakan ketakutan yang berasal dari sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Kegelapan melingkupi rumah tersebut, bertepatan dengan seluruh anggota keluarga yang telah diangkut paksa. Selanjutnya kilatan api terlihat, sebelum akhirnya membesar dan membakar habis seluruh isi rumah.
Sementara itu dalam sebuah apartemen di pusar kota, Alvin sama sekali tidak berpikir ada yang aneh dengan perasaannya. Ia hanya Menatap layar televisi yang berada di depannya dengan senyum tipis. Ia yang sedang menikmati tontonan di layar televisi terkejut, ketika tiba-tiba lampu apartemennya padam. Rasa sunyi menelusup ke hatinya. Jantungnya mendadak berdegup sangat kencang ketika tiba-tiba kaca jendela apartemennya pecah. Seiring dengan ketukan pintu apartemennya yang memburu. Alvin diam dia tak bergerak ataupun melangkah membuka pintu. Perasaannya menjadi tidak enak. Kali ini ia merasa seakan disergap dengan paksa. Terlebih bel pintu apartemennya tidak berhenti bersuara.
Alvin bernafas pelan lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia belum selesai dengan pikirannya saat rasa dingin menyergap lehernya, lengkap dengan bisikan lembut yang menegangkan
"Jangan bergerak atau pisau tajam ini akan merobek lehermu", ancam seseorang di telinganya.
Alvin menurut ia tidak bodoh untuk melawan ataupun memberontak. Kepalanya mengangguk pelan. Ia hanya bisa bertanya, "Siapa kalian? ".
Tidak.ada yang menjawab. Alvin hanya merasa tubuhnya ditarik pelan dan dia terpaksa mengikuti. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas saat sebuah aroma sama tercium dan akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri.
......................
Sementara itu jauh di tengah hutan sana, suasana di markas Zaki nampak biasa saja jika dilihat dari luar. Hal itu bertolak belakang dengan suasana di bagian dalam, terutama di bagian ruang bawah tanah. Jauh di lorong-lorong panjang ruang bawah tanah itu, suasananya terasa sangat mencekam. Para pengawal nampak lalu lalang dalam kondisi waspada dan siaga.
__ADS_1
Ketika jiwa-jiwa yang kelelahan terlelap dalam tidur malam, suasana di ruang bawah tanah itu nampak begitu kontras.
Zafier masih menatap malas dengan satu tangan menopang kepalanya. Alvin berbalik dan merangkak denlgan penuh dendam, tangannya mengepal erat tatapannya menghujam Zafier penuh dengan amarah. "Kenapa kau lakukan ini padaku, apa salahku??", teriaknya histeris. Sorot kebencian terlihat jelas dari mata Alvin .
"Kau masih bertanya apa salahmu?", tanya Zafier dingin. Alvin mencoba bangkit dan berlari ke arah Zafier. Ia berusaha menyerang Zafier, namun Klein, si harimau putih dengan sigap berdiri di depan Zafier membuatnya luruh kembali ke lantai dengan paksa. Karena Juan menarik tali di lehernya. Alvin tak dapat berbuat apapun Ia merasa begitu putus asa. Tiba-tiba adegan demi adegan peristiwa penembakan Zaki melintas begitu saja di benak Alvin. Ia ingat dengan jelas bagaimana ia membidik dada Zaki pada saat itu.
Tiba-tiba saja rasa penyesalan menyelubungi hati Alvin. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dapat ditemukan dan ditangkap semudah ini. Ia merasa sangat bodoh karena terlalu meremehkan pihak lawan. Alvin memang masih muda, ia belum lama berkecimpung di dunia hitam, sehingga tidak pernah tahu bagaimana sepak terjang Zaki dan kelompoknya pada masa itu. Ia tidak pernah mengetahui bahwa nama Zaki pernah sangat ditakuti oleh orang-orang dunia hitam. Sang bosnya saat ini juga tidak pernah mengatakan itu. Alvin tertegun. Ia sangat yakin bahwa sudah tidak ada jalan keluar lagi. Pada akhirnya ia pasti akan mati juga di tangan Zafier. Bahkan jika bosnya sekalipun mengerahkan seluruh kemampuan anak buahnya, maka mereka juga tidak akan mampu untuk menyelamatkan dirinya. Ia tidak akan takut mati, tapi yang ia sesali adalah bahwa apa yang ia lakukan juga ikut berimbas pada saudara-saudaranya.
"B****** kau Zafier!", teriak Alvin histeris.
Zafier hanya menatap Alvin dengan dingin dan tanpa ekspresi. Ia terlihat sama sekali tidak tertarik. Ia menatap ke samping tepat di mana Juan berada.
"Baik tuan, laksanakan!", jawab Juan bersemangat.
"Kau...!", Alvin meraung frustasi saat Juan menghubungi seseorang.
Apa yang dilakukan Juan dengan patuh itu membuat Zafier terlihat puas.
__ADS_1
Ini terlalu kejam, pikir Alvin. Ia memang menembak tuan Zaki. Tapi juga tidak sampai terbunuh. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Zafier akan menghabisi seluruh keluarganya. Ini telah berakhir aku dan seluruh keluargaku, batim Alvin putus asa.
"Hubungi dia, katakan bahwa ini adalah pembalasan dari apa yang telah diperintahkannya", lirikan Zafier membuat Alvin bergidik ngeri. "Balasan bagi orang yang telah berusaha untuk menyakiti keluargaku", ujarnya lagi.
Juan terkejut, sangat terkejut dengan perubahan emosi Zafier yang begitu cepat. Ia telah lama tidak bertemu Juan. Ia tidak menyangka bahwa Zafier bisa bertindak begitu kejam. Ini semua memang sudah sifat asli Zafier atau ini terbentuk setelah ia mengalami kerasnya hidup di Belanda. Semua masih menjadi tanda tanya bagi Juan. Tapi setahunya, ketika ia mengenal Zafier muda. Zafier tidak pernah menampakan tanda-tanda kekejaman sedikitpun karena Zafier tidak pernah terlibat langsung dalam dunia hitam seperti tuan Zaki.
Juan masih dalam keterkejutannya, tapi dia dengan cepat menghubungi seseorang mengkonfirmasi kan dalam sebuah video call yang memperlihatkan keadaan Alvin.
Flash back on.
Beberapa saat, setelah mendengar peristiwa penembakan sang daddy. Zafier bergerak cepat dengan memerintahkan Juan dan semua anak buahnya untuk segera melakukan penyelidikan dan mencari pelaku penembakan sang daddy.
Hasilnya, beberapa hari kemudian Zafier telah mendapatkan informasi tentang pelaku penembakan Zaki. Akhirnya mereka mengetahui bahwa Alvin adalah pelaku penembakan Zaki. Alvin adalah anak buah dari Reonal Barton. Seorang sniper yang cukup diandalkan dalam kelompok Reonal Barton.
Reonal Barton adalah anak dari Bex Barton. Seseorang yang cukup berpengaruh di dunia hitam dahulunya. Barton adalah lawan berat Zaki di dalam bisnis hitam. Kelompok mereka memang seringkali berseteru dalam bisnis dunia hitam.
Bex Barton sendiri akhirnya terbunuh dalam perseteruan antara kelompoknya dan Zaki. Reonal Barton pada waktu itu masih kecil. Reonal ternyata membangun bisnis dan kelompoknya sendiri selama bertahun-tahun. Zaki yang tidak lagi terlibat dalam bisnis dunia hitam, tidak lagi ambil pusing dengan segala hal yang terjadi dan berkembang di dunia hitam. Namun ternyata Reonal sendiri menyimpan dendam kesumat terhadap Zaki. Setelah Reonal merasa cukup berkuasa di dunia hitam, ia mulai menyusun rencana untuk membalaskan dendam ayahnya pada Zaki.
__ADS_1
Flashback off.