My Little Gwen

My Little Gwen
Sabuk pengaman


__ADS_3

Sementara itu di area parkir....


Begitu keluar dari hotel, Sheza langsung berjalan menuju area dimana kendaraan mereka terparkir. Sheza masih tetap memperhatikan sekitarnya berharap ia menemukan sosok Karen. Namun hingga Sheza sudah berada di dekat kendaraan, ia tidak juga melihat keberadaan Karen.


Kening Sheza sedikit berkerut karena ia menyadari mesin mobil mereka dalam keadaan hidup. Ia merasa senang karena ia berpikir bahwa Karen sudah berada lebih dahulu di dalam mobil. Sheza terus berjalan menuju mobil. Ia kemudian membuka pintu mobil. Tidak terkunci, gumamnya pelan.


Ceklek!!


Pintu mobil terbuka, namun Sheza tidak mendapati Karen berada di dalam mobil. Ia tertegun. Hmm ... Karen tidak ada di sini, kemana dia?, gumam Sheza pelan. Keningnya semakin berkerut, bingung.


Sheza memutuskan untuk menunggu Karen di dalam mobil saja. Sheza tidak menaruh curiga sama sekali, ia berpikir kemungkinan Karen merasa hendak buang air kecil ketika masuk ke dalam mobil, itulah mengapa ia meninggalkan mobil dalam keadaan hidup. Sheza kembali asyik mengakses ponselnya.


Sheza masih fokus dengan ponselnya, ketika ia menyadari seseorang membuka pintu mobilnya. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel sama sekali dalam pikirannya yang membuka pintu dan mengambil alih kendaraan pastilah Karen.


Sampai kemudian setelah merasakan aura yang berbeda dari orang yang duduk di sampingnya, Sheza mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke arah kanan untuk dapat menatap dengan jelas wajah orang yang berada di sampingnya.


Sheza tertegun, ketika netranya mendapati sosok tampan yang sedang duduk di sampingnya. Ia tengah fokus mengambil alih kemudi mobilnya saat itu.

__ADS_1


Di saat bersamaan, pria itu tiba-tiba menoleh ke kiri, tepat ke arah wanita cantik yang juga tengah menatapnya penuh tanda tanya.


Deg.. Deg.. Deg!!


Netra mereka beradu, dan dalam sepersekian detik sang pria yang tak lain adalah Zafier sempat merasa obsidiannya tersedot masuk ke dalam manik hazel nan indah itu. Keduanya saling menatap satu sama lain, waktu seolah berhenti berputar di sekitar mereka saat itu.


Mereka saling bertatapan beberapa saat, sampai akhirnya Sheza memutus kontak mata itu dengan melihat ke arah sisi luar jendela. Mereka berdua tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Suasana diliputi keheningan. Keduanya sama-sama merasa canggung.


Sheza merasa jantungnya berdetak cepat, tak beraturan. Ia merasakan wajahnya perlahan menghangat. Sheza yakin saat ini wajahnya pasti merona. Ia merasa sedikit gugup dan salah tingkah. Ia benar-benar merasa malu karena tertangkap basah tengah menatap pria tampan disebelahnya. Padahal maksud Sheza hanyalah mempertanyakan keberadaan sang tuan muda saat ini di dalam mobilnya. Ia pasti akan salah paham, batin Sheza panik.


Sudut bibir Zafier sedikit tertarik ke atas, sebuah senyuman yang teramat sangat samar. Bahkan nyaris tidak terlihat.


Tatapan netra hazel itu masih saja memacu adrenalinnya. Zafier menjadi tidak karuan. Tatapannya masih sama, benar-benar mematikan, itu sangat berbahaya bagi kesehatan jantungku, batin Zafier. Namun demikian Zafier tidak kuasa menghentikan netranya yang masih saja mencuri pandang pada Sheza. Ia terus saja menatap Sheza dengan lekat melalui kaca spion mobil.


Meski telah mewanti-wanti perasaannya sendiri untuk Sheza, namun tetap saja hatinya berkhianat. Zafier menikmati rasa itu, terbuai kembali dengan pesona Sheza.


Netra hazel itu masih saja laksana magnet yang menarik netranya untuk tidak lepas dari pusarannya. Dan benar saja, netra abu-abu tajam milik Zafier, nyaris tak berkedip. Netra abu itu terlihat terus tertuju pada Sheza. Tiba-tiba saja netra abu yang selalu menatap tajam lawan bicaranya, kali ini menjadi lembut, jika diperhatikan dengan seksama, ada pendar kerinduan terpancar di sana.

__ADS_1


Tiba-tiba saja tubuh Zafier mendekat ke arah Sheza, ia mencondongkan tubuhnya. Zafier sedikit demi sedikit mendekat. Mengikis jarah diantara mereka. Sheza dapat melihat netra abu yang tajam itu tengah menatap ke dalam netranya.


Sementara Zafier sendiri bisa melihat bola mata hazel Sheza yang indah dan cemerlang. Bulu mata lentik yang hitam pekat, hidung mancung Sheza yang sedikit lagi menempel di hidung mancung miliknya. Bibir mungil yang ranum itu seakan memanggil-manggil untuk dinikmati, membuat jakunnya naik turun karena sulit menelan salivanya. Zafier nyaris kehilangan kendali dirinya. Ia hampir tidak bisa bertahan dari dorongan untuk segera menggigit kecil dan menghisap bibir ranum itu.


Sebuah rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, ketika berhadapan dengan wanita lain. Ini gila ... benar-benar gila batin Zafier. Aku sama sekali tidak pernah tertarik terhadap wanita-wanita yang menggodaku setiap waktu, yang bahkan nyaris telanjang di depanku. Tapi kenapa di hadapan wanita ini pengendalian diriku begitu lemah, umpat Zafier kesal pada dirinya sendiri.


Waraslah Zafier, wanita ini calon istri daddymu, keluh Zafier frustasi.


Zafier segera meraih sabung pengaman yang berada di samping tubuh Sheza, kemudian menarik dan menyilangkannya di tubuh Sheza. Ia memasangnya di sudut sebelah kanan Sheza dan memastikan sabuk pengaman itu terkunci dengan baik setelah mendengar bunyi klik. Ia melakukannya dengan tergesa-gesa.


Jantung Sheza menegang. Ia nyaris menahan nafas, saat tubuh Zafier begitu dekat dengannya. Netranya tetap tidak teralihkan dari netra Zafier. Tatapan Zafier yang sulit diartikan seolah mengunci tatapan Sheza sehingga tidak dapat menghindar. Wajah mereka sangat sangat dekat, Sheza bahkan dapat merasakan hembusan nafas hangat Zafier di wajahnya. Otak cantik Sheza jadi travelling kemana-mana.


Zafier terus mendekat. Sementara Sheza masih terpaku, tak sanggup menggerakkan tubuhnya agar menjauh. Hatinya telah memerintahkan untuk menghindar namun tubuhnya tak bergeming sedikitpun.


Sheza berusaha tetap tenang. Ia sedapat mungkin mengendalikan dirinya. Ia tidak mau menutup matanya dan terbawa suasana. Ia yakin Zafier tidak akan sekurang ajar itu untuk berlaku macam-macam pada dirinya, karena walau bagaimanapun dirinya adalah calon istri ayahnya. Dan benar saja Zafier hanya meraih sabuk pengamannya yang belum terpasang. Setelah selesai memasangnya, Zafier kembali fokus menetap ke arah depan, mengambil kendali kemudi. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


Sheza menghela nafas lega. Ia memejamkan matanya. Kejadian tadi sukses membuat ia ketar ketir. Jantungnya terus saja berdetak kencang seolah bunyinya dapat didengar oleh telinga. Pipinya memerah dan terasa panas.

__ADS_1


Tatapan Zafier semakin menajam memperhatikan tingkah Sheza, saat ekor matanya melirik ke arah lain tatapannya berubah lembut bahkan bibirnya menipis membentuk senyuman yang samar.


__ADS_2