My Little Gwen

My Little Gwen
Hilang kesadaran


__ADS_3

"Dhuar...!!".


"Dhuar...!!".


"Dhuar...!!".


"Dhuar...!!"


Akhirnya semua berakhir...


Yaaa....Empat ledakan itu mengakhiri kejahatan para bandit yang mencoba mengganggu ketenangan hidup keluarga Safaraz.


Zafier mengangkat sudut bibir seksinya, sebuah senyuman yang amat sangat samar terlihat di sana. Matanya berbinar, terlihat puas saat menyaksikan kendaraan-kendaraan itu terbakar di jalanan.


Tubuh para bandit itu bergelimpangan di jalan. Entah langsung tewas, entah ada yang masih bernafas, Zafier tidak peduli.


Baginya kematian adalah hal yang mutlak didapatkan oleh para penjahat yang ingin mengganggu ketenangan hidup keluarganya.


Zafier fokus mengamati situasi sekitar dengan tatapan tajam dan dinginnya, jangan lupakan ekspresi datarnya. Ia nampak tenang tapi tetap waspada. Netranya memindai setiap sudut di jalanan itu, namun tidak ada pergerakan yang berarti. Sepertinya semua musuh sudah berhasil dilumpuhkan.


Zafier memberi kode kepada Carlos. Kode bahwa keadaan sudah aman.


Carlos dapat menangkap kode dari tuan mudanya. Sejenak ia melirik gadis cantik yang duduk di sampingnya. Wajah cantik itu masih terlihat tegang. Carlos kemudian mengibaskan tangannya di depan wajah Sheza, namun Sheza tampak tidak bergeming, entah apa yang dipikirkannya.


"She...!", panggilnya lembut.


Namun lagi-lagi Sheza tak bereaksi.

__ADS_1


"She...!", kali ini panggilan Carlos diikuti oleh sentuhan lembutnya di jemari Sheza.


Sheza sedikit terkejut. Netranya menatap Carlos datar.


"She, semua sudah berakhir", Carlos menatap netra Sheza dalam, sambil mengusap lembut jemari Sheza, seolah ingin memberi kekuatan dan menenangkan Sheza, karena ia tahu Sheza sangat terpukul dengan situasi yang mereka hadapi tadi.


"She, sementara ini kamu menunggu di sini dulu! Aku akan keluar menuju lokasi di mana tuan muda Zafier berada, sepertinya keadaan sudah aman. Kami harus melakukan pengecekan terhadap lokasi kejadian. Kami harus memastikan kondisi clear, aman", lanjut Carlos penuh kelembutan. Ia menanggalkan semua formalitasnya ketika Zafier tidak lagi bersama mereka.


Sheza tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia menatap Carlos datar, kemudian menghela nafas dan menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Carlos kembali tersenyum. Netranya menatap Sheza lekat. Rasanya ingin sekali mendekap gadis cantik itu dalam pelukannya untuk menenangkannya, tapi lagi-lagi ia sadar diri dengan posisinya.


Carlos kemudian membuka pintu mobilnya, perlahan ia keluar dan berjalan menuju lokasi dimana sang tuan muda berada.


Perlahan Carlos semakin dekat, mengikis jarak dengan sang tuan muda. Menyadari ada langkah kaki yang mendekatinya Zafier tampak tenang. Ia yakin betul bahwa pria yang berjalan di belakangnya adalah Carlos. Tanpa memalingkan wajah ke belakang ia berucap...


Ekspresinya masih sama, terlihat datar, tidak terpengaruh oleh pemandangan di depannya, dimana saat ini, tepat di depannya bergelimpangan tubuh-tubuh yang telah ia bantai dengan senjatanya.


Sheza mengamati Carlos dan Zafier dari kejauhan. Yaaa...ia sangat patuh, hanya berdiam dalam mobil. Namun rasa penasaran tak urung menyergapnya. Ia begitu penasaran dengan percakapan dari kedua orang itu. Penasaran dengan kondisi di depan sana. Penasaran melihat nasib para bandit yang menargetkan dirinya.


Tapi.....


Lama menunggu, Sheza mulai gelisah. Setelah ia merasa mampu mengendalikan diri dengan baik, ia mulai bosan menunggu di mobil.


Uuuh....aku penasaran sekali melihat kondisi di sana, rasanya tidak sanggup lagi berdiam di sini dan menunggu, batin Sheza. Setelah mengawasi situasi dari kejauhan, Sheza yakin bahwa kondisi sudah aman. Ia tidak lagi melihat pergerakan dari musuh atau sesuatu yang mencurigakan.


Setelah memastikan situasi aman, perlahan Sheza membuka pintu mobil. Ia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya keluar dari kendaraan yang sedang ditumpanginya.

__ADS_1


Perlahan ia berjalan mendekati Zafier dan Carlos. Zafir dan Charles yang masih fokus dengan situasi di depannya tidak menyadari keberadaan Sheza yang semakin mendekati lokasi mereka.


Begitu ia sampai di dekat Zafier dan Carlos, Sheza bisa melihat dengan jelas situasi di sana. Sheza sangat terkejut, netra cantiknya nyaris melotot, karena baru kali ini ia melihat kondisi kacau seperti itu. Biasanya ia hanya menyaksikan kekacauan seperti itu di dalam film-film action saja, namun saat ini kondisi itu benar-benar real, tepat di hadapannya.


Ia menyaksikan kendaraan-kendaraan yang mengejar mereka tadi sudah teronggok tak berbentuk, terbakar hebat, kemudian tubuh-tubuh bergelimpangan di jalanan, seketika Sheza shock. Belum lagi akumulasi perasaan dan emosinya saat menghadapi suasana menegangkan, yang baru saja dilewatinya. Semua hal itu membuat Sheza mengalami double shock. Tubuhnya seketika gemetar pupil matanya melebar.


Tak berapa lama kemudian Sheza merasa pandangannya menjadi gelap, kakinya melemah, tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Setelah berusaha bertahan agar tetap dalam kesadarannya, Sheza menyerah, ia jatuh tidak sadarkan diri. Untunglah sebelum tubuhnya membentur aspal yang keras, Carlos yang berada tepat disampingnya, segera menyadari keberadaan Sheza di dekatnya.


Dengan sigap Carlos menangkap tubuh Sheza dan menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.


"Hhhh....nona Sheza, sudah aku bilang untuk tetap menunggu di mobil", gumam Carlos sambil menggeleng-menggelengkan kepalanya.


Zafier yang berada sedikit lebih jauh tidak sempat menangkap tubuh Sheza. Begitu ia menyadari tubuh Sheza saat ini tengah berada dalam pelukan Carlos. Zafier membeku di tempat. Netra abu-abunya menatap Carlos. Netra itu berubah menjadi sangat tajam dan dingin, menatap lurus ke arah Carlos dan menguarkan aura dingin yang mencekam.


Sejurus kemudian Carlos merasa udara di sekitarnya menjadi sesak, tengkuknya terasa dingin. Tanpa sadar matanya menatap ke arah sang tuan muda, ia bisa menangkap tatapan tajam dari sang tuan muda yang tertuju tepat ke dirinya. Tatapan dingin dan mematikan itu membuat Carlos mendadak gemetar. Ia hampir membeku saat melihat tatapan Zafier yang sedingin es.


Carlos menunduk. Tidak kuat menghadapi tatapan penuh aura dominan itu, ia merasa terintimidasi begitu saja. Jangan bilang anda cemburu tuan muda, batin Carlos. Ia meringis, menyadari situasi. Ia masih sayang nyawanya.


Ya ampun tuan! Jangan menatapku seperti itu. Kalau anda terus menatap saya dengan aura mengintimidasi seperti itu bisa-bisa jantung saya berhenti mendadak atau paling parah pindah ke area lain, ringisnya lagi. Ini kan bukan salah saya juga tuan, tidak mungkin saya membiarkan Sheza terluka karena membentur aspal yang keras ini, batinnya lagi.


Meskipun ekspresinya terlihat datar namun Zafier tidak dapat menyembunyikan kekesalannya melihat Sheza yang tengah berada di dalam pelukan Carlos.


Rahangnya mulai mengeras dengan guratan urat nadi yang nampak menonjol. Ekspresi dinginnya tak berubah, hanya ada kilatan emosi tersendiri di matanya. Rasanya ingin sekali menelan Carlos hidup-hidup.


Ia mengepalkan tangannya. Ia sendiri benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Rasa kesal dan geram berpadu di dadanya. Rasanya seperti ribuan jarum yang menghujamnya, terasa sakit hingga terasa berat saat hendak mengambil nafas. Ia benci dengan rasa ini.


Rasanya ingin sekali ia menghajar Carlos saat itu juga, tampang tidak bersalahnya itu benar-benar menyebalkan. Rasanya ia ingin sekali merebut tubuh Sheza dari dekapan Carlos. Ia kembali melirik tajam secara bergantian, dari wajah Carlos dan kemudian beralih pada Sheza yang berada dalam dekapan Carlos.

__ADS_1


__ADS_2