My Little Gwen

My Little Gwen
Pertemuan perdana


__ADS_3

Pagi itu Zafier sudah nampak rapi. Hari ini jadwal meetingnya dengan beberapa rekan bisnis. Kedatangannya adalah sebagai owner sekaligus CEO Internationale Safaraz Groep atau ISG, oleh sebab itu ia tampil dengan setelan resmi, balutan celana dan jas berwarna gelap, dengan baju dalam berwarna senada.



Zafier nampak terburu-buru karena asisten dan Anak buahnya sudah menunggu di lobby hotel sedari tadi. Zafier tidak memperhatikan jalannya, begitu keluar dari lift, ia bertabrakan dengan seseorang tepat di depan pintu masuk toilet hotel lantai dasar.



Ternyata Zafier menabrak seorang wanita, wanita itu menoleh dengan wajah jutek dan melihat siapa yang telah menabraknya. Sejurus Zafier pun menatap siapa yang ia tabrak. Tatapan mata keduanya bertemu, Zafier tak berkedip melihat sosok cantik didepannya. Bukan karena kecantikannya semata, tapi karena mata itu. 'Mata yang indah', gumam Zafier tanpa sadar.


"Apa kau tidak melihat jalanmu tuan", tanya gadis itu dengan suara lembutnya, tapi ada intonasi kesal dalam suara itu.


Zafier tersadar dari tatapan panjangnya. "Ummp... maaf nona, saya terburu-buru sampai menabrak anda", ujar Zafier dengan wajah menyesal.


"Lain kali tolong perhatikan jalanmu tuan, meski kau terburu-buru kau harus tetap fokus dan hati-hati. Untung hanya aku yang kau tabrak bukan wanita hamil", ujarnya lagi masih dengan nada ketus, sambil terus berjalan menuju toilet hotel. 'Sudah tau menabrak orang bukannya langsung minta maaf, malah bengong begitu, sama sekali tidak ada rasa bersalah sedikitpun', omel Sheza dalam hati.


Zafier hanya terdiam karena ia tau kalau ia memang salah. Namum senyum tersungging di sudut bibir tipisnya. 'Wanita yang menarik', tukasnya misterius. Kemudian Zafier melanjutkan jalannya menuju lobby hotel dimana para asisten dan anak buahnya menunggu.


Sementara itu di sudut ruangan, Karen memperhatikan adegan itu dengan tersenyum. Sejenak ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. 'Apa ini takdir tuhan, belum ada skenario apapun yang dilakukan tuan Ganial, mereka berdua sudah berinteraksi tanpa disengaja, yaa....walaupun kondisi bertemunya bukan dalam adegan romantis seperti di film-film', batin Karen. 'Aish.... si nona jutek banget, padahal tuan muda Zafier seganteng itu. Kalau aku yang di posisi nona, aku bakal minta kompensasi tabrakan, berupa perkenalan, bertukar nomor ponsel dan berakhir dengan makan malam romantis di resto mewah', gumam Karen lagi sambil berkhayal.


...----------------...

__ADS_1


Sementara itu Zafier tidak bisa tenang dalam perjalanannya. Bayangan gadis tadi masih bermain diotaknya. Wajah wanita itu seolah familiar baginya, tapi ketika ia berusaha mengingat-ingatnya, ia tetap tidak ingat pernah bertemu wanita itu dimana. Zafier suka mata itu, sebuah mata hazel yang mengingatkannya pada Gwen. Umumnya orang Indonesia asli tidak ada yang mempunyai mata berwarna hazel, bisa jadi wanita tadi menggunakan softlens pikir Zafier lagi.


Sebenarnya Zafier merasa agak janggal, biasanya banyak gadis akan pura-pura menabraknya, sebagai modus ingin kenalan. Baru tadi ia menabrak seseorang tanpa sengaja, tapi tadi gadis itu malah kesal padanya. Kalau gadis lain pasti akan langsung bersikap manis dan menggunakan moment itu untuk berkenalan dengannya.


Zafier tidak menampik, meski hanya sekejap ada perasaan nyaman di dekat wanita tadi meskipun wanita itu menampilkan wajah kesal, sikapnya pun tidak ada ramah-ramahnya sedikitpun. Biasanya Zafier akan merasa jijik berdekatan dengan wanita yang menggunakan modus menabrak dirinya.


Coba kalau tadi ia sedang tidak terburu-buru, ia pasti akan mengganggu wanita itu sampai wanita itu merasa benar-benar kesal atau mengamuk sekalian. Zafier tersenyum sendiri.


Semua tingkah laku Zafier tidak lepas dari pengamatan asistennya, Ruben. Ruben adalah asisten kepercayaannya setelah Gavin. Ruben warga negara Belanda, tapi masih memiliki darah Indonesia. Keluarganya sudah tinggal di Belanda sejak dulu.


Ruben terus saja memperhatikan Zafier, ketika senyum tipis Zafier menghias wajah tampannya, Ruben sempat ragu kalau-kalau ia salah lihat. Ruben sangat penasaran dengan apa yang menimpa bosnya, dari tadi Ruben menilai bosnya agak aneh. Di Belanda, bosnya sangat dingin, wajahnya nyaris tanpa ekspresi, benar-benar datar.


Apa karena sedang berada di tanah kelahirannya, maka tingkah dan prilaku si bos bisa berubah drastis begitiu, pikir Ruben lagi.


"Kau kenapa Ruben? Ada masalah? Kenapa pertanyaanku tidak kau jawab, malah sibuk menatapku, ada yang salah dengan wajahku", tanya Zafier menyelidik. Keningnya tampak berkerut.


"Eh, maaf tuan, aku melamun. Jadwal meeting pertama kita dengan tuan Surya Darmawangsa. Perusahaannya cukup kuat di kota J ini. Perusahaannya stabil dan sedang berkembanng, tidak ada masalah, prospek ke depannya cukup bagus. Tapi hasil penyelidikannya orang-orang kita, ia ada maksud terselubung juga dengan tuan. Tuan jangan kaget, kalau dalam pertemuan nanti, ia akan membawa putrinya Sherly Darmawangsa, sepertinya ia berusaha menjodohkan tuan dengan anaknya itu.", jelas Ruben panjang lebar.


"Apa ia mengetahui aku anak dari Zaki Safaraz? ", tanya Zafier lagi. Zafier enggan berbisnis dengan orang-orang yang mengetahui latar belakangnya. Ia ingin mengembangkan usahanya sendiri, ia ingin orang-orang tau dirinya bukan karena latar belakangnya. Dalam dunia bisnis pun, Zafier hanya memperkenalkan dirinya sebagai Zafier Alderts, dia tidak pernah menggunakan Chastelein sebagai nama keluarga ibunya, yang notebene adalah pebisnis yang cukup terkemuka di Belanda. Ia juga tidak pernah memperkenalkan diri sebagai Safaraz, nama keluarga ayahnya yang cukup disegani di dunia bisnis di tanah kelahirannya.


"Sepertinya tidak tuan, ia hanya tau tuan seorang investor dari luar negeri", jawab Ruben.

__ADS_1


"Oke, bagus kalau begitu Ruben, soal anak perempuannya, nanti kau urus saja selama pertemuan, kau tau aku paling tidak suka berdekatan dengan wanita", perintah Zafier lagi dengan wajah dingin.


"Siap tuan", jawab Ruben tegas.


Zafier kembali tenggelam dengan berkas-berkas proposal beberapa perusahan yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya. Tapi tiba-tiba pikirannya terganggu. Wajah cantik dan jutek dari wanita yang ditabraknya tadi pagi kembali melintas. Zafier mati-matian mengenyahkan bayangan wanita itu. 'Fokus Fier... fokus", gumamnya pelan berusaha menyemangati diri sendiri.


Selang hampir 50 menit di tengah kemacetan, akhirnya, akhirnya iring-iringan mobil Lexus LM350 yang membawa Zafier memasuki sebuah parkiran resto termewah di kota J. A B Restaurant, resto ini mengusung tema asia, yang menghadirkan makanan khas Jepang yang difusion dengan makanan Korea, sebagai olahan kretivitas dari chefnya sendiri.


"Kita sudah sampai tuan", tukas Ruben memecah perhatian Zafier.


Zafier bergegas turun dari kendaraannya. Diikuti sang asisten dan beberapa anggota timnya, beberapa diantaranya juga merupakan bodyguardnya.


Mereka segera mencari ruang VVIP di resto tersebut. Sebelum memasuki pintu resto, secara tidak sengaja mata Zafier menangkap satu sosok di sudut ruangan yang menarik perhatiannya. Matanya terpaku menatap seorang wanita yang sedang duduk melamun seorang diri, sepertinya tengah menunggu seseorang. Mata Zafier terus menatap wanita itu.


'Apa otakku sudah rusak, dimana-mana hanya wajahnya yang aku lihat', batin Zafier. Sejenak Zafier tersadar, pandangannya langsung beralih ke pintu ruang VVIP resto, selanjutnya ia memasuki ruang itu.


...****************...


Hahahay, akhirnya abang Fier ketemu non Sheza pujaan hatinya 🥰


Cuuus pantengin terus yaaaaak readers tercinta, episode ke depannya bakal makin seruuuu...

__ADS_1


Makasiiiii juga yaaa udah setia pada novel perdana akuuuh ini, maaafkeun atas typo sana sininya. Mohon likenya readers tercinta, biar akuuu semangat lanjutinnya 😊🙏🙏


__ADS_2