
Sheza masih menatap langit malam. Keindahan malam masih membiusnya. Sementara sosok tampan bernetra abu yang terus memperhatikannya sedari tadi sudah semakin dekat dengannya. Posisinya sekarang tepat di belakang Sheza. Iris obsidiannya menatap Sheza lekat, netra abu itu menatap tajam sekaligus lembut di waktu bersamaan.
Dari tempatnya berdiri sekarang Zafier bisa mencium aroma manis dan lembut yang menguar dari tubuh Sheza yang terbawa angin. Aroma sama yang ia cium saat kedekatan mereka di kota J. Aroma yang menenangkan Zafier. Ia menghidunya dalam-dalam. Alam bawah sadarnya begitu merindukan aroma ini.
Netra Zafier kemudian terpaku pada rambut bergelombang panjang yang terus bergerak ditiup angin. Tiba-tiba tanpa sadar tangan Zafier menahan rambut bergelombang yang berterbangan itu dan tanpa bisa dicegah helaian rambut yang berada di tangannya, dibawa ke arah wajah nya, kemudian Zafier mencium helaian rambut itu dengan penuh perasaan. Kedua netranya terpejam. Sangat menghayati moment itu.
Sementara Sheza masih belum bergeming. Ia masih belum menyadari kehadiran seseorang di dekatnya.
Di bawah sinar rembulan yang indah wajah cantik Sheza terlihat bersinar, ditimpa cahaya rembulan yang menerangi sekujur tubuhnya.
Sambil terus menatap langit malam, ia berdiri di balkon kamar dalam diam. Ia tidak mempedulikan dinginnya angin malam yang menerpa kulitnya.
Sesekali ia menghembuskan nafas sambil memejamkan matanya.
Tiba-tiba lintasan peristiwa demi peristiwa yang ia alami pada saat tidak sadar, kembali menerpa ingatannya. Otaknya kembali dipaksa untuk berpikir. Rasanya tidak mungkin ia mengalami kilasan peristiwa itu jika ia tidak punya hubungan dengan orang-orang yang ada di dalam mimpi itu. Hati kecilnya berkata bahwa ia memiliki hubungan dengan orang-orang yang ada di dalam peristiwa yang ia alami saat tidak sadar itu.
Entah kenapa ia tidak bisa mengingat masa kecilnya. Jika sang kakak, Seif dan daddy Zaki mengatakan bahwa ayah Arshaka hanyalah ayah angkatnya, kenapa ia tidak bisa mengingat momennya bersama orang tua kandungnya sewaktu kecil. Kenapa ia tidak bisa mengingat wajah kedua orangtua kandungnya.
Dalam peristiwa yang ia alami saat tidak sadar itu, ayah Arshaka menyelamatkan seorang gadis kecil yang mirip dengan anak yang bernama Gwen.
Apakah gadis kecil yang diselamatkan oleh ayah Arshaka itu adalah dirinya. Apa ayah Arshaka mengganti namanya. Apa ia memiliki nama asli Gwen. Jika ia adalah Gwen, maka wajah gadis kecil yang ada di dalam pigura foto kamar ini adalah dirinya saat kecil. Namun sepertinya gadis kecil dalam pigura foto itu sangat dekat dengan Zafier kecil. Jika memang mereka sangat dekat sewaktu kecil, kenapa ia tidak punya ingatan apapun tentang Zafier kecil. Ia juga tidak punya ingatan apapun tentang kedua orang tua Zafier.
__ADS_1
Sheza kembali memaksa otaknya untuk menggali lebih dalam, seandainya saja ada ingatan terpendam yang tidak mampu diingatnya dengan baik, namun hal itu menyebabkan kepala Sheza kembali berdenyut nyeri.
Kelopak mata indah itu berkedut, dahinya berkerut dalam, ringisan kecil keluar dari bibir pucat itu hingga tidak lama netra hazelnya terbuka.
Rasa nyeri seketika menyerang kepalanya karena ia memaksakan diri untuk mengingat kenangan masa kecilnya. Tangannya terulur untuk memijat area yang berdenyut di kepalanya, namun gerakannya terhenti saat ekor matanya melihat di bagian perutnya ada sesuatu yang asing. Sepasang tangan yang memeluk perutnya erat. Itu adalah moment terakhir yang Sheza ingat sebelum akhirnya ia kembali jatuh pingsan karena nyeri kepala hebat yang ia rasakan.
Flashback on
Zafier masih terhanyut mencium helaian rambut Sheza yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam genggaman tangannya.
Ketika netranya kembali terbuka, ia melihat tubuh Sheza mulai tidak stabil. Tubuhnya mulai terhuyung. Ia limbung dan berpegangan pada pembatas balkon, berusaha menahan tubuhnya sendiri. Beruntungnya, sebelum tubuh itu ambruk ke lantai, Zafier dengan sigap telah memeluk tubuh itu erat dari belakang.
Zafier bersyukur, ia berada di sana pada saat yang tepat. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saja di balkon itu tidak ada dirinya.
Zafier bergegas mengangkat tubuh Sheza, Kemudian membawanya menuju ranjang. Ia meletakkan tubuh itu dengan hati-hati di atas ranjang.
Karen yang sudah bangun sedari tadi, nampak kebingungan.
"Saya akan memanggil Oleta, tuan!", ujarnya sambil berjalan ke arah pintu, dan menghilang di sana.
Zafier tidak merespon ucapan Karen, pikirannya hanya tertuju pada Sheza. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia menekan sebuah nomor. Tak berapa lama nama Niko tertera di sana.
__ADS_1
Ia harus mengesampingkan rasa tidak sukanya jika Sheza diperiksa oleh dokter laki-laki. Ia tidak mungkin menunggu dr. Tracy untuk memeriksa Sheza. Zafier yakin ada sesuatu yang diderita Sheza karena untuk orang yang menderita pingsan biasa saja, mereka pasti akan segera pulih dan tidak akan mengalami sakit kepala yang berlebihan seperti Sheza.
Begitu ponsel terhubung, Zafier langsung memberondong dr. Niko dengan perintah.
"Halo Niko, kau harus segera ke ruang kamarku di lantai dasar. Sheza kembali tidak sadarkan diri kau harus segera memeriksanya", perintah Zafier tegas.
"Baik Zafier!", ujar dr. Niko patuh. Tanpa banyak komentar, dr. Niko langsung menyetujui permintaan Zafier. Ia tahu saat ini kondisi sedang darurat. Profesionalismenya sebagai seorang dokter tiba-tiba saja bangkit, padahal beberapa waktu yang lalu, ia merajuk karena merasa Zafier telah melecehkan profesinya itu.
Oleta sudah lebih dulu sampai di kamar dimana Sheza terbaring. Wajahnya nampak cemas begitu mendengar informasi dari Karen bahwa Sheza kembali tidak sadarkan diri, apalagi di dalam itu ia mendapati tuan muda Zafier dengan wajah yang sangat dingin.
"Tuan maafkan saya karena meninggalkan noma Sheza, saya kembali untuk mengawasi kondisi tuan besar Zaki", ujar wanita itu dengan kepala tertunduk. Tidak berani menatap sang tuan muda, auranya begitu mendominasi.
"Aku mengerti Oleta. Tadi aku sudah menghubungi dr. Niko karena aku merasa bahwa apa yang dialami oleh nona Sheza ini cukup serius. Kalau ia hanya mengalami pingsan biasa, maka ia akan cepat pulih. Tapi sepertinya kali ini ia mengalami sakit kepala yang berlebihan. Kau bantu saja dr. Niko ketika memeriksa Sheza", perintah Zafier datar.
"Baik tuan", awab Oleta patuh. Wajahnya masih menunduk.
Beberapa saat kemudian dr. Niko sudah memasuki kamar dimana Sheza berada. Dr. Niko membawa semua perlengkapan medisnya. Dr. Niko langsung menuju ranjang Sheza. Dengan bersemangat ia bermaksud melakukan pemeriksaan langsung pada tubuh Sheza.
Sementara itu, Zafier berdiri bersebrangan dengan dr. Niko. Ia berdiri di sisi lain ranjang. Ia mengamati semua gerak-gerik dr. Niko dengan tatapan tajam dan aura mengintimidasi.
.
__ADS_1