My Little Gwen

My Little Gwen
Kepingan memori


__ADS_3

Sheza merasa tubuhnya melayang. Tak lama kemudian ia menapak di tanah, berjalan bebas di sebuah taman yang indah. Bunga-bunga sedang bermekaran di taman itu. Sheza menikmati pemandangan itu dengan hati yang bahagia. Sungguh pemandangan yang sangat memanjakan mata dan hati.


Setelah puas menikmati indahnya bunga-bunga itu, netra Sheza memindai kondisi di sekitarnya. Ia memperhatikan sudut demi sudut taman itu.


Tapi........


Kenapa ada perasaan sangat familiar dengan suasana taman ini, batin Sheza. Rasanya ia sangat mengenal setiap sudut dari taman ini. Otak Sheza berusaha menggali memori yang berisi tentang tampilan taman ini dalam otaknya. Kapan dan dimana kira-kira ia pernah melihat taman yang sama.


Tapi, kemudian perhatian Sheza teralihkan. Netra Sheza mengarah ke bagian tengah taman. Di sana terdapat sebuah ayunan besi yang kokoh dan antik, benar-benar ayunan yang bagus.


Sheza berjalan menuju ke arah bagian tengah taman, ia merasa begitu tertarik untuk mencoba ayunan itu. Pasti sangat asyik berayun di atasnya, gumamnya. Ia terus berjalan mendekati ayunan itu.


Hanya beberapa meter hendak mencapai ayunan itu, tiba-tiba ia melihat seorang gadis kecil berlari menuju ayunan itu. Gadis kecil itu kemudian menarik ayunan dan mulai duduk diatasnya. Langkah Sheza seketika terhenti, ia hanya mengamati gadis kecil itu dari tempat dimana ia berhenti. Rasanya sangat tidak lucu kalau ia harus berebut ayunan dengan gadis kecil itu.


Sheza memutuskan untuk mengalah, ia hanya diam mengamati gadis kecil yang sudah menampakkan kecantikannya di usia belia itu. Sebenarnya Sheza merasa sedikit aneh. Bagaimana mungkin gadis kecil itu tidak menyadari keberadaannya. Gadis kecil itu nampak asyik, tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadirannya, bahkan gadis kecil itu tidak meliriknya sedikitpun.


Tapi ..... tunggu dulu! Sheza menyadari sesuatu. Wajah gadis kecil yang sedang bermain ayunan di depannya saat ini terasa sangat familiar. Sheza kembali berusaha mengingat-ingat di mana dan kapan ia pernah bertemu atau melihat gadis kecil ini. Tapi lagi-lagi ia tidak ingat.


Tak berapa kemudian seorang pria kecil mendekati gadis kecil itu. Jika diamati, secara fisik mereka berdua memiliki umur yang berbeda jauh. Gadis kecil itu masih terlihat seumuran anak SD, sementara si pria kecil lebih terlihat seperti seorang anak remaja.


Gadis kecil itu menyadari kedatangan si pria kecil. Ia menatap si pria kecil. Netra hazelnya berbinar penuh harap.


"Fier, bisakah kau bantu aku mendorong ayunan ini?", tanya si gadis kecil manja dengan netra yang memohon.

__ADS_1


Tapi si anak laki-laki yang dipanggil Fier itu hanya diam saja. Ia mengabaikan permintaan si gadis kecil. Sekilas ia terlihat acuh, namun netranya menatap gadis kecil itu lembut. Meski samar, sudut bibir pria kecil itu membentuk senyuman. Sementara netra abu itu nampak berbinar, seolah menghabiskan waktu bersama gadis kecil yang sudah nampak cantik diusianya yang masih belia itu, adalah hal yang sangat membahagiakan buatnya.


Tiba-tiba ekspresi si pria kecil berubah. Ia ingat sesuatu. Keningnya nampak berkerut, netranya nyaris melotot.


"Berapa kali harus kubilang, panggil aku kakak, Gwen. Usiaku lebih tua darimu, bisa-bisanya kau memanggil namaku saja", tukas pria kecil itu sedikit emosi.


Gadis kecil itu menatap si pria kecil lekat, kemudian tertawa memamerkan gigi-gigi kecilnya yang putih dan rapi.


"Kenapa harus memanggilmu kakak? Kulihat ketika saudara mommy Alexa datang ke mansion ini kau hanya memanggil nama mereka. Padahal mereka jauh lebih tua darimu", ujar gadis kecil itu santai.


Pria kecil itu tertegun. Kemudian berkata, "Kau tidak lihat mereka berbeda dengan kita. Mereka berasal dari negara kelahiran mommy, Belanda. Mereka itu adalah orang luar negeri, budaya mereka berbeda dengan kita. Memanggil nama langsung pada seseorang yang lebih tua merupakan hal yang biasa bagi mereka".


Gadis kecil itu menatap si pria kecil bingung.


Pria kecil hanya bisa menghela nafas kesal. Ingin marah padamu, tapi aku sayang, teriaknya dalam hati.


"Fier, ayolah dorong aku yang tinggi", rengek gadis kecil itu kembali. "Aku ingin ayunan ini melayang tinggi", ujarnya lagi setengah berteriak. Ia mulai kesal karena belum mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Nee (Belanda: tidak) Gwen, cukup digoyang pelan seperti itu saja. Aku tidak mau kau terjatuh", ujar pria kecil itu. Dalam ucapannya tersirat kekhawatiran yang amat sangat. Sementara raut wajah si gadis kecil mulai tidak enak, ia merajuk.


Si pria kecil tetap tenang. Netranya terus mengawasi gadis kecil yang tengah bermain ayunan. Tatapannya sama sekali tidak lepas barang sedetikpun dari gadis kecil itu.


"Hmm ... tunggu dulu. Kenapa wajah kedua anak kecil itu begitu familiar buatku?", gumam Sheza pelan.

__ADS_1


"Ya ... rasanya aku pernah melihat kedua wajah itu tapi di mana ya?", Sheza mengetuk-ngetuk kepalanya, berusaha untuk mengingat-ingatnya kapan dan dimana ia pernah melihat kedua anak kecil ini.


"Haaaa .... Oh iya, aku baru ingat. Wajah kedua anak kecil itu pernah aku lihat di dalam foto yang terdapat di kamarnya putra daddy Zaki. Yaa ... tidak salah lagi, di kamar Zafier", ujar Sheza nyaris berteriak senang karena berhasil mengingatnya.


Netra Sheza terus memperhatikan kedua anak kecil yang asik bermain di taman itu. Sebenarnya lebih tepatnya hanya si gadis kecil yang bermain ayunan di taman itu, sementara si pria kecil lebih hanya mengawasi gadis kecil itu bermain.


Baru saja Sheza mengingat siapa kedua anak kecil itu. Tiba-tiba suasana di sekelilingnya berubah. Ia tiba-tiba berpindah ke dalam sebuah mansion yang mewah. Ia mengamati situasi di sekitarnya, lagi-lagi ia merasa begitu familiar di dalam mansion mewah ini.


Tak berapa kemudian dua orang anak yang tadi dilihatnya di taman, kali ini tengah berlari-larian di dalam rumah. Lagu-lagi, kedua anak kecil itu tidak menyadari keberadaannya diantara mereka.


Si gadis kecil nampak mengejar sang pria kecil berwajah tampan itu. Wajah gadis kecil itu nampak cemberut. Ia nampak mulai kesulitan bernafas, nafasnya terengah-engah karena kelelahan mengejar pria kecil yang asyik tertawa itu.


"Fier... Fier...!", teriakan seorang gadis kecil menggema di ruangan itu. Ia sibuk mengejar seorang pria kecil yang tertawa senang menggodanya. Kaki kecilnya terus berlari mengiringi langkah kaki pria kecil itu.


"Fier, berhentilah, Gwen capek, kembalikan barbie Gwen, Fier", pintanya memohon.


"Boleh, kalau Gwen bisa menyusul Fier", usil pria kecil itu.


" Fier...", rajuk Gwen.


"Oke.... oke Fier kembalikan tapi cium ya", pintanya. Senyuman licik terbit di wajah tampan si pria kecil.


"Tidak mau, kata mommy bukan muhrim, daddy bilang gak boleh cium laki-laki sembarangan, cuma boleh cium daddy ", tolak Gwen kesal, netranya melotot marah.

__ADS_1


__ADS_2