
Tak berapa lama kemudian kendaraan Zafier memasuki kawasan hutan. Di sebuah lokasi di tengah hutan yang berjarak puluhan kilometer dari pemukiman terdekat di perbatasan kota P terdapat sebuah bangunan yang sangat besar.
Orang tidak akan menyangka jika jauh di tengah hutan yang tidak tersentuh manusia ada sebuah bangunan yang sangat terawat. Lingkungan di sana tampak berkamuflase menjadi sebuah lahan pertanian beserta pabrik besar dengan lokasi yang sangat luas nyaris puluhan hektar, di sekelilingnya dibangun tembok dan pagar yang sangat tinggi. Area dalam jangkauan beberapa kilometer sebelum lokasi selalu disterilkan oleh para pengawal. Ada bagian yang memantau siapa saja yang memasuki wilayah mereka meski dari jarak beberapa kilometer dari pintu gerbang. Wilayah ini tidak akan bisa dideteksi dengan cara apapun.
Para pekerja di lokasi itu memang tampak seperti pekerja-pekerja biasa, tapi mereka sebenarnya adalah pengawal-pengawal terlatih dengan ketahanan dan kemampuan luar biasa.
Tempat ini memang sekaligus dijadikan semacam markas, gudang senjata dan camp pelatihan.
Kendaraan Zafier sampai di depan pintu gerbang yang kokoh dan tinggi. Tiba-tiba saja pintu gerbang otomatis terbuka dengan sendirinya. Kendaraan mereka memasuki halaman yang sangat luas. Sebelum mencapai bangunan utama mereka harus melewati halaman yang banyak ditumbuhi pepohonan tak ubahnya seperti hutan.
Sementara itu .....
Jeritan putus asa terdengar di ruang bawah tanah, dengan pencahayaan yang minim. Tercium bau anyir darah yang sangat kuat dan begitu menusuk indra penciuman.
Wajah Zafier kali ini sungguh berbeda dari kesehariannya. Wajah datar dengan sepasang netra abu yang tajam kali ini memancarkan Aura membunuh. Seolah Aura itu telah mendarah daging di dalam tubuhnya dan kali ini muncul secara alamiah.
Zafier yang didampingi Juan dan Carlos memasuki sebuah ruangan yang begitu luas. Lantai yang berwarna putih telah berubah warna menjadi merah akibat ternoda oleh darah para penjahat.
Dalam ruangan itu terdapat puluhan pria berbadan tinggi dan besar lainnya. Mereka berdiri di posisi masing-masing dalam kondisi waspada.
Hanya tersisa enam penjahat yang masih hidup setelah peristiwa jalanan itu. Sisanya sudah dibersihkan oleh orang-orang Zafier.
Para pria yang merupakan penjahat itu di lempar ke dalan ruangan yang berbeda. Mereka yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah disiksa, masih dalam kondisi diikat dan dirantai. Seember air menyiram tubuh para penjahat itu, mereka terbangun dan gelagapan.
Zafier memasuki salah satu ruangan dimana pemimpin para penjahat itu ditahan. Para anak buah yang berada di dalam ruangan itu melakukan bow begitu Zafier memasuki ruangan. Salah seorang anak buah membawa sebuah kursi agar Zafier bisa duduk.
__ADS_1
"Silahkan tuan muda!", ujarnya dengan hormat.
Zafier hanya mengangguk, kemudian berjalan menuju kursi.
Hari ini Zafier tidak akan membiarkan sisa orang-orang yang nyaris menculik dan melukai calon ibu sambungnya mati dengan mudah. Mereka berniat menyakitinya bukan? Maka ia akan membuat orang-orang itu merasakan apa yang disebut kehidupan yang lebih buruk dari kematian, sampai mereka memohon kepadanya untuk mati agar penderitaannya segera berakhir.
Zafier duduk di kursi itu, ia mengamati kondisi di sekitarnya. Melihat sang penjahat yang sudah terbangun akibat disiram air oleh salah satu anak buahnya.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasa begitu bersemangat seperti saat ini, batinnya. Senyum dinginnya mengembang, terlihat sadis.
"Baguslah, kau sudah bangun, aku tidak sabar menyiksamu", seringai Zafier.
Begitu sadar, pria itu memberontak, tapi usahanya sia-sia saja, rantai yang besar membelenggunya dengan kuat.
Zafier yang sudah berada di ruangan itu hanya menatap dingin orang itu. Netranya bengis. Kemudian suara baritonnya yang berat dan dalam bergema memecah Kesunyian di ruangan penyiksaan itu.
Penjahat itu diam dan acuh, ia tidak menanggapi pertanyaan Zafier. Ia malah balik menatap Zafier dengan tajam.
Zafier nampak tenang, tidak terprovokasi sama sekali. Kemudian ia menganggukkan kepala pada anak buah yang berada di ruangan itu. Detik berikutnya terdengar teriakan kesakitan dari dalam ruangan itu.
Para anak buah Zafier tidak menghentikan penyiksaannya, meski teriakan memilukan terdengar dari mulut penjahat itu.
"Kau sangat berisik, tambah siksaannya, cambuk ia 100 kali", perintah Zafier.
Cambuk yang dipenuhi dengan duri tembaga menyentuh kulit orang itu. Akibatnya punggung pria itu dipenuhi oleh luka cambukan yang panjang dan dalam.
__ADS_1
Zafier menatap dingin anak buahnya yang mencambuk tubuh penjahat itu satu per satu. Tapi cambukan itu tidak kunjung membuat penjahat buka mulut meskipun tubuhnya sudah berlumuran darah.
"Bunuh saja aku tuan. Kau tidak akan mendapatkan jawaban apapun dariku", ujar pria itu tenang meski wajahnya cukup menyiratkan penderitaan.
Zafier cukup salut dengan ketangguhan pria itu. Kemudian ia menganggukkan kepalanya pada salah seorang anak buahnya yang tengah memegang senjata. Anak buah itu kemudian menembak orang itu dititik yang tidak terlalu fatal, tetapi amat sangat menyakitkan.
"Jangan berhenti, sebelum aku menyuruh berhenti!", Perintah Zafier pada anak buahnya yang sedang memegang senjata itu.
"Baik tuan muda", ujarnya patuh.
Dan tak berapa lama kemudian teriakan kesakitan kembali menggema di ruangan itu.
"Kau sangat lemah, hanya disiksa begitu saja kau sudah berteriak-teriak", bentak Zafier.
"Tuan tolong bunuh saja aku. Aku tidak sanggup lagi menerima siksaan yang begitu mengerikan", ujarnya menggunakan sedikit kekuatan yang tersisa untuk memohon.
Zafier yang sedang duduk di kursi sembari menghirup sebatang rokok sama sekali tidak menanggapi ucapan orang itu. Ia juga terganggu dengan pemandangan mengerikan yang ada di depannya.
Sebagai pemimpin dari teman-temannya yang lain penjahat ini pasti mengetahui siapa yang membayarnya. Zafier masih ingin bermain-main dengan pimpinan penjahat itu. Zafier ingin melihat sampai dimana ia mampu bertahan menghadapi siksaan demi siksaan yang menderanya.
"Juan, aku dan Carlos akan melihat para penjahat yang lainnya. Kau siksa saja dia sampai ia buka mulut. Jika ia masih tidak buka mulut maka perlihatkan kartu As kita padanya. Aku yakin setelah itu, ia pasti buka mulut tentang siapa dalang dibalik rencana penculikan itu", perintah Zafier tenang.
"Siap tuan muda", jawab Juan sambil menunduk hormat sebelum Zafier pergi.
Zafier kemudian meninggalkan ruang penyiksaan itu. Ia berjalan menuju ruangan di mana lima orang penjahat lainnya disiksa.
__ADS_1
Begitu memasuki ruangan selanjutnya, aroma darah kembali menguar, bahkan kali ini lebih kuat.
Kondisi mereka tidak lebih baik dari pimpinan mereka. Mereka digantung di dinding. Tubuh mereka penuh luka bahkan wajah beberapa pria itu nyaris tidak bisa dikenali lagi akibat puluhan pukulan yang didapatkannya