My Little Gwen

My Little Gwen
Zafier terhipnotis


__ADS_3

Malam semakin larut. Kedua pria tampan yang sudah bersahabat sejak kecil itu tampak masih terlibat pembicaraan serius. Dr. Niko tetap mengejar jawaban Zafier atas semua keingintahuannya.


"Ayolah Zafier. Aku tahu betul siapa dirimu. Bagaimana mungkin Seorang OCPD (Obsessive-Compulsive Personality Disorder) sepertimu membiarkan orang lain menggunakan ranjang dan kamarmu? Bukankah tidak sembarang orang yang dapat mengakses barang-barang pribadimu. Sedangkan untuk membersihkan kamarmu saja, hanya boleh dilakukan oleh Draco saja. Seseorang dengan memiliki latar belakang pendidikan sarjana di bidang kesehatan malah kau jadikan pelayan di mansionmu. Sungguh penghinaan terhadap sebuah profesi", cibir dr. Nico geleng-geleng kepala. Sungguh di luar nalar tindakan sahabatnya yang satu ini.


"Kau terlalu melebih-lebihkan Nico. Sepertinya kau lupa kalau gaji Draco berkali-kali lipat lebih besar dari gaji profesi orang-orang dengan latar belakang yang sama dengan Draco", ujar Zafier. Ia menatap dr. Nico acuh tak acuh.


"Ya ya ya... kau punya uang, kau punya kuasa", ledek dr. Nico. Zafier memutar matanya malas.


"Dan sekarang, aku menuntut penjelasanmu. Siapa wanita cantik itu?", tanya dr. Nico.


Zafier menghela nafas. Menatap sahabatnya itu penuh arti.


"Aku sedang malas menjelaskannya. Kau cari tahu saja sendiri, bukannya itu keahlianmu", ujarnya pendek.


Zafier bingung harus menjelaskan apa, karena ia sendiri bingung dengan tindakannya. Kenapa ia membawa Sheza ke kamarnya dan membaringkannya di ranjangnya sendiri. Sementara kamar di mansion ini amat sangatlah banyak. Ia melakukan semua itu secara reflek saja, mengikuti insting dan hatinya. Jika ditanya alasannya, ia sendiri tidak tahu. Ia hanya merasa harus membawa wanita itu ke sana. Haah, bagaimana cara menjelaskannya, keluh Zafier dalam hati.


Untuk menutupi kebingungannya dan menghindari pertanyaan sahabatnya yang sangat kritis itu, Zafier pun berpura-pura sibuk dengan laptopnya.


Sejurus kemudian keheningan dalam ruang kerja dikejutkan suara Zafier menjawab video door access phone (video interkom) dari luar ruangan.


" Masuklah!", ujar Zafier pendek.

__ADS_1


Selang tak berapa lama pintu ruangan terbuka. Adolf memasuki ruangan, ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat pada Zafier. Zafier menganggukkan kepalanya.


"Ada apa paman?", tanya Zafier pada sosok pria setengah baya itu.


"Maafkan saya yang mengganggu kenyamanan tuan muda. Saya ingin melaporkan kalau nona Sheza sudah sadar. Nona berada dalam keadaan baik, ia hanya mengeluhkan nyeri di bagian kepala. Selebihnya kondisi nona dalma keadaan stabil. Apa perlu saya menyuruh Oleta menghadap tuan muda untuk melaporkan secara detail?", tanya Adolf.


"Tidak usah paman, penjelasanmu sudah cukup", jawab Zafier datar. Tatapan tajam netranya cukup membuat orang yang berbicara dengan terintimidasi, meski ia tidak melakukan apa-apa. Itu juga yang tengah dirasakan oleh Adolf. Ia sedikit ragu untuk menyampaikan pesan dari Sheza.


Zafier menangkap kebingungan itu di wajah Adolf. Netranya lagi-lagi menelisik Adolf.


"Ada yang ingin paman sampaikan?", tanya Zafier, netra abunya menatap penasaran. Tidak biasanya paman Adolf seperti ini, pikirnya.


Zafier terkejut. Keningnya sedikit berkerut. Dari mana ia tahu kalau itu adalah kamarku pikirnya. Zafier menghela nafas, berusaha menetralkan emosi.


"Biarkan ia beristirahat di sana hingga ia pulih kembali paman. Jika ia sudah pulih ia bisa kembali menempati kamarnya yang terdahulu", jawab Zafier datar. Netranya masih terfokus pada laptop yang berada di depannya.


"Baiklah tuan muda. Apa ada yang tuan muda butuhkan saat ini?" tanya Adolf lagi sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Tidak paman, aku akan menghubungi paman, jika ada yang aku butuhkan", jawab Zafier.


Adolf pun bergegas meninggalkan ruangan itu, sebelum pergi ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat pada Zafier.

__ADS_1


...----------------...


Sementara itu ......


Sheza yang sudah terjaga sedari tadi tidak bisa memejamkan matanya kembali. Ia hanya duduk terdiam bersandar pada sandaran ranjangnya. Mengingat-ingat kembali peristiwa yang ia alami di dalam ketidaksadarannya cukup membuat nyeri di kepalanya semakin bertambah. Tapi mengenyahkan semuanya juga bukan perkara mudah. Peristiwa-peristiwa itu tampil begitu saja di otaknya seperti cuplikan video yang diputar secara otomatis. Semua terjadi bukan di bawah kendalinya.


Sheza menarik nafasnya kemudian menghembuskannya perlahan mencoba mengendalikan otaknya sendiri. Perlahan bayangan peristiwa demi peristiwa yang dialami di dalam kondisi tidak sadar itu bisa ia kendalikan. Nyeri di kepalanya pun mulai berkurang.


Setelah nyeri di kepalanya benar-benar hilang. Sheza pun menegakkan tubuhnya dari sandaran ranjang. Netranya mengamati kondisi sudut demi sudut ruangan itu. Setelah menguasai situasi, Ia mulai bergerak turun dari ranjang, kemudian berjalan dengan bertelanjang kaki.


Sheza ia melangkahkan kakinya menuju arah balkon. Sesampainya di balkon ia berdiri di pinggiran balkon. kepalanya menengadah ke arah langit, netranya terpejam. Ia menarik nafas lebih dalam berharap udara malam yang masuk ke paru-parunya, ikut membersihkan semua ingatan yang ada di otaknya.


Perlahan netra berwarna hazel itu terbuka. Netranya menatap langit. Bulan telah menggantikan tahta sang raja siang itu dengan anggun dan tampak bersahaja. Cahaya bulan keperakan itu menggantikan sinar keemasan sang mentari untuk menerangi dunia yang gelap gulita. Bintang-bintang kecil yang mengelilinginya seperti para pelayan yang siap melayani sang ratu malam kapanpun ia mau. Pemandangan langit malam ini sangat indah. Sheza selalu takjub ketika melihatnya. Cukup lama Sheza berdiri di sana, menikmati pemandangan malam yang memanjakan mata. Hingga ia tidak menyadari seseorang sedang memperhatikannya di tempat yang sama.


Yaa ... Begitu mendengar informasi dari Adolf kalau Sheza sudang sadar, sosok pria tampan bernetra abu itu langsung bertolak ke ruangan kamarnya dimana Sheza berada, untuk memastikan kondisi wanita itu. Zafier lebih berinisiatif melihat langsung kondisi Sheza, alih-alih meminta informasi langsung pada Oleta.


Awalnya ia begitu cemas, ketika tidak mendapati wanita itu di ranjangnya. Sampai selintas kemudian ia menangkap siluet seseorang dari arah balkon luar. Ia seakan terhipnotis. Melangkah ke arah balkon tanpa di sadari. Dan benar saja, ia mendapati sosok cantik itu tengah menikmati pemandangan langit. Sementara ia sendiri tengah menikmati keindahan Sheza. Iris obsidiannya menatap Sheza lekat, nyaris tak berkedip.


Kali ini Zafier bisa mengamati wajah cantik Sheza sepuas-puasnya. Rambut indahnya yang panjang bergelombang tampak sesekali bergerak ditiup angin malam. Kulitnya seputih salju dengan wajah yang masih terlihat pucat. Bibirnya tipisnya yang berwarna merah tampak seperti buah ceri yang begitu menggoda untuk dicicipi. Hidungnya mancung dan kecil. Iris matanya yang indah berwarna hazel. Bulu mata yang panjang dan lentik serta alis hitam yang rapi bak semut beriring. Keseluruhan wajahnya benar-benar memukau. Sungguh merupakan karya Tuhan yang paling indah.


Sementara Sheza masih terlena menatap langit. Ia belum menyadari kehadiran orang lain di tempat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2