My Little Gwen

My Little Gwen
Bertatapan


__ADS_3

Sheza bergegas berjalan keluar dari resto hotel menuju lobby untuk mengejar Karen yang sudah terlebih dahulu keluar untuk menghindari amarahnya.


Sepanjang langkahnya dari resto sampai ke lobby hotel, nyaris berpasang-pasang mata pria menatapnya penuh kekaguman, sungguh sebuah mahakarya tuhan yang tak terbantahkan kecantikannya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain takjub dan menikmati pemandangan yang melintas di depan mereka. Sementara Sheza tidak mempedulikan semua tatapan itu. Netranya fokus mengamati sekitar untuk menemukan keberadaan Karen yang tidak terlihat olehnya.


Sheza berpapasan dengan seorang pria di lobby hotel. Pria tampan, berkulit tan seperti kulit khasnya orang Indonesia, dengan postur tinggi dan atletis, dibalut setelan jas berwarna navy, menambah kadar ketampanan pria itu. Ia menatap penuh pemujaan pada Sheza. Netra hitamnya yang tajam terlihat terus tertuju pada Sheza yang nampak amat sangat menarik di kedua matanya.


Sangat jelas terlihat di kedua netra hitam pria itu ada rona berbinar penuh puja. Ia menatap Sheza terang-terangan tanpa ragu atau malu. Dan situasi itu sangat disadari oleh sosok pria lain bernetra abu-abu di sudut berbeda di lobby hotel itu. Ia memperhatikan dengan seksama semenjak pertama netra hitam itu menatap lekat pada Sheza. Tatapan itu terlihat dengan sangat jelas. Si pria bernetra abu-abu tengah menatap pria itu penuh perhitungan


Kenapa pria sialan itu terus menatap Sheza penuh minat, jangan bilang si brengsek itu menyukai Sheza, pria bernetra abu-abu terus saja bergumam kesal di dalam hati. Dadanya terasa terbakar kala melihat tatapan pria itu pada Sheza. Tatapan penuh puja dan minat seorang pria pada wanita. Ia yakin jika pria itu bukan hanya menyukai Sheza tapi juga sangat sangat menyukainya. Tatapan pria bernetra abu-abu terlihat tajam, dingin dan juga begitu datar. Walaupun ekspresinya dingin tetapi sorot mata abu-abu itu secara terang-terangan menunjukkan kesinisan karena rasa tidak suka. Jika tatapannya diibaratkan sinar laser niscaya tubuh pria bernetra hitam itu telah tercabik-cabik sedari tadi.


Pria bernetra hitam itu masih saja menatap Sheza nyaris tanpa berkedip. Bahkan saking tidak fokusnya, ia sampai tersandung kakinya sendiri dan nyaris tersungkur kalau saja ia tidak berpegangan pada seseorang yang berada di sampingnya sedari tadi. Pria di sampingnya itu sedikit terkejut dan memegangi pria itu dengan kuat.


"Anda tidak apa-apa tuan?", tanya pria di sampingnya, ia terlihat cemas.


Pria bernetra hitam itu mengangguk. Ia kembali berdiri dengan baik, ia mengibas-nibaskan jasnya kemudian memasukkan kedua tangannya ke kantong celana, berjalan dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa, namun sesekali netranya masih mencuri pandang ke arah Sheza sampai Sheza menghilang di balik pintu keluar.

__ADS_1


Sementara itu, Sheza yang sedang sibuk mencari keberadaan Karen diantara orang-orang yang ada di lobby, masih tidak mempedulikan tatapan orang-orang tersebut. Merasa tidak menemukan Karen diantara orang-orang yang ada di lobby hotel, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.


Namun tidak sama halnya dengan pria bernetra abu-abu yang tengah berada di sudut lobby itu. Pemilik netra abu-abu itu tampak terus mengawasi Sheza. Netranya masih menatap tidak suka pada pria bernetra hitam itu. Pandangan matanya masih saja sama seperti sebelumnya, sangat dingin dan tajam seakan-akan ingin menelan pria bernetra hitam itu untuk hidup-hidup.


Si pria bernetra abu terkejut, ketika menyadari Sheza mulai menjauh. Ia melihat Sheza yang terus berjalan tergesa, hingga nyaris hilang dari pandangannya. Ia pun bergegas berdiri dari sofa, beranjak mengikuti langkah kaki Sheza dengan hati-hati, seolah takut ketahuan.


Begitu keluar dari hotel, Sheza langsung berjalan menuju area dimana kendaraan mereka tadi diparkir. Sheza masih tetap memperhatikan sekitarnya berharap ia menemukan sosok Karen. Namun hingga Sheza sudah berada di dekat kendaraan, ia tidak juga melihat keberadaan Karen.


Kening Sheza sedikit berkerut karena ia menyadari mesin mobil mereka dalam keadaan hidup. Ia merasa senang karena ia berpikir bahwa Karen sudah berada lebih dahulu di dalam mobil. Sheza terus berjalan menuju mobil. Ia kemudian membuka pintu mobil. Tidak terkunci, gumamnya pelan.


Namun Sheza tidak mendapati Karen berada di dalam mobil. Ia tertegun. Hmm ... Karen tidak ada di sini, kemana dia?, gumam Sheza pelan. Keningnya semakin berkerut, bingung.


Sheza memutuskan untuk menunggu Karen di dalam mobil saja. Sheza tidak menaruh curiga sama sekali, ia berpikir kemungkinan Karen merasa hendak buang air kecil ketika masuk ke dalam mobil, itulah mengapa ia meninggalkan mobil dalam keadaan hidup. Sheza kembali asyik mengakses ponselnya.


Sheza masih fokus dengan ponselnya, ketika ia menyadari seseorang membuka pintu mobilnya. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel sama sekali dalam pikirannya yang membuka pintu dan mengambil alih kendaraan pastilah Karen.

__ADS_1


Sampai kemudian setelah merasakan aura yang berbeda dari orang yang duduk di sampingnya. Sheza mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke arah kanan untuk dapat menatap dengan jelas wajah orang yang berada di sampingnya.


Ada ekspresi terkejut di wajah Sheza, saat ia memperhatikan sosok yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Sheza tertegun saat melihat sosok tampan yang tengah fokus mengambil alih kemudi mobilnya saat itu. Kening Sheza berkerut sebuah tanda tanya besar bersarang di otaknya saat ini, kenapa tuan muda ini yang mengambil alih kemudi mobilnya saat. Sheza masih fokus memperhatikan aktivitas pria yang berada di sampingnya, sementara otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.


Di saat bersamaan, pria itu tiba-tiba menoleh ke kiri, tepat ke arah wanita cantik yang juga tengah menatapnya penuh tanda tanya.


Deg.. Deg.. Deg!!


Netra mereka beradu dan dalam sepersekian detik sang pria yang tak lain adalah Zafier sempat merasa obsidiannya tersedot masuk ke dalam manik hazel nan indah itu. Keduanya saling menatap satu sama lain, waktu seolah berhenti berputar di sekitar mereka saat itu.


Mereka saling bertatapan beberapa saat, sampai akhirnya Sheza memutus kontak mata itu dengan melihat sisi luar jendela, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Mereka berdua diliputi keheningan.


Tiba-tiba Sheza merasa jantungnya berdetak cepat, tak beraturan. Ia merasakan wajahnya perlahan menghangat. Sheza yakin saat ini wajahnya pasti merona. Ia merasa sedikit gugup dan salah tingkah. Ia benar-benar merasa malu karena tertangkap basah tengah menatap pria tampan disebelahnya. Padahal maksud Sheza hanyalah mempertanyakan keberadaan sang tuan muda saat ini di dalam mobilnya. Ia pasti akan salah paham, batin Sheza.


Sudut bibir Zafier sedikit tertarik ke atas, sebuah senyuman yang teramat sangat samar. Bahkan nyaris tidak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2