
Setelah rapat proyek kerjasama yang diikuti oleh Arsen berakhir, masih ada persoalan yang harus diselesaikan lebih lanjut menurut Arsen. Arsen masih nampak belum puas. Ia menginginkan Sheza selaku CFO untuk memberikan data-data keuangan terkait kerjasama serta memberikan penjelasan internal pada dirinya. Keinginan Arsen sempat menimbulkan ketegangan.
"Maaf tuan Arsen, asisten anda sudah memiliki salinannya tuan", demikian Fabian berusaha menjelaskan arsen yang tetap bersikeras memaksa Sheza untuk memberikan data-data keuangan terkait proyek kerjasama sekaligus memberikan penjelasan. Fabian seolah ikut merasakan keberatan Sheza.
"Tapi saya menginginkan penjelasan yang rinci langsung dari seorang Chief Financial Officer, apa anda keberatan?", tegas Arsen tidak mau dibantah. Suasana semakin memanas.
Sheza menghela nafasnya sangat pelan, seolah khawatir sahabat bosnya ini akan menangkap perubahan reaksi itu.
Ya.....sudahlah, ia juga tidak mungkin menolak keinginan sahabat bosnya itu, yang notabene menjadi salah satu investor dalam proyek kerjasama yang sedang mereka bangun ini. Ia harus menjadi penengah sebelum Fabian dan Arsen semakin bersitegang. Ia tahu Fabian hanya ingin menolongnya, karena melihat situasi yang agak sedikit aneh. Namun Sheza tidak ingin menginginkan adanya masalah. Ia khawatir Arsen akan membuat pengaduan yang bertolak belakang pada bos mereka, ia tidak ingin Fabian mendapatkan masalah.
"Tentu saja tidak tuan Arsen" jawab Seza tersenyum lembut, berusaha untuk tampak lebih tulus. "Baiklah tuan Arsen, setelah saya menyelesaikan semua berkas-berkas ini, saya akan memberikan data-data yang tuan inginkan", tambau Sheza lagi.
"Jangan lupa nona Arshaka, saya ingin anda menjelaskannya juga secara detail kepada saya", ujar Arsen. Ia nampak sangat puas karena sudah berhasil membuat Sheza melakukan apa yang diinginkannya. Senyum smirk tampak sedikit tersungging di sudut bibir tipisnya. Ken yang menyaksikan situasi itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia menghela nafas berat. Ia hanya berharap bahwa situasi ini tidak akan menjadi rumit jika diketahui oleh Tuan Zafier. Semoga saja Fabian tidak melaporkannya pada tuan Zafier batin Ken.
"Baiklah nona Arshaka, saya akan menunggu penjelasan anda", ujar Arsen tersenyum bahagia. Kemudian ia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meeting diikuti oleh Ken dan Fabian.
__ADS_1
Fabian sendiri sebenarnya sedikit merasa kesal melihat tingkah Arsen yang dianggap arogan. Tapi ia memiliki kewajiban untuk menjadi pemandu dan pendamping bagi Arsen selama tuan Zafier tidak berada di tempat. Hal itu sebagaimana yang ditugaskan oleh Zafier pada dirinya. Oleh sebab itu mau tidak mau atau suka tidak suka, Fabian harus mendampingi Arsen selama ia berada di dalam perusahaan.
Fabian melihat Arsen membisikkan sesuatu pada asistennya, Ken. Kemudian Arsen berjalan menuju lift, ia tidak berjalan menuju ruangan CEO. Fabian sedikit terkejut, keningnya berkerut. Ken kemudian berjalan mendekatinya
"Tuan Arsen memiliki satu urusan saat ini. Berhubung meeting sudah selesai, maka tuan Arsen akan meninggalkan perusahaan. Untuk urusan selanjutnya diserahkan kepada anda Fabian, jelas Ken. Oh iya, satu hal lagi anda tidak perlu mengantarkan tuan Arsen ke lobby perusahaan", ujar Ken.
Mendengar semua penjelasan dari Ken tadi, Fabian hanya mengangguk. Ia berusaha tersenyum agar nampak sedikit lebih ramah. Fabian kemudian mengantarkan Arsen dan asistennya, Ken menuju lift. Begitu Arsen dan Ken memasuki lift, Fabian nampak membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat, Arsen pun mengangguk
Sepeninggal Arsen dan asistennya, Sheza masih berkutat dengan berkas-berkas yang dimilikinya. Ia menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya perlahan. Seolah ingin melepaskan beban yang ia rasakan. Paksaan dari arsen tadi sedikit membebaninya. Ia memiliki feeling yang kurang baik tentang ini semua.
Sheza memasuki lift yang berhenti tepat di depannya. Lift itu membawa dirinya ke lantai di mana ruangannya berada, hanya berbeda satu lantai dari lantai di mana ruangan CEO dan ruangan meeting berada.
Akhirnya Sheza berada di ruangannya sendiri. Sheza melirik jam yang melingkar indah di tangannya. Sudah waktunya makan siang, batinnya. Hari ini Sheza merasa sedikit sepi karena Karen memiliki urusan di luar perusahaan. Karen memang tidak bisa menemaninya saat ini.
Mengingat permintaan dari tuan Arsen tadi, Sheza mengurungkan niatnya untuk segera makan siang. Ia malah sibuk mencari bekas-bekas terkait data-data keuangan yang diminta oleh tuan Arsen tadi. Asyik berkutat dengan bekas-bekas tersebut, ia tidak menyadari seseorang yang memasuki ruangannya.
__ADS_1
Fabian berdiri cukup lama di depan pintu, ia tau Sheza tidak menyadari keberadaannya. Ia juga tidak ingin mengejutkan Sheza maka Fabian pun memilih untuk tetap menunggu di depan pintu itu.
Setelah beberapa saat Sheza berhenti dari aktivitasnya, ia menengadahkan kepalanya. Ia menyadari jika ia tidak sendirian di ruangan kerjanya. Ia kemudian menatap Fabian yang berada tepat di depannya
"Oh Fabian, apa kau sudah lama berada di sana? Maafkan aku yang tidak menyadari keberadaanmu. Apa ada hal yang bisa aku bantu Fabian?", tanya Sheza sembari tersenyum
Fabian ikut tersenyum. Perlahan ia berjalan mendekati Sheza, kemudian ia duduk di sofa tepat di depan meja kerja Sheza.
"Maafkan saya yang telah mengganggu kesibukan nona Sheza. Saya hanya merasa sedikit khawatir. Hmm....Apa tidak masalah dengan permintaan tuan Arsen tadi. Saya hanya menangkap sebuah hal yang tidak biasa di sana", ujar Fabian penuh kekhawatiran.
Sheza tersenyum. "Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa Fabian. Aku menyadari rasa khawatir kamu. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku, hanya saja aku juga khawatir bahwa tuan Arsen akan melaporkan hal yang bertolak belakang pada tuan Zafier. Aku hanya tidak ingin terjadi masalah. Apalagi jika masalah itu nantinya dapat berimbas pada proyek kerjasama, atau bahkan berimbas pada kamu sendiri Fabian. Jadi sekali lagi, tidak usah khawatir, aku akan profesional", jelas Sheza panjang lebar.
Wajah Fabian nampak lega setelah mendengar penjelasan Sheza. "Baiklah nona Sheza, semoga semuanya berjalan lancar. Oh iya, satu hal lagi nona Sheza, tuan Arsen dan asistennya tadi mengatakan bahwa mereka memiliki urusan di luar. Jadi kemungkinan besar mereka tidak akan kembali lagi ke kantor hari ini. Saya permisi undur diri dulu", pamit Fabian pada sheza. Fabian pun membungkukkan tubuhnya pada Sheza, diiringi dengan anggukan dan senyuman dari Sheza.
Wajah Sheza nampak lega, begitu mendapat informasi dari Fabian. Berarti hari ini ia akan dapat menjalani harinya dengan damai. Kemungkinan besok ia akan menjelaskan mengenai data-data keuangan yang diminta oleh Arsen dan ia yakin urusan Karen di luar perusahaan akan dapat selesai hari ini. Semoga saja besok Karen bisa menemaninya, harapnya.
__ADS_1