
Begitu keluar dari ruangan Sheza, Zafier berjalan tergesa memasuki lift pribadinya. Ia akan kembali menuju ruangannya. Carlos terus mengikuti dengan setia. Zafier kemudian keluar pada lantai di mana ruangannya berada. Ia disambut oleh pemandangan sekretaris sang daddy, Stefi.
Penampilan Stefi juga terlihat tidak pada tempatnya. Ia mengenakan setelan kerja yang nampak kekecilan. Bagan dadanya seperti akan tumpah keluar saking ketatnya. Ia membawa tas kecil yang dihias dengan berlian. Rambutnya digulung ke atas, memperlihatkan lehernya yang berlemak.
Wanita cantik dengan dandanan seksi itu nampak terkejut. Ia sedang sibuk dengan alat make-upnya ketika Zafier sampai. Ia tergopoh-gopoh menyambut Zafier. Meskipun wajahnya terlihat cemas dan khawatir karena merasa telah mengabaikan kehadiran sang tuan muda, tapi itu tidak menghalangi cara berjalannya yang setahap demi setahap sambil bergoyang seperti mengikuti irama. Penampilannya ditunjang dengan stiletto setinggi 15 cm. Ia berjalan berlenggak lenggok ke arah Zafier. Ia tersenyum menggoda tuan mudanya yang tampan itu.
Ya tuhan, tuan mudaku ini sangat tampan hingga aku tak bisa memalingkan mataku, jantungku kenapa jadi bertalu-talu seperti ini, batin Stefi, netranya tak lepas dari Zafier, nyaris tak berkedip.
"Maaf tuan saya tidak tahu tuan muda akan datang hari ini", ujarnya melenggak lenggok mendekati Zafier.
Zafier tak menanggapi, wajahnya datar, terkesan acuh, tak tertarik, bahkan melirik pun tidak pada Stefi. Ia hanya berlalu menuju ruangan kerja. Entah kenapa Zafier begitu muak melihat tatapan mata sekretaris sang daddy itu. Pandangan mata itu mengingatkannya pada gadis-gadis yang selama ini mati-matian mengejar atau mencari perhatiannya.
Di dalam ruangan Zafier langsung duduk di kursi kerjanya, ia menghela nafas lega.
"Apa tidak bisa sekretaris daddy itu ditukar saja Carlos? Aku benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya daddy memilih sekretaris semacam itu", kesal Zafier.
Carlos tersenyum, menurut tuan besar pekerjaannya bagus tuan muda. Iya jujur, sangat loyal pada perusahaan dan bisa dipercaya. Lagi pula tuan besar Zaki juga jarang berada di perusahaan tuan, jadi sangat jarang berinteraksi langsung dengan Stefi", jawab Carlos apa adanya.
"Tapi setahu saya, dahulu dia biasa saja tuan muda sepertinya setelah tuan muda mengambil alih pekerjaan tuan besar Zaki, ia berubah menjadi seperti itu. Mungkin ia terpesona dengan ketampanan tuan muda", sambung Carlos lagi jujur.
Zafier hanya menatap malas pada Carlos. Ia memijat keningnya frustasi.
"Aish... bisa-bisa daddy mengamuk ketika sadar nanti, kalau aku mengganti sekretarisnya Carlos", keluh Zafier.
"Izin tuan muda, saya pamit undur diri, saya akan kembali ke ruangan saya. Tuan bisa menghubungi saya jika tuan membutuhkan saya", pamit Carlos undur diri.
Zafier hanya mengangguk, "Oh iya, tolong kau panggilkan Fabian untuk menghadapku. Aku ingin mendengar laporannya tentang situasi rapat kemarin hingga perkembangannya hari ini", perintah Zafier.
"Siap tuan muda", ujar Carlos patuh. Kemudian ia berlalu keluar ruangan kerja Zafier.
__ADS_1
Zafier menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Matanya terpejam. Ia sibuk dengan segala pikirannya.
Setibanya di luar, Carlos pun meminta Stefi untuk menghubungi Fabian.
"Nona Stefi, tuan muda Zafier memerintahkan Fabian untuk menemuinya", ujar Carlos pendek sambil berlalu.
"Baik tuan Carlos", jawab Stefi patuh dan berlalu kembali ke ruangannya.
Carlos hanya menatap sekretaris tuan Zaki Safaraz itu. Ia masih ingat bagaimana gaya Stefi tadi ketika berhadapan dengan tuan muda Zafier. Dan sekarang Stefi sudah pada mode seriusnya, tidak lagi terlihat genit seperti tadi.
Ya ampun Stefi, harusnya kau tahu diri. Jangan pernah berharap lebih pada tuan muda Zafier, kau belum tahu saja siapa tuan Zafier itu. Bule-bule cantik di Belanda saja tidak mampu menggoyahkan imannya apalagi orang seperti kamu Stefi, batin Carlos. Ia nampak menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap kepergian Stefi. Wajahnya terlihat prihatin menatap Stefi.
Sementara itu Fabian nampak asik berkutat dengan pekerjaan di ruangannya. Ia sedikit terkejut ketika
Stefi tiba-tiba masuk ke ruangannya. Fabian menatapnya mala. Penampilannya ang berlebihan benar-benar merusak matanya.
"Selamat pagi menjelang siang tuan Fabian", sapa Stefi centil.
"Heloww,!", sapa Stefi lagi, kedua tangannya dilambai-lambaikan di depan wajah Fabian. Fabian sedikit kesal.
"Ada apa Stefi? Sebaiknya kamu to the poin saja apa keperluanmu. Aku tidak punya waktu melayanimu", ujar Fabian kesal. Kehadiran Stefi benar-benar merusak moodnya.
"Jangan marah gitu dong Fabian tampan, aku ke sini karena tuan Zafier menugaskanku untuk memanggilmu", setelah berbicara, Stefi kemudian melenggak lenggok keluar dari ruangan Fabian tanpa permisi. Kesabaran Fabian memang tengah diuji.
Fabian terkejut ketika Stefi menyebut nama Zafier. Fabian langsung berdiri dari kursinya dan bergegas menuju ruangan Zafier. Ia nyaris berlari, sumpah serapahnya terucap dalam hati. Sialan kau Stefi kenapa tidak bilang dari awal langsung kalau tuan Zafier sudah datang dan tengah menungguku, kesalnya.
Fabian sampai di depan ruangan Zafier dengan nafas terengah-engah. Sejenak ia berhenti di depan pintu, menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya perlahan. Fabian berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal. Fabian mengetuk pintu perlahan. Setelah terdengar jawaban dari dalam, ia pun membuka pintu dengan perlahan.
"Selamat pagi tuan muda Zafier", sapa Fabian dengan hormat, tubuhnya sedikit membungkuk
__ADS_1
Zafier yang awalnya sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya, kemudian mengangkat kepalanya. Netranya menatap Fabian tajam.
"Duduklah Fabian, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu", ujar Zafier.
Fabian menelan ludah ketika tatapan tajam itu seolah mengintimidasinya. Aura tuan muda di depannya memang tidak main-main.
"Maafkan saya yang tidak mengetahui kalau tuan muda hari ini sudah kembali ke aktivitas kantor. Maafkan kelalaian saya tuan", ujar Fabian, ia terus menundukkan kepalanya tidak berani menatap netra Zafier.
Zafier hanya menatap Fabian, ia tidak terlalu menanggapi ucapan Fabian.
"Fabian, aku butuh laporanmu tentang rapat yang tidak aku hadiri kemarin, apa saja hal yang aku lewatkan saat itu", tanya Zafier.
Fabian mengangkat wajahnya. Ia nampak serius.
Sesuai dengan permintaan sang tuan muda, maka Fabian pun menceritakan semua hal yang terjadi di dalam rapat, termasuk dengan paksaan yang dilakukan Arsen pada Sheza.
Wajah Zafier langsung berubah. Walaupun wajahnya sekilas masih terlihat tenang, namun jika diperhatikan secara seksama, tangannya nampak mengepal, rahangnya mengetat dan alisnya berkerut, sepanjang Fabian menceritakan apa yang terjadi saat itu.
"Maafkan saya tuan, saya sudah berusaha untuk menghindarkan nona Sheza dari tuan Arsen, namun pada akhirnya nona Sheza memilih untuk mengikuti keinginan tuan Arsen, karena ia tidak ingin kondisi memanas saat itu", Fabian berucap sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah dan menyesal karena merasa tidak bisa melindungi calon istri tuan besarnya. Ia tidak berani menatap wajah sang tuan muda.
Zafier menghela nafas.
"Sudahlah Fabian semua sudah berakhir. Bisa kau laporkan kepadaku apa saja jadwalku hari ini", tanya Zafier mengalihkan pembicaraan.
Fabian merasa lega, ia bersyukur bahwa kejadian itu tidak menimbulkan kemarahan sang tuan muda.
"Siang ini tuan ada jadwal meeting dengan rekan bisnis tuan. Tadi saya sudah melaporkannya pada tuan Carlos semua jadwal tuan hari ini. Waktu beserta lokasinya tuan", jelas Fabian.
Zafier mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah Fabian, kau bisa kembali bekerja", ujar Zafier. Fabian pun meninggalkan ruangan Zafier setelah undur diri dengan sopan.