
Sudah hampir 2 jam Sheza menunggu Zaki, berulang matanya berpindah-pindah dari pintu dan jam tangan, berharap Zaki mumcul, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda kedatangannya. Semua menu istimewa yang ada di resto tersebut telah dicicipinya sampai Sheza benar-benar kekenyangan, tapi Zaki kunjung datang.
'Huuu, dady Zaki lama sekali, hampir 2 jam aku di sini, aku sudah kekenyangan, sekarang aku malah mengantuk', batin Sheza, beberapa kali ia menguap dan mengucek matanya, berusaha menahan kantuknya. Sheza juga takut menghubungi Zaki karena kuatir Zaki sedang dalam meeting penting. Lagipula batrai ponselnya sudah sekarat, sebentar lagi ponselnya juga akan mati kehabisan batrai. Penat berfikir akhirnya Sheza benar-benar tertidur di sofa ruangan private resto tersebut.
Sementara itu di tempat lain, Zaki terpaksa mengakhiri meeting dengan rekan bisnisnya, karena ingat janjinya dengan Sheza sudah terlewat hampir 2 jam. Beberapa meeting selanjutnya terpaksa di reschedule sekretarisnya.
Zaki menyuruh asistennya untuk menghubungi Sheza, namun ponsel Sheza tidak aktif. Setelah beberapa kali asisten Zaki mencoba menghubungi, tapi tetap tidak aktif. Setelah berfikir sejenak, Zaki akhirnya memerintahkan sopirnya untuk bertolak ke resto dimana mereka janji bertemu. 'Semoga anak itu masih di sana', batin Zaki berharap.
Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 20 menit, akhirnya Zaki memasuki parkiran resto tersebut. Begitu sampai di depan pintu masuk resto, manager resto tergopoh-gopoh menyambutnya.
"Mari tuan Zaki, silahkan masuk", sambutnya dengan hormat. Zaki hanya menganggukkan kepalanya sambil bergegas menuju ruang private resto dimana Sheza menunggunya.
Begitu pintu ruangan dibuka, Zaki disambut pemandangan Sheza yang tertidur lelap di sofa ruangan tersebut. Zaki tersenyum sembari berjalan mendekati sofa dimana Sheza terlelap.
Sheza yang merasa ada yang berjalan mendekat, langsung tersadar. Sheza menggosok matanya dan melihat siapa yang mendekatinya. Begitu tau siapa yang datang, binar bahagia keluar dari mata hazelnya yang indah.
"Daddy Zaki", teriaknya, senyumnya mengembang.
Zaki tersenyum senang, 'Beginikah rasanya punya anak perempuan, mereka akan menyambut kita sesenang ini, Zafier sampai sebesar ini, mana pernah aku melihat binar bahagia seperti ini di matanya ketika bertemu denganku. Zafier jika kau menikah kelak, kau harus memberiku cucu perempuan', batin Zaki.
"She kira daddy gak akan datang", ujar Sheza lagi masih dengan wajah bahagianya.
Ucapan Sheza membuyarkan lamunan Zaki. " Maaf daddy terlambat cukup lama She, daddy kira kamu sudah pulang, tadi asisten daddy mencoba menghubungimu tapi sepertinya ponselmu tidak aktif, maafkan daddy datang terlambat ya", ujar Zaki lagi.
Ganial yang berada di belakang Zaki terkejut, seorang Zaki Safaraz minta maaf, benar-benar sebuah keajaiban.
"Ponsel She kehabisan batrai daddy. She tau daddy sangat sibuk, dengan kedatangan daddy ini saja, She sudah sangat senang", Sheza tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Semua tidak lepas dengan keinginannya mengunjungi sang kakak. Sheza berharap dengan kesabarannya menunggu Zaki, Zaki tidak tega untuk menolak permintaannya.
"Mari makan daddy, daddy pasti lapar kan? ", tanya Sheza lagi. Dia segera meminta pelayan mengantarkan makanan yang baru.
__ADS_1
Zaki tersenyum bahagia, perhatian Sheza begitu mengharukan baginya. Dia tidak tega menolak meski sebenarnya ia sendiri tidak merasa lapar.
"Ayo, mari kita makan She", jawabnya antusias.
Setelah makanan yang baru terhidang, Sheza nampak sibuk melayani Zaki mengambilkan beberapa menu.
"Daddy, ayo coba Stik Tenderloin ini, steak dari daging sapi rendah lemak, jadi daddy gak bakal gemuk, rasanya mantap daddy", jelas Sheza. Sheza memindahkan beberapa potong steak ke piring Zaki.
" Chicken Cordon Bleu ini juga enak daddy, dari daging ayam, garing di luarnya tapi lembut di dalamnya", ujar Sheza lagi.
"Nah ... ini juga enak, tapi daddy harus pastikan daddy Zaki tidak punya tekanan darah tinggi, ini namanya Lamb Chop, dari daging kambing, tapi dijamin gak ada bau brangusnya daddy, pokoknya enak deh", jelas Sheza lagi.
Sambil makan mereka mengobrol dengan akrab seperti layaknya ayah dan anak. Zaki lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Mengamati Sheza yang menceritakan banyak hal, tingkahnya yang terkesan polos, tawanya yang tulus dan tidak dibuat-buat. Zaki benar-benar menikmati perannya menjadi seorang ayah yang mempunyai anak perempuan. Moment seperti ini mengingatkannya pada waktu Gwen kecil menghabiskan waktu bersama keluarganya. Zaki kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga. Sebuah moment yang sangat dirindukannya setelah sekian lama berlalu. Keinginan Zaki ingin mempunyai cucu perempuan semakin kuat.
Sheza "Hmm...". Sheza terdiam. Sheza ingin mengatakan sesuatu, tapi dia nampak ragu. Sheza kemudian menunduk dan nampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
Semua tingkah Sheza tidak lepas dari perhatian Zaki. Zaki bisa menebak ada hal ingin disampaikan Sheza, tapi ia ragu untuk menyampaikannya.
"Ada apa She? Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu", tanya Zaki dengan nada lembut.
Sheza masih diam, dia mencoba menguatkan hatinya. Sesaat kemudian Sheza memutuskan untuk mengatakan apa yang memang ingin dikatakannya. 'Apapun jawaban daddy, aku harus siap, meskipun daddy Zaki marah sekalipun', tekad Sheza dalam hati.
"Hmm ... apa ... apa daddy Zaki ingat janji daddy jika datang terlambat? ", tanya Sheza lagi takut-takut dengan mata puppy eyesnya, yang akan membuat orang iba dan luluh dengan pandangan itu.
__ADS_1
"Hmm ... ", Zaki terdiam, mencoba mengingat kembali apa yang pernah dijanjikannya pada Sheza.
"Daddy sudah tua She, bisa kamu bantu mengingatkan daddy kembali? ", tanya Zaki lagi.
Sheza terdiam lagi, berusaha menyusun kata-kata yang baik, agar tidak terkesan menyinggung sang daddy.
"Waktu itu daddy bilang, kalau terlambat akan mengabulkan apapun yang She minta", jawab Sheza lagi masih dengan mata penuh harap.
"Ooouw, itu She, daddy kira apa", Zaki tertawa.
"Eh iya dady", ujar Sheza mengelus dada, Sheza lega mendengar jawaban Zaki.
"Sekarang apa yang kamu inginkan Sheza?", tanya Zaki kembali dengan lembut.
"Hmm ... Daddy Zaki, apa boleh She ke kota J mengunjungi kak Seif? ", tanya Sheza berusaha tenang.
Zaki tidak segera menjawab, ia menatap Sheza lama. Zaki berfikir darimana Sheza tau Seif di kota J. Sementara Ganial yang berada agak jauh dari mereka menahan nafas. Kuatir tuannya marah besar. Ganial tau betul bagaimana Zaki menyayangi Sheza. Rasanya tidak mungkin Zaki akan rela melepas Sheza ke kota J sendirian.
"Apapun yang kamu minta akan langsung bisa daddy kabulkan She, tapi kalau terkait kepergianmu ke kota J, harus daddy pikirkan dulu, nanti Ganial akan memberi informasi kepadamu", jawab Zaki, masih dengan nada lembut.
Sheza terdiam, nampak kekecewaan di wajahnya. Semua tidak lepas dari perhatian Zaki, ada sedikit rasa penyesalan tampak di wajah Zaki. Tapi ia perlu memikirkan permintaan Sheza, karena rasa kuatirnya terhadap Sheza.
"Baik daddy Zaki", ujar Sheza pelan. Semangatnya yang membara tadi, kini perlahan surut.
"Apa tidak ada permintaan selain itu She? ", tanya Zaki lagi.
Sheza cuma menggeleng, " tidak ada daddy".
"Baiklah She, kamu pasti lelah karena sudah terlalu lama menunggu daddy, salah seorang asisten daddy akan mengantarmu". Apa yang dikatakan Zaki, lebih sebagai sebuah perintah.
__ADS_1
"Baik daddy", jawab Sheza patuh, karena apa yang dikatakan sang daddy memang betul, Sheza sudah lelah, terlebih karena keinginannya belum terpenuhi. Sheza berjalan gontai keluar.
Sepeninggal Sheza, Zaki tidak langsung pergi, karena banyak hal yang ingin didiskusikannya dengan Ganial, tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya.