My Little Gwen

My Little Gwen
Terjebak masalah


__ADS_3

Stefano menggeliat di ranjang kamar hotelnya. Ia berusaha menutup matanya dengan bantal, ketika sinar matahari pagi yang menyilaukan, menerobos ke dalam kamarnya melalui celah-celah jendela kamar hotel yang tidak tertutup rapat oleh gorden jendela.


Stefano nampak masih malas untuk membuka matanya.


Tiba-tiba saja ponselnya yang berada tepat di samping telinganya berdering sangat keras, Stefano terkejut lantas mengumpat kesal.


Ia membuka matanya, melotot kesal, menyesal tidak mematikan ponsel itu atau paling tidak membuatnya dalam mode silent.


Namun meski kesal setengah mati, tak ia tetap menggapai ponsel itu, dan menaruhnya di telinga.


"Bo-bos....ini darurat!", ujar seseorang di ujung sana memburu saat telepon tersambung.


"Ini buruk bos, sesuatu yang gawat telah terjadi!" suaranya terdengar panik.


Hening sesaat sebelum suara gelisah kemudian terdengar di seberang sana.


"Apa yang ingin kamu katakan, katakan dengan jelas!", hardik Stefano kesal.


Def kemudian menghela nafas, ia mencoba tenang.


"Semua kacau Bos!", ujar Def gugup dan takut.


"Kacau? se kacau apa? Bicara yang jelas Def! Jangan berputar-putar dan membuat aku bingung! ", hardik Stefano sekali lagi.


"Begini bos...pagi ini bos menjadi trending topik di semua media sosial. Telah beredar video tidak senonoh yang wajahnya mirip dengan bos. Video Itu sangat. ..sangat, saya bingung bagaimana menjabarkannya bos, tapi yang pasti dalam video itu bos sedang berhubungan intim dengan seorang....dengan....dengan seorang pria", ujar Def gugup. Def terdiam menunggu respon sang bos.


"A-apa kau bilang? Apa kau serius?", tanya Stevano ikut panik.


"Sa-saya tidak mungkin bercanda untuk masalah ini bos, silahkan bos, bos bisa browsing sekarang langsung", jawab Def takut.


"Satu lagi bos, tuan besar saat ini sedang marah besar, ia mencari bos dari tadi. Ia terus menghubungi saya sedari tadi untuk memastikan keberadaan bos. Ia terus menanyakan saya, saya bingung harus menjawab apa karena saya sendiri juga tidak tahu saat ini bos sedang berada di mana. Saat ini kami harus bagaimana bos, apa yang harus kami lakukan selanjutnya bos?", tanya Def bingung sekaligus khawatir.


"Coba kau berkoordinasi dengan para ahli IT untuk menahan penyebaran berita ini", ujar Stefano.

__ADS_1


Def menutup teleponnya dan menunggu dengan risau.


Sementara stevano yang baru saja terjaga, bergegas melakukan browsing melalui ponselnya untuk mencari berita terkini. Dan benar saja, ia menemukan banyak beredar video tentang dirinya, disertai dengan berita panas lainnya.


Stevano kontan lemas. Ia berusaha berdiri agar bisa berpikir lebih tenang, tapi yang ada ia malah mondar-mandir dengan perasaan kacau, bingung harus mengambil langkah apa. Ia terduduk kembali di ranjangnya, terdiam dan mulai berpikir kembali.


Permasalahannya semakin sulit karena ia harus menghadapi kemurkaan Surya, ayahnya. Ia meremas kepalanya kasar dengan jantung bergemuruh.


Ponselnya kembali berdering, Stefano bergegas mengambil ponselnya, nama Def tertera di layar ponselnya.


"Bos di mana anda saat ini? Sebaiknya anda segera menemui tuan Surya untuk meredakan kemarahan nya. Untuk sementara waktu bos juga jangan menampakan diri dulu di luar, sebisa mungkin bos menutupi identitas di luar sana. Saat ini para wartawan sedang memburu bos. Sama halnya dengan yang terjadi di perusahaan. Saat ini tuan Surya yang sedang berada di perusahaan juga kebingungan karena seluruh wartawan berada di sana saat ini", jelas Def panjang lebar.


Stefano terdiam. Ia semakin panik dan bingung.


"Para pemburu berita itu hanya ingin mengkonfirmasi kebenaran video tersebut. Dan satu hal lagi bos, akibat beredarnya video tersebut membuat saham perusahaan langsung anjlok", lanjut Def.


"Sebisa mungkin kau bersihkan namaku di media sosial, bayar akun-akun buzzer untuk melakukannya, kemudian sebisa mungkin blokir penyebaran semua video. Kau bisa membicarakan itu dengan para ahli IT. Aku akan melakukan klarifikasi pada media secepatnya. Sebelum itu aku harus menemui ayah untuk mengklarifikasi semua kejadian ini", ujar Stefano.


"Baik bos, apa perlu saya kirim orang untuk menjemput bos? Di mana posisi bos saat ini?", tanya Def.


Stefanus memperhatikan kondisi kamar hotelnya, ia merasa tidak ada yang aneh di kamar ini. Wanita semalam memang tidak lagi kelihatna ketika ia teebangun, tapi Stefano sama sekali tidak ingat apa yang telah terjadi tadi malam.


Stefano tersadar, ia telah dijebak. Ia bukan mabuk, tapi pasti wanita itu memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.


Berarti selama ia tidak sadar semalam orang brengsek itu sudah mengerjai nya.


Stefano berteriak kesal, "brengsek.... ".


Stefano mengamuk, ia melempar semua barang yang ada di kamar itu. Rasanya saat ini Stefano ingin sekali menenggelamkan diri ke Perut Bumi.


Setelah ia bisa mengendalikan emosinya dan mulai tenang, Stefano bergegas membersihkan diri.


Ia menutupi wajahnya dengan masker, kacamata hitam dan jaket, dia menutup kepalanya dengan hoodie.

__ADS_1


Stefano bergegas keluar dari hotel dan menuju mobilnya di parkiran. Kemudian mobil Stefano melaju ke arah mansionnya. Ia yakin ayahnya pasti mencarinya di mansion miliknya. Stefano tidak ingin mencari ayahnya ke mansion utama sang ayah, karena di sana pasti ada istri pertama sang ayah dan Sherly. Ia tahu betul seberapa benci istri pertama sang ayah dan Sherly pada dirinya. Lebih baik ia ke mansionnya saja di sana ada sang ibu yang sudah pasti akan membelanya.


Begitu ia sampai di mansionnya, Stefano bergegas masuk ke dalam rumah. Dari jauh ia bisa melihat sang ayah sudah duduk di ruang tamu. Kemarahan nampak jelas amarah tergambar di wajah Surya, sang ayah.


Begitu ia memasuki pintu, tanpa bertanya apapun, sang ayah, Surya langsung menerjang nya. Sebuah kepalan tangan menghantam pipi Stefano kuat. Ia tersungkur jatuh dengan rasa sakit yang berdenyut kuat.


"Anak keparat! Apa yang telah kau lakukan?", teriak sang ayah.


Sebelum Stefano sempat bereaksi, sebuah terjangan kaki yang kuat mendarat di perut ratanya, lalu tinju yang berulang-ulang menghantam pipinya secara teratur dan bergantian membuat tubuhnya lemas dan terjatuh ke lantai. Ia terbatuk pelan.


Stefano sudah pasti tidak bisa membalas pukulan demi pukulan yang ia terima. Ia hanya bisa diam menyaksikan amarah yang membara di mata Surya.


Para pelayan dan petugas keamanan yang ada di sana hanya terdiam, mereka juga tidak berani menahan tuan besarnya.


Ketika Surya bersiap akan menerjang Stefano kembali, sang Ibu berlari dari dalam rumah. Ia menahan terjangan sang suami dengan memeluk Stefano. Surya urung menerjang Stevano. Ia berdecak kesal. Surya kemudian berlalu pergi dengan sebuah ludahan kasar di samping tubuhnya.


"Ayah tunggu dulu, mohon dengarkan dulu penjelasan ku, aku mohon Ayah, aku dijebak", teriak Surya memohon.


Surya terus berlalu, ia.tidak mempedulikan teriakan anaknya.


"Ayah...aku mohon", teriak Stefano lagi.


Tapi Surya tidak bergeming, ia terus berlalu. Bergegas ia masuk ke dalam mobil, dan sang sopir pun membawanya melaju keluar dari Mansion Stefano.


Stefano terduduk lemas, sang ibu memeluknya dan menangis tersedu. Tangisnya makin keras begitu ia melihat luka-luka di tubuh anaknya.


"Tenanglah ibu, aku tidak apa-apa", ujar Stefano menghibur sang ibu.


"Bagaimana mungkin tidak apa-apa, lukamu separah ini. Ayo bangkitlah nak, ibu akan mengobatimu", ucap sang ibu prihatin melihat penderitaan sang anak.


Stefano menatap sang ibu sendu, "Maafkan aku bu".


"Aku dijebak bu, aku mohon Ibu percaya padaku aku tidak mungkin melakukan perbuatan yang menjijikkan seperti itu, aku masih normal bu", ratap Stefano.

__ADS_1


Sang ibu terdiam, ia menghela nafas berat, sesaat dia menatap anaknya, dengan tatapan tak bisa didefinisikan. Sebagai ibu, ia tau betul semua kebiasaan buruk sang anak. Namun ia malah menutup mata saja atas prilaku buruk sang anak di luar sana. Semua dilakukannya atas dasar cinta seorang ibu pada sang anak, cinta yang menjerumuskan...


__ADS_2