
POV Zavier
Aku cukup lega setelah berhasil menyelesaikan misi pengintaian terhadap kedua target yang terlibat dalam penembakan daddy Zaki. Aku yakin melalui kedua target itu, atau paling tidak salah satu dari mereka pasti akan membongkar siapa yang menjadi aktor dalam penembakan daddy. Untuk sementara misi ini aku akhiri dengan penahanan kedua target di markas. Selanjutnya nanti aku akan melakukan interogasi langsung kepada kedua target itu, mereka harus bicara bagaimanapun caranya, tekadku.
Setelah beristirahat sebentar di apartemen, aku memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Yaa... Hari ini aku akan kembali beraktivitas di perusahaan, mengingat ada proyek besar yang sedang perusahaan tangani saat ini. Entah kenapa firasatku dari semalam mengatakan bahwa aku meragukan Arsen. Setahuku Arsen adalah orang yang jiwa bisnisnya sangat kental. Ia sangat profesional dalam setiap bisnisnya. Namun entah kenapa kehadiran Sheza, membuat fokus Arsen sangat terganggu. Arsen lebih banyak didominasi oleh perasaannya. Otaknya seakan tidak mampu berjalan sebagaimana mestinya saat ini. Aku meragukan kemampuannya mengemban tugas yang aku berikan.
Dalam perjalanan menuju perusahaan, aku melihat Carlos sibuk mengamati ponselnya. Ia nampak gelisah. Tingkah Carlos sedikit mengusik keingintahuanku. Aku pun memutuskan menanyakannya pada Carlos.
Tanpa menutupi apapun, Carlos melaporkan semuanya padaku. Bahwa saat ini Sheza sedang dalam sedikit masalah. Sejak kemarin, setelah meeting selesai, Arsen seolah meneror Sheza. Ia meminta data-data terkait proyek kerjasama ini. Padahal aku tahu betul bahwa semua data-data terkait kerjasama telah diberikan sejak awal pada asisten Arsen. Rasanya tidak mungkin Arsen tidak mempelajarinya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk terlibat dalam proyek kerjasama ini
Aku merasa sedikit aneh dengan tindakan Arsen, apakah itu tidak menjadi alasan dirinya saja untuk bisa berdekatan dengan Sheza, pikirku. Entah kenapa aku merasa sedikit sesak, kesal, sakit hati, semua bercampur menjadi satu, memicu emosi yang tidak terkendali yang seakan-akan ingin meledak dari dalam diriku. Aku merasa sangat terganggu, karena aku tahu betul bagaimana perasaan Arsen terhadap Sheza.
Sakit hati...!?
Ini bukan perasaan cemburu kan??
Biasanya aku juga tidak pernah peduli pada wanita manapun. Biasanya aku tidak peduli permasalahan yang dihadapi wanita manapun.
__ADS_1
Ah, ini pasti perasaan sakit hatiku karena ia telah mengganggu calon ibu sambungku. Pasti itu saja! Bukannya sedari awal aku sudah memberi peringatan kepada Arsen untuk menjauhi Sheza. Aku merasa kesel karena Arsen tidak mengindahkan peringatanku. Aku seolah sedang berusaha mencari pembenaran dari rasa sakit hati yang sedang aku rasakan ini.
Entah kenapa sepanjang perjalanan aku merasa gelisah. Rasanya aku ingin sekali cepat-cepat sampai di perusahaan. Rasanya aku ingin sekali menyeret Arsen keluar dari ruangan kerja Sheza. Membayangkan mereka berdua berkomunikasi dan berinteraksi berdua saja di dalam ruangan itu, aku tidak tenang. Haaah! itu benar-benar membuat dadaku sesak. Seperti ribuan jarum yang menghujam dadaku, terasa sakit hingga terasa berat saat hendak mengambil nafas.
Begitu mobil memasuki halaman perusahaan, aku memerintahkan sopir untuk langsung saja ke private park, yaitu tempat parkiran pribadiku. Dari sana biasanya aku akan langsung menuju lift yang membawaku langsung ke ruangan kerjaku. Tapi entah kenapa, aku malah turun sebelum lift mencapai lantai di mana ruanganku berada. Tanganku reflek menekan tombol berhenti. Pintu lift pun terbuka.
Aku malah turun di lantai di mana ruangan Sheza berada. Aku terus saja berjalan menuju ruangan itu tanpa mempedulikan kebingungan Carlos yang mengikutiku. Begitu sampai di depan ruangan Sheza, aku membuka pintu dengan tergesa-gesa. Aku tidak mempedulikan sapaan sekretaris Sheza, yang aku sendiri tidak tahu namanya itu. Aku membuka pintu ruangan Sheza dengan sedikit kasar. Ketika pintu itu terbuka, yang pertama kulihat adalah wanita itu. Wanita yang aku khawatirkan itu.
Aku disambut oleh netra hazelnya yang memabukkan. Yaa... Netra yang sempat memabukkanku. Netra yang sempat tidak bisa aku lupakan. Kami bertatapan satu sama lain. Entah kenapa jantungku tiba-tiba saja berdegup kencang. Bertatapan dengan netra hazel itu lama-lama sepertinya tidak baik bagi jantungku.
Ingat Zafier!! Ia adalah calon ibu sambungmu, batinku seolah berusaha menyadarkan dan mengingatkan diriku sendiri dengan kenyataan yang sedang kuhadapi.
Entah kenapa, mesti aku tahu bahwa di dalam itu pasti ada Arsen, tapi setelah melihat langsung aku merasa sangat emosi. Rasanya amarah Ini seakan mampu membakarku. Ruangan yang berpendingin ruangan itu terasa panas dan sesak buatku. Rasanya ingin sekali menarik sosok itu keluar dari ruangan ini dengan paksa.
Aku memejamkan mataku sejenak. untuk menetralkan rasa yang sudah hampir meledak dari dalamku.
Kemudian Arsen yang berada di ruangan itu menyadari keberadaanku. Ia nampak sangat terkejut, matanya melotot dan mulutnya nyaris menganga. Aku menatapnya tajam. Seandainya saja aku tidak mampu mengendalikan diri, aku pastikan aku sudah mencabik-cabiknya, tak peduli ia adalah sahabat dekatku.
__ADS_1
Wajahku menggelap, seketika rahangku mengeras, aku yakin guratan urat nadiku pasti nampak menonjol jelas.
Aku hanya diam menatap dingin dan tajam kepada sahabat dekatku itu. Ia nampak ketakutan dan merasa bersalah.
Kemudian ia pun pamit padaku untuk meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa, seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
Sepeninggal Arsen, aku sendiri malah bingung harus apa. Sheza kemudian mempersilahkanku duduk. Tapi aku sadar, aku tidak punya tujuan apa-apa ke ruangannya, selain hanya untuk mengusir Arsen dari sana. Tapi tidak mungkin pula aku jujur mengenai hal itu. Aku memilih undur diri padanya, diikuti oleh tatapan bingung dari netra hazelnya itu.
Aku masih ingat wajah Sheza saat aku memutuskan pergi secara tiba-tiba. Mulut mungilnya sedikit menganga saking kagetnya.
Ya tuhan, wajahnya begitu menggemaskan. Bibir itu.... bibir mungil itu seolah magnet yang menarikku untuk membungkamnya dengan bibirku.
Sadar Fier, sadaaar.... Ingat ia itu calon ibu sambungmu, akhirnya otakku menyadarkanku.
Aku memutuskan harus segera pergi dari ruangan ini. Aku harus menghindar darinya, menjaga jarak darinya, sebelum aku tidak bisa menguasai diriku lagi.
Aku keluar dari ruangan juga dengan tergesa-gesa. Aku tidak berani lagi melihat ke arah belakang untuk menatap netra hazel itu.
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja semua kenangan yang terjadi antara aku dan Sheza pada saat kami berada di kota J berputar-putar di ingatanku. Semua pertahananku selama ini yang ingin menjaga jarak dengannya, seolah-olah aku tidak pernah mengenalnya runtuh begitu saja.
Aaargh... Ini akan menjadi semakin sulit. Aku benar-benar merasa frustasi.