My Little Gwen

My Little Gwen
Akhirnya dimaafkan


__ADS_3

Suasana pagi ini sedikit berawan sehingga meski sudah hampir jam 10.00 tapi matahari tetap enggan muncul.


Stefano dan ibunya nampak masih sabar menunggu di depan pintu masuk mansion Surya. Kesabaran mereka benar-benar diuji kali ini karena Surya bersikeras tidak ingin menemui Stefano


Farid, asisten Surya beberapa kali harus bolak balik ke ruang kerja Surya untuk bernegosiasi karena Stefano tetap bersikeras ingin bertemu sang ayah, sementara sang ayah bersikeras menolak untuk ditemui.


Meski pada awalnya Surya menolak bertemu dengan sang anak, namun Stefano tetap tidak mau putus asa dan terus gigih memaksa untuk bertemu ayahnya. Pada akhirnya Surya pun setuju untuk kembali bertemu dengan anaknya.


Stefano berjalan mengikuti asisten ayahnya menuju ruang kerja Surya. Farid, sang asisten mengetuk pintu tersebut, beberapa saat kemudian terdengar suara Surya.


"Masuklah", ujarnya dingin. Farid membuka pintu perlahan. Begitu pintu dibuka, Surya tampak duduk dengan angkuh di kursi kerjanya. Stefano sedikit bergidik melihat ekspresi ayahnya. Ekspresi yang selalu bersahabat itu kini nampak berbeda, tidak ada lagi keramahan di wajah itu. Sorot mata tajam dan ekspresi dingin tergambar jelas di wajah sang ayah. Stefano berusaha menahan ketakutan. Ia bertekad bahwa bagaimanapun ia harus membuat sang ayah percaya kembali padanya.


Stefano masih menunduk. Ia sama sekali tidak berani menetap mata sang ayah.


"Silakan duduk tuan muda", ujar Farid. Stefano memilih duduk di salah satu sofa persis berhadapan dengan Surya. Surya sendiri tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memperhatikan semua gerak gerik anak laki-lakinya itu.


Beberapa saat ruangan itu hening dan mencekam. Stefano sampai tidak sanggup untuk bernafas saking takutnya. Ia juga tidak berani untuk bicara sebelum sang ayah mempersilahkannya. Surya menarik nafas berat kemudian menghembuskannya dengan kasar. Amarahnya belum lagi reda.


"Apa yang kau lakukan sehingga seseorang dari dunia hitam ingin menghancurkan kita", tanya Surya to the point masih dengan aura dingin.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apapun yang berhubungan atau pun bersinggungan dengan orang-orang dunia hitam ayah, tolong ayah percaya padaku, aku dijebak", jawab Stefano lemah. Dia sangat bingung saat ini, namun pikirannya juga tertekan.


"Bagaimana mungkin sampai dunia hitam menargetkan dirimu dan secara tidak langsung juga ikut menghancurkan keluarga kita aku sudah memperingatkan mu untuk tidak membuat masalah, tapi apa ini?! ", amarah Surya kembali bergejolak. "Selama ini aku selalu menutup mata terhadap semua kelakuanmu di luar sana. Tapi apa yang kau lakukan kali ini benar-benar menguji kesabaranku.


Surya berdiri dari kursi kerjanya, ia berjalan menuju jendela besar di ruang kerjanya, matanya menatap ke arah luar. Raut kekecewaan tergambar jelas dari wajahnya.


"Apakah kau tau akibat dari ulahmu yang telah menyinggung seseorang berpengaruh dari dunia hitam? Kau tau, dalam satu malam saham keluarga mengalami kerugian besar. Semua entitas perusahaan mengalami keterpurukan. Beberapa mitra yang telah setuju untuk bekerja sama dengan keluarga kita membatalkan kontrak mereka satu demi satu. Kita nyaris mengalami kebangkrutan", ujar Surya penuh penekanan.


Stefano terperangah, ia tidak mampu berkata-kata. Pantas saja sang ayah murka padanya, karena besarnya akibat dari perbuatan yang dilakukannya.


Tiba-tiba saja Stefano berdiri dari sofa di mana ia duduk. Ia berjalan menuju sang ayah. Kemudian memeluk kedua kaki ayahnya, dia nyaris bersujud di hadapan ayahnya.


Surya menatap Stefano yang bersujud di kakinya, rasa marahnya memang sudah berkurang seiring dengan berjalannya waktu, perusahaannya pun saat ini sudah menjadi sedikit lebih stabil. Ia bimbang menghadapi putranya ini. Cukup lama Surya menatap Stefano. Ini adalah satu-satunya putra yang dimilikinya, ia adalah penerusnya, batin Surya.


Surya menarik nafasnya pelan. Ia berusaha mengendalikan amarahnya. Ia berusaha berpikir jernih. Surya membiarkan Stefano memeluk kedua kakinya. Padahal seandainya Stefano melakukan hal ini ketika awal-awal kejadian itu terungkap, bisa jadi Surya akan menendang Stefanus saat itu juga.


Farid berjalan mendekati Stefano. Ia memegang bahu Stefano kemudian meminta Stefano untuk berdiri. "Aku tidak akan berdiri sebelum Ayah memaafkanku paman Farid", Stefano tetap pada pendiriannya. "Lebih baik aku mati saja daripada ayahku tidak memaafkanku. Ayah maafkan aku. Aku mohon hukum saja aku ayah daripada ayah seperti ini, mengabaikanku", mohon Stefano kembali.


Surya hanya mengamati setiap tingkah laku Stefano tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, akhirnya Surya berkata, "Berdirilah".


Perlahan Stefano menengadahkan kepalanya, ia menatap sang ayah penuh harap.


"Apakah kau benar-benar akan melakukan apapun asalkan aku memaafkanmu? ", tanya Surya memastikan.


"Aku berjanji ayah", jawab Stefano pasti. "Aku akan melakukan apapun asalkan Ayah memaafkanku.


"Baiklah, sesuai janjimu, aku ingin melihat kesungguhanmu. Mulai besok kau harus bekerja di perusahaanku tanpa dibayar. Jika kau bisa melakukan sesuatu yang membawa progres yang baik bagi perusahaan, maka aku akan memaafkanmu", ujar Surya tegas.


Stefano menelan ludahnya kasar, "Ia bisa melihat bahwa ayahnya tidak main-main dengan ucapannya. Kali ini sang ayah nampak sungguh-sungguh", Stefano bertekad di dalam hati, bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh sang ayah. Ia akan melakukan yang terbaik. Ia harus meraih kepercayaan sang ayah.


"Baik ayah aku siap", ujar Stefano yakin.


"Baiklah kalau begitu kau bisa keluar dari ruang kerjaku. Silakan kembali ke kediaman ibumu. Aku tidak mau melihatmu berkeliaran di apartemen lagi. Kau harus tetap berada di bawah pengawasan ibumu. Jika hal serupa Ini masih saja terjadi, maka aku akan mencabut nama belakangmu. Lebih baik aku tidak pernah memiliki seorang Putra daripada aku harus menanggung malu sekali lagi", Surya nampak tegas dengan pernyataannya tidak ada tawar menawar di sana.


Selanjutnya Stefano pun meninggalkan ruangan kerja ayahnya. Farid nampak mengantarnya keluar. Ia disambut oleh sang ibu yang masih sabar berdiri di luar mansion Surya. Kecemasan nampak jelas di wajahnya. Ia langsung lega begitu melihat Stefano keluar dari dalam. Wajah Stefano nampak cerah tidak seperti saat ia memasuki mansion itu. Ratih sedikit lega, ia yakin Stefano sudah mendapatkan jalan keluar. Begitu Stefano mendekat, Ratih memeluknya dengan erat. Stefano balik memeluk sang ibu.


"Mari kita pulang bu!", ajak Stefano.

__ADS_1


Ratih tak ingin banyak bertanya. Ia hanya diam berjalan sambil memeluk Stefano. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kendaraan mereka Tak lama kemudian kendaraan mereka telah melaju di jalanan kota menuju kediaman Ratih.


__ADS_2