My Little Gwen

My Little Gwen
Zafier Safaraz


__ADS_3

Karen yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Carlos benar-benar merasa gemas. Ia menyadari situasi Carlos yang kembali tidak fokus. Rasanya Karen ingin sekali memukul kepala Carlos saat itu juga. Tiba-tiba saja terbersit di otak Karen cara paling ampuh untuk menyadarkan bosnya itu. Karen bergegas mengambil ancang-ancang dengan kakinya lalu dengan sekuat tenaga Karen menginjak kaki sang bos. Carlos tersentak kaget dan merasa sangat kesakitan, tapi ia tidak berani berteriak ataupun marah pada Karen. Seketika ia sadar kembali.


"Bos nona Sheza ngin menanyakan sesuatu padamu", ujar Karen sedikit berteriak tepat di telinga Carlos.


Carlos sedikit meringis karena teriakan Karen cukup mengganggu pendengarannya, belum lagi rasa sakit pada kakinya yang diinjak belum juga kunjung hilang.


"Ya ampun Karen, pendengaranku itu masih sangat baik, kau tidak perlu teriak-teriak di telingaku", ujar Carlos kesal seraya menggosok-gosok telinganya.


Lagi-lagi Karen menyeringai mendengar jawaban Carlos.


Benar-benar tampang yang sangat menyebalkan di mata Carlos. Kalau saja saat ini ia tidak sedang berada di depan Sheza, bisa dipastikan ia sudah menjambak Karen sekuat tenaga dari tadi. Sheza hanya menyaksikan interaksi kedua orang yang berada tepat di depannya itu, ia berusaha untuk sabar.


"Carlos jelaskan padaku siapa pria tadi", tanya sheza, ia kembali mengulang pertanyaannya tadi. Lagi-lagi Carlos malah terpaku pada mata hazel Sheza, ia sama sekali tidak mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Sheza.


"Carlos......please jangan mulai lagi", rutuk saja kesal. Wajahnya bersungut-sungut.

__ADS_1


Sheza kemudian menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Carlos. Carlos tersentak. "Oh maaf nona, pria yang tadi adalah tuan Zafier Chastelein Safaraz, satu-satunya putra tuan Zaki Safaraz" jawab Carlos. Wajahnya tampak memerah, malu dengan kelakuannya sendiri.


Sejenak Sheza terdiam. Ia sedikit shock mendengar penjelasan Carlos, tapi masih berusaha menyembunyikan keterkejutannya dari Carlos. Ia tidak tau kenapa pria itu tidak memperkenalkan nama belakang keluarganya, pada awal perkenalan mereka. Sheza merasa aneh.


Ya Tuhan ternyata ia adalah anak daddy Zaki, aku harus bagaimana batinnya lagi.


Carlos sedikit bingung dengan tingkah Sheza, pada awalnya bertanya dengan menggebu-gebu, setelah ia memberikan jawaban, Sheza malah terdiam.


Setelah puas dengan jawaban Carlos, Sheza berjalan menuju ruangan rawat Zaki. Ia bergabung dengan Ganial yang ada di sana. Sheza berusaha mencari tempat duduk di ruang tunggu di depan ruang rawat Zaki. Ia benar-benar lemas mendengar kebenaran tadi.


Sheza sedikit terkejut, Sheza merasa dirinya terkesan diusir secara halus. Tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa, Sheza menyadari posisinya. Akhirnya dengan sedih, ia menerima saja perintah yang diberikan oleh Zafier melalui paman Ganial. "Baik paman, aku pamit dulu", ujar Sheza patuh. Ia berjalan bergegas perlahan meninggalkan ruang tunggu rumah sakit itu, lalu menarik Karen dan berlalu pergi.


Rasanya Sheza ingin sekali protes. Ia merasa ingin menjaga daddy Zaki di sini, tapi lagi-lagi ia menyadari posisinya . Zafier jauh lebih berhak atas apapun keputusan berkaitan dengan daddy Zaki. Zafier merasa sedih karena sadar dirinya bukanlah siapa siapa bagi daddy Zaki. Meskipun ia sendiri telah menganggap daddy Zaki seperti ayahnya sendiri.


Sheza menyusuri lorong rumah sakit didampingi oleh Karen. Sepanjang perjalanan Sheza hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Karen pun tidak berani untuk mengajaknya berbicara.

__ADS_1


Di saat Karen tengah menimbang-nimbang untuk memulai percakapan dengan Sheza, tiba-tiba saja keheningan itu dipecahkan oleh panggilan Sheza. "Bagaimana kalau kita pergi minum kopi di tempat biasa, Karen. Aku tiba-tiba ingin menenangkan otakku", ajak Sheza. Wajahnya tampak lelah.


"As you wish nona", jawab Karen menatap Sheza prihatin.


Karen kemudian menghentikan kendaraannya di depan sebuah kedai kopi yang cukup terkenal di kota P. Setelah memarkirkan kendaraannya, Sheza dan Karen bergegas keluar menuju kedai kopi tersebut. Mereka duduk saling berhadapan. Karen memperhatikan wajah lelah Sheza. Namun demikian kelelahan itu tidak menutupi kecantikan alami yang dimiliki oleh Sheza. Sheza menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia duduk menyandarkan punggungnya pada kursi kafe itu. Sejenak Sheza menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Karen terus memperhatikan tingkah laku Sheza yang berada di hadapannya.


Ia tahu kalau Sheza sangat galau menghadapi semua kenyataan ini. Tapi ia sendiri tidak mau memulai percakapan untuk mengorek tentang perasaan Sheza. Ia tahu Sheza hanya butuh teman bicara.


"Karen.....aku harus bagaimana?" keluh Sheza, "apa aku tidak boleh lagi menjaga daddy Zaki", ujar Sheza. "Anaknya melarang aku untuk menjaga daddy Zaki Karen. Entah kenapa aku merasa begitu sedih, aku sudah menganggap daddy Zaki seperti ayahku sendiri. Apa aku harus pergi saja ya dari mansion daddy Zaki? Sekarang aku tidak punya alasan untuk bertahan di sana. Itu juga bukan rumahku, aku hanya sekedar menumpang di sana. Selama ini daddy Zaki lah yang memaksaku untuk tetap berada di sana. Tapi aku harus tinggal di mana Karen?", Sheza kemudian terdiam. Ia nampak sedang berpikir keras.


Karen memahami kesulitan yang tengah dihadapi Sheza saat ini. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Nona, aku punya sebuah apartemen sederhana walaupun tidak berada di pusat kota tapi jaraknya aku rasa tidak terlalu jauh dengan kantor nona. Tapi apa nona mau tinggal di sana? pastinya kondisi apartemen itu sangat berbeda jauh dengan mansion tuan Zaki. Ibaratnya, perbedaannya itu seperti bumi dan langit. Sheza menatap Karen. Mata Sheza langsung berbinar. Ia menemukan jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya. Tidak apa-apa Karen. Apa boleh aku menyewanya Karen? Pastinya aku akan membayar untuk tinggal di sana ya", ujar Sheza.


Karen terkejut dengan perkataan Sheza. "Kalau nona mau menyewa apartemenku itu, maka aku tidak akan memberikannya pada nona", kukuh Karen, Sheza sedikit terkejut, ia tidak menyangka reaksi Karena akan seperti itu.


"Apa kau tidak mau menolong temanmu ini?", ujar Karen. "Dan satu hal lagi sudah sejak lama aku bilang cukup panggil namaku Sheza jangan panggil aku dengan embel-embel Nona di depannya Sheza sedikit kesal ya sudah kalau kau tidak mau menolongku aku akan mencari tempat tinggal yang lain saja", ujar Sheza kecewa.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku nona. Aku bukannya tidak mau menolong nona. Aku hanya tidak ingin menyewakan apartemen itu pada nona. Aku ingin nona tinggal saja di situ tanpa perlu menyewanya", jelas Karen, wajahnya tampak panik.


__ADS_2