
Zafier tersentak bangun dikejutkan oleh alarm yang berbunyi nyaring tepat di samping telinganya. Zafier mengumpat dalam hati, ia lupa untuk melakukan setting off pada alarm ponselnya.
Pagi datang begitu cepat bagi Zafier, karena semalam ia benar-benar tidak bisa tidur. Sinar matahari yang menyilaukan mata masuk melewati celah jendela kaca dimana gordennya tersingkap.
Zafier hanya menggeliat di kasurnya, ia malas untuk berdiri dan memperbaiki letak gorden tersebut, ia memilih membalikkan badannya, membelakangi sinar matahari yang masuk. Akan tetapi, meski telah berusaha untuk memejamkan mata, Zafier tetap tidak bisa melanjutkan tidurnya kembali.
Sejenak Zafier termenung memikirkan sesuatu, kemudian beralih meraih ponselnya, membuka dan menscroll galeri ponselnya, memilih satu foto di sana.
Ia menyentuh permukaan ponselnya dengan penuh perasaan. Ponsel itu memperlihatkan foto seorang gadis kecil yang beranjak remaja. Zafier tersenyum, ia menatap foto itu dengan sorot mata lembut.
Maafkan aku Gwen, bukan maksudku untuk menggantikan posisimu dengan wanita lain, jangan hukum aku seperti ini, gumam Zafier. Entah kenapa, ketika pikiran tentang Shezan melintas, ada perasaan bersalah pada Gwen, seolah ia mengkhianati Gwen.
Sebenarnya semalam Zafier sudah merasa sangat lelah dan ingin sekali tidur, tapi matanya sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama, karena otaknya masih saja berkutat di seputar Gwen dan wanita bernama Shezan itu. Alhasil Zafier lelah bergadang.
Di saat pikiran Zafier kembali menerawang ingatannya semalam. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Ruben tertera di sana. Zafier menekan tombol on dengan malas
"Halo, ada apa mengganggu tidurku pagi-pagi, awas saja kalau bukan hal penting", hardik Zafier.
"Ma....maaf tuan saya menganggu, nona Shezan pagi ini sarapan di lantai bawah", lapor Ruben cepat agar bosnya tidak bertambah kesal, ia tidak mau mendapatkan amukan lebih parah dari bosnya.
"Hmm... ya", jawab Zafier pendek, lalu mematikan ponselnya.
Zafier segera bangun. Dengan bersemangat ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, ia berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Zafier mengambil satu stel pakaian santai, celana jeans warna gelap dan baju kaos lengan panjang berwarna abu-abu muda.
Zafier berjalan menuju jendela penthousenya, menatap ke arah bawah dengan penuh harap.
Apa kamu ada di sana Shezan, tunggu aku, jangan kemana-mana, aku segera ke sana, gumam Zafier.
__ADS_1
Di ruang tamu, ternyata Ruben telah menunggunya.
Zafier pun bergegas ke luar dari penthouse dengan diikuti Ruben di belakangnya. Mereka menuju lantai bawah dimana ruang makan berada dengan menggunakan lift khusus.
Setibanya di ruang makan, Ruben sengaja menjaga jarak dengan bosnya, karena ia tau tujuan bos nya ke ruangan ini.
Zafier mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan. Ia menajamkan penglihatannya, berusaha menemukan satu sosok yang mulai mengisi malam sepinya.
Matanya terpaku pada seorang wanita yang mengenakan baju atasan berwarna hijau. Zafier memperhatikannya lebih dalam. Ternyata benar, itu dia, Zafier menemukannya, di satu sudut menghadap jendela kaca. Ia nampak asyik menikmati kesendiriannya.
Zafier beralih ke meja yang menyediakan berbagai makanan yang menggugah selera. Setelah memilih beberapa jenis makanan, ia berjalan ke luar menuju taman. Ia sengaja mengambil posisi di luar ruangan. Ia memilih duduk di taman luar, tepat bersebrangan dari posisi wanita itu. Dari sini, Zafier bisa mengamati wanita itu dengan aman, tanpa perlu takut ketahuan.
Zafier bisa melihat tatapan beberapa pria tertuju begitu intens pada wanita itu. Zafier merasa kesal. Rasanya ia ingin mencongkel mata para pria itu dan menarik wanita itu pergi dari sana.
Tiba-tiba saja seorang pria dengan percaya diri duduk di dekat wanita itu. Pandangan si pria seperti hendak menerkam si wanita. Wanita bernama Shezan itu cuma melirik sebentar kemudian membuang muka. Nampak kekesalan di wajahnya. Bahasa tubuhnya juga memperlihatkan ketidaknyamanan.
Sementara si pria benar-benar bermuka tebal, meski lawan bicaranya tidak merespon dan menanggapi, ia tetap sangat antusias mengajak si wanita berbicara, matanya terus memberikan tatapan menggoda pada si wanita.
Sementara Ruben yang menyadari sesuatu, segera berjalan mendekati meja dimana Zafier makan, tapi sebelum mencapai meja Zafier. Zafier sudah berdiri dengan tergesa-gesa.
Ruben berhenti sebelum mencapai lokasi dimana bosnya tadi duduk. Ia mengawasi kemana bosnya pergi. Ia heran, sejak kapan bosnya tertarik ikut campur urusan orang lain. Ruben kemudian duduk di sudut yang lain, mengamati semua yang terjadi.
Rupa-rupanya emosi Zafier langsung tersulut ketika melihat pria itu memegang paksa tangan si wanita. Ia berjalan ke dalam ruangan menuju meja dimana wanita itu berada. Dihentakkannya tangan pria itu hingga terlepas dari tangan si wanita.
"Jauhkan tangan kotormu dari kekasihku" hardik Zafier marah. Sheza langsung melongo menatap Zafier. Pria kemarin gumamnya. Meski tidak suka pengakuan pria itu, ia tau maksud pria itu baik, ia hanya ingin menjauhkan Sheza dari pria pengganggu itu. Sebab itulah Sheza diam saja, ia tidak memberikan respon apapun.
Pria itu terkejut, ia menatap orang yang menghentakkan tangannya dengan sangat marah. Berani-beraninya pria ini, apa ia tidak tau siapa aku, pikirnya. Zafier balik menatap pria itu dengan aura membunuh yang kental.
Pria ini cukup merinding ditatap seperti itu, ia merasa lehernya tercekik. Nyalinya langsung menciut. Aura orang ini begitu mendominasi, sekarang aku harus mengalah. Lihat saja nanti kalau aku membawa anak buahku, mati saja kau, batinnya. Ia pun berlalu dengan kesal tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah pria pengganggu itu pergi. Sheza berniat untuk segera pergi. Tapi Zafier menghadangnya.
__ADS_1
"Apa anda tidak ingin berterima kasih atas bantuanku nona", tanyanya datar.
Sheza memutar bola matanya malas, kesialan apa lagi ini, setelah pria pengganggu pergi, sekarang datang pria pengganggu lainnya. Apalagi ia masih kesal dengan ucapan pria ini kemarin.
"Terima kasih", ujar Sheza singkat, dan hendak berlalu pergi.
"Tunggu dulu nona, boleh temani aku minum? ", tanya Zafier ragu-ragu. Wanita di depannya sangat sulit dihadapi.
"Aku sudah minum", ujar Sheza pendek.
"Bagaimana kalau temani aku makan, dari tadi aku lihat, anda hanya minum saja", Zafier keceplosan. Dan Sheza langsung menyadarinya. Ia melotot menatap Zafier. Jadi dari tadi ia sudah mengawasi aku, gumam Sheza.
"Anda sepertinya banyak waktu luang tuan", ujar Sheza kesal.
"Maaf aku tidak bermaksud mengawasi anda, aku hanya aneh melihat anda hanya minum saja, apa anda merasa takut berat badan anda bertambah jika anda makan nona. Aku jadi sedikit merasa bersalah atas ucapanku kemarin", ucap Zafier polos dengan senyuman jahilnya
Seketika Sheza tersedak, bola mata indahnya melotot menatap wajah zafier yang nampak datar di depannya. Ya tuhan, bolehkan aku mencekik pria di depan ku ini, mohon Sheza.
Zafier yang dipelototi Sheza, menatap Sheza dengan polos. Matamu indah sekali nona, gumamnya terpesona.
Sheza salah tingkah ditatap intens seperti itu. Mata elang ini benar-benar mematikan, gumamnya terpesona.
-
-
-
Yey yey yey .... akhirnya dua-duanya sama-sama terpesonaaah. Yuuk kawal #ZafierSheza sampai jadian.
Eeeits tidak semudah itu ferguso, masih banyak ujian-ujian yang akan menghadang ke depannya.
Yuuuuk, readers semua tetap ikuti dan dukung othor berkarya ya, biar othor tambah semangat 🥰
__ADS_1
Makasiiiih readers semuaaah, lope ❤ lope ❤ buat readers semua dan maafkeun kalau masih banyak typo sana sini yaaa 🙏