
Pagi itu Arsen tampak sangat menikmati interaksinya dengan Sheza. Wanita cantik bermata hazel itu tengah duduk tepat di depannya. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Pemandangan yang membuat adrenalinnya begitu terpacu dan bersemangat pagi ini.
Sangat jelas terlihat di kedua netra hitamnya, pandangan lembut berbinar penuh puja. Arsen masih saja terus tersenyum menatap Sheza, tidak peduli dengan situasi sekitarnya yang mulai memanas. Ia bahkan tidak menyadari kalau saat ini seseorang di belakangnya tengah menatapnya dengan sangat tajam dan penuh perhitungan. Jika saja kedua netra yang menatapnya saat itu mengeluarkan laser, niscaya tubuhnya akan tercabik-cabik detik itu juga.
Sebenarnya Arsen merasa sangat terganggu dengan orang yang tiba-tiba membuka pintu ruangan Sheza dengan tidak sopan itu. Saat pintu terhempas keras di belakangnya, ia sangat terkejut. Ia spontan mengumpat di dalam hati. Emosinya sudah menguap sampai ke ubun-ubun. Rasanya ingin sekali menghardik dan memberi pelajaran pada orang yang tidak tahu sopan santun itu. Tangannya sudah mengepal menahan emosi sedari tadi.
Ta-tapi....apa ini, kenapa punggungnya terasa dilanda hawa yang begitu dingin, ia merinding. Reflek Arsen berbalik ke belakang, menatap lurus ke arah pintu masuk ruangan Sheza. Tepat pada saat netra Zafier sedang menatap tajam pada Arsen. Mata Arsen melotot nyaris keluar saking terkejut, mulutnya menganga melihat sosok yang berada tepat di pintu masuk itu.
"ZAFIER...!!", ujar Arsen nyaris berteriak. Selang beberapa saat kemudian arsen berusaha mengendalikan ekspresinya.
Melihat tatapan netra Zafier saja sudah membuat ia terintimidasi meskipun pria itu tidak melakukan apa-apa.
Wajah Zafier menggelap dengan sorot mata yang tajam. Seketika rahangnya mengeras dengan guratan urat nadi yang nampak menonjol, ekspresi dingin nya tak berubah hanya ada kilatan emosi tersendiri di matanya. Ekspresinya benar-benar mampu membekukan ruangan saat itu juga.
Semua orang di ruangan itu terperanggah, mereka terdiam. Aura Zafier begitu menyesakkan.
Sementara Sheza, hanya bergumam pelan nyaris tidak terdengar, Tuan Safaraz, ujarnya nanar. Meski sangat terkejut tapi Sheza masih mampu mengendalikan ekspresinya. Namun ia tidak mampu mengendalikan detak jantungnya. Kemudian netranya beralih menatap Karen yang berdiri di sampingnya, Karen nampak hanya menunduk. Ia tidak mampu menatap balik netra Sheza, apalagi untuk menatap sosok dingin yang baru saja membuka pintu ruangan itu. Aura orang itu begitu menakutkan.
__ADS_1
Ken sendiri langsung terlonjak saking kagetnya, alarm bahayanya langsung aktif seketika. Ia siap siaga di sebelah bosnya, Arsen.
Arsen yang sangat terkejut langsung berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia berusaha bersikap tenang karena tiba-tiba saja di otaknya berputar kembali momen ketika Zafier menasehatinya beberapa kali. Ia merasa seperti maling yang tertangkap tangan. Ia meraup wajahnya dengan tangan kanannya, frustasi.
"Oh halo Zafier, ternyata kau sudah kembali", ujar Arsen berusaha menutupi kegugupan. Zafier hanya diam dengan tatapan tajam ke arah Arsen. Kepalan tangannya mengerat. Namun ekspresinya masih datar.
Carlos yang paham akan situasi berusaha menetralkan keadaan. Ia tahu bosnya sedang dalam kondisi emosi yang tinggi. Bosnya terlihat seperti seseorang yang sedang mendapati kekasihnya selingkuh di depan matanya. Tetapi akan sangat aneh jika bosnya seperti itu karena bosnya tahu betul posisi Sheza. Rasanya sangat tidak mungkin jika bosnya merasa cemburu terhadap kedekatan Sheza dengan Arsen, karena bosnya tahu bahwa Sheza adalah calon ibu sambungnya. Jadi Carlos sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya .menjadi pemicu kemarahan sang bos, namun Carlos bisa membaca jika situasi sedang memanas saat ini.
"Oh ternyata ada tuan Arsen di sini", ujar Carlos, wajahnya dibuat seterkejut mungkin. "Kebetulan tuan muda Zafier mempunyai beberapa urusan dengan nona Arshaka", aku Arsen.
Begitu namanya disebut Carlos, Sheza mengangkat kepalanya, netranya menatap Carlos dan Zafier bergantian, keningnya sedikit berkerut, karena seingatnya, selama Zafier menggantikan posisi daddy Zaki Safaraz, tidak pernah sekalipun Zafier ingin membahas sesuatu dengan dirinya. Segala sesuatu terkait urusan perusahaan hanya diurus oleh Carlos sebagai asisten sekaligus perpanjangan tangan Zafier.
Arsen mulai bisa membaca situasi. Melihat sikap Zafier, sepertinya Zafier merasa marah karena ia mendekati calon ibu sambungnya, meski beralasan bahwa Ini semua adalah urusan pekerjaan.
"Baiklah Zafier, aku permisi dulu. Silakan lanjutkan urusanmu dengan nona Arshaka", ujar Arsen tanpa berani menatap wajah Zafier. Ia buru-buru berdiri. Sementara Ken mengemasi seluruh berkas yang ada di atas meja itu.
"Maaf saya yang sudah mengganggu kenyamanan anda, nona Arshaka. Saya akan membawa semua berkas ini dan mempelajarinya kembali. Terima kasih atas waktunya nona Arshaka. Saya permisi dulu", pamit Arsen, dengan senyum lembutnya pada Sheza.
__ADS_1
"Baiklah tuan Arsen", jawab Sheza datar, ia menganggukkan kepala sopan pada Arsen.
Zafer hanya memperhatikan interaksi kedua orang itu dengan tatapan datar. Emosinya tampak pada kepalan tangannya yang semakin erat. Ia sangat tidak suka dengan senyuman lembut yang diberikan Arsen pada Sheza.
Arsen sendiri kemudian bergegas keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. Sebelum keluar, ia pamit dengan sopan pada Zafier. Ken mengikutinya dari belakang dengan membawa setumpuk berkas.
Sepeninggal Arsen, suasana ruangan tiba-tiba menjadi hening. Entah masing-masing orang sibuk dengan pikirannya atau malah bingung harus berbuat apa.
Zafier nampak berusaha santai. Untuk menutupi kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya, ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya.
"Silakan duduk tuan Safaraz", sapa Sheza lembut, ia berusaha memecahkan keheningan. Sheza sadar kalau sedari tadi Zafier hanya berdiri.
Zafier yang mendengar suara lembut Sheza mengalun, kemudian menatap Sheza yang tengah tersenyum lembut padanya. Netra mereka kembali bertatapan satu sama lain.
"Terima kasih nona Arshaka, biar nanti Carlos yang akan mengurus semuanya. Kebetulan saya ada keperluan mendadak", tanpa menunggu jawaban Sheza, Zafier pun berbalik menuju pintu. Carlos yang bingung pun mengikuti bosnya itu. Tidak lupa ia menutup kembali pintu ruangan kerja Sheza. Ketika ia menutup pintu netranya bertatapan dengan netra Sheza.
Carlos merasa gemas melihat wajah Sheza saat itu. Mulut Sheza sedikit menganga saking kagetnya dengan tingkah laku Zafier yang tiba-tiba.
__ADS_1
Carloss memahami tatapan penuh tanda tanya dari Sheza. Carlos yang juga tidak mengetahui apa-apa, hanya diam sambil mengedikkan bahunya. Carlos mengangkat tangan kanannya dan memberikan satu jempol pada Sheza. Seolah ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Kepergian Zafier dan Carlos masih diikuti oleh pandangan bingung serta penuh tanda tanya dari Sheza.