
Akhirnya Sheza dan Karen tiba di resto hotel lantai bawah untuk sarapan. Nuansa interior resto dibuat sangat menarik, perpaduan klasik dan modern. Desain khas klasik seperti di area makan istana tersaji di satu sudut, deretan meja kursi makan klasik tersusun rapi membentuk suatu pola. Serta tambahan aksen bunga dalam vas pada setiap meja. Deretan jendela kaca dengan gaya klasik modern juga terpampang di sana.
Sementara di sudut lain desain modern santai juga bisa dinikmati pengunjung. Suasana santai yang menyenangkan dapat dinikmati di dalam dan di luar ruangan.
Resto ini menyajikan konsep "open kitchen" yang menawarkan pengalaman makanan yang mewah dengan sentuhan modern Art Deco. Makanan yang disiapkan dengan bumbu segar setiap harinya untuk set up prasmanan dan ala carte menu. Menyajikan pilihan variatif makanan Internasional, Asia dan lokal. yang sangat menggugah selera.
Karen sendiri telah menghilang begitu mereka memasuki pintu ruangan resto hotel. Sheza yang sedang sibuk sendiri memilih menu, tidak mau ambil pusing, dengan membatasi pergerakan Karen.
Sheza hanya memilih minuman saja. Entah kenapa ia tidak bernafsu untuk makan, meskipun berbagai hidangan yang menggugah selera tersedia di sana. Ia hanya ingin bersantai sambil menikmati suasana, karena jenuh berada di kamarnya. Sheza lebih memilih duduk dalam ruangan, di sudut dengan desain modern santai, disana ia bebas mengamati suasana taman luar yang juga menyediakan meja dan kursi bagi pengunjung yang ingin sarapan di sana.
Sementara orang-orang nampak lalu lalang berjalan mencari menu yang diinginkan kemudian beralih ke meja masing-masing untuk duduk dan menikmati sarapan. Hiruk pikuk orang-orang berbaur jadi satu, Sheza menikmatinya, baginya ini jauh lebih menarik daripada makan sendirian di kamarnya. Di sini banyak hal yang bisa dilihatnya.
Karen yang tadinya menghilang, saat ini sudah kembali ke ruang resto hotel. Ia duduk di sudut yang lain. Seperti biasa, ia mengawasi Sheza dari jauh, sesuai instruksi yang diterimanya.
Sheza tidak menyadari kalau semenjak ia duduk di sana, banyak mata yang mematapnya, mengagumi bahkan ada yang terang-terangan terpesona. Sampai kemudian ketenangan Sheza terusik ketika seorang pria duduk di depannya tanpa permisi.
"Halo cantik, sendirian ya, boleh aku temani? ", sapanya sok akrab dengan tatapan menggoda sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Sheza menatap dingin, tak mengacuhkan uluran tangan pria itu. Pria itu menarik kembali tangannya. Tapi tetap saja bermuka tebal dengan duduk di sana.
Ia menatap Sheza dalam dengan pandangan terpesona. Sebenarnya Sheza merasa sangat tidak nyaman, tapi ia tidak mungkin mengusir pria tersebut, karena tempat ini adalah tempat umum.
__ADS_1
Alhasil Sheza hanya diam saja, tak merespon meski berulang kali ia mengajak Sheza berbicara.
"Oiya cantik, perkenalkan aku Stefano Darmawangsa, aku jamin kamu tidak akan rugi mengenal pria sepertiku, apapun yang kamu inginkan pasti terpenuhi, asal kamu jadi gadisku", ujarnya genit dengan kepercayaaan diri yang sangat tinggi.
Sheza hanya menatap sekilas, kemudian kembali meneguk minumannya dengan acuh.
Stefano bukan main kesal menerima sikap Sheza yang acuh tak acuh. Biasanya wanita manapun akan bertekuk lutut padanya. Artis-artis terkenal saja akan langsung bersikap manis begitu melihatnya. Tapi wanita yang satu ini, malah acuh bahkan seperti menganggap dirinya tidak ada. Stefano kesal bukan main. Apa ia tidak tau siapa Stefano Darmawangsa, batinnya.
Amarahnya semakin terpicu ketika melihat wanita itu berdiri dan akan beranjak pergi. Secara tiba-tiba Stefano menarik tangan Sheza. Mata Sheza menatap Stefano dingin. Stefano yang ditatapnya malah menyeringai menjijikkan menurut Sheza. Sheza bukan main kesal, rasanya ingin sekali membanting pria yang bermuka tebal ini. Tapi ia tidak mau menjadi pusat perhatian di sini. Sheza hanya bisa menahan diri, ia menggertakkan giginya menahan emosi.
Di saat terjadi perang urat syaraf antara Sheza dengan Stefano yang tak kunjung melepas tangannya, tiba-tiba saja sebuah tangan menghempas tangan Stefano hingga terlepas dari tangan Sheza.
Stefano terkejut bukan main, siapa yang cari mati berani bersikap kurang ajar padanya. Apa orang itu tidak tau siapa dirinya. Ia menoleh ke arah orang yang menghempas tangannya, seorang pria tinggi besar juga tengah menatapnya dengan mata dingin dan aura membunuh. Stefano merinding ditatap seperti itu, ia merasa lehernya tercekik.
Stefano langsung ciut nyalinya mendengar hardikan pria itu. Wanita cantik ini sudah punya kekasih? Apa iya? Aku sudah mengamatinya mulai ia baru masuk resto, dan ia hanya sendirian setelah sekian lama, pikir Stefano bingung.
Ia juga tidak berani membantah dan mendebat si pria, aura pria ini begitu menakutkan, begitu mendominasi, apalagi saat ini ia sedang tidak ditemani para bodyguardnya. Stefano tidak mau mengambil resiko. Sekarang aku harus mengalah. Tapi lihat saja nanti kalau aku membawa anak buahku, mati saja kau, batinnya. Ia pun berlalu dengan kesal tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Sementara Sheza yang menyaksikan semua adegan di depannya hanya diam melongo, sekaligus merasa terkejut, darimana pria ini datang secara tiba-tiba, bukannya ini pria yang menabrakku kemarin, sejak kapan aku jadi kekasihnya, pikir Sheza bingung. Meski pun ia tidak suka dengan pengakuan sepihak dari pria itu, ia tau pria di depannya ini hanya bermaksud menolongnya, ia hanya ingin menjauhkan Sheza dari pria pengganggu itu. Sebab itulah Sheza diam saja, ia tidak memberikan respon apapun.
Setelah kondisi kondusif, dimana pria pengganggu itu sudah pergi. Sheza berniat untuk segera pergi. Tapi Zafier menghadangnya.
__ADS_1
"Ehmm....Apa anda tidak ingin berterima kasih atas bantuanku nona", tanyanya datar.
Sheza memutar bola matanya malas, keningnya berkerut, Siapa juga yang minta ditolong, batin Sheza.
Uuh...Kesialan apa lagi ini, setelah satu pria pengganggu pergi, sekarang datang pria pengganggu lainnya, gumam Sheza. Kekesalan Sheza semakin memuncak ketika ia mengingat kejadia kemarin, ia masih kesal dengan ucapan pria ini kemarin.
Tapi Sheza mengalah, walau bagaimanapun ia telah membantu Sheza terlepas dari pria menyebalkan tadi.
"Terima kasih", ujar Sheza singkat, wajahnya datar, tanpa ekspresi, tidak ada senyuman di sana. Sejurus kemudian ia melangkahkan kakinya, berniat hendak berlalu pergi.
"Tunggu dulu nona, boleh temani aku minum? ", tanya Zafier ragu-ragu. Wanita di depannya sangat sulit dihadapi. Meski telah menolong wanita itu, wajahnya tetap saja tidak bersahabat.
"Aku sudah minum", ujar Sheza pendek. Matanya tetap menatap Zafier datar. Jangankan menampakkan senyuman genit atau menggoda seperti yang biasa Zafier temukan pada wanita di sekitarnya, senyuman ramah sebagai teman saja tidak terlihat di wajahnya. Zafier nyaris membenturkan kepalanya ke tembok saking putus asanya.
"Bagaimana kalau temani aku makan, dari tadi aku lihat, anda hanya minum saja", Zafier keceplosan. Dan Sheza langsung menyadarinya. Ia melotot menatap Zafier. Jadi dari tadi ia sudah mengawasi aku, gumam Sheza kesal.
"Anda sepertinya punya banyak waktu luang tuan", ujar Sheza dingin, matanya tajam penuh amarah. Zafier salah tingkah ditatap seperti itu. Tapi ia tetap. suka, mata hazel wanita ini begitu memukau.
"Maaf aku tidak bermaksud mengawasi anda, aku hanya aneh melihat anda hanya minum saja, apa anda merasa takut berat badan anda bertambah jika anda makan nona. Aku jadi sedikit merasa bersalah atas ucapanku kemarin", ucap Zafier polos dengan senyuman jahilnya
Seketika Sheza tersedak, bola mata hazelnya yang indah melotot seperti ingin melompat keluar. Ia menatap wajah zafier yang nampak datar di depannya.
__ADS_1
Aarghh, teriak Sheza kesal dalam hati.