
Sementara itu .....
Sepeninggal Adolf yang ditugaskan Zafier untuk memanggil Oleta untuk memeriksa Sheza, Zafier kemudian menarik paksa dr. Nico dari kamar dimana Sheza berada, untuk segera mengikutinya menuju ruangan kerjanya.
Dr. Nico sendiri nampak pasrah mengikuti langkah kaki Zafier menuju ruang kerja, meski dengan wajah ditekuk.
Begitu memasuki ruang kerjanya, Zafier langsung berjalan menuju kursi kerjanya. Ia menatap dr. Nico yang memilih untuk tetap berdiri didekat pintu. Ia menghela nafasnya, kemudian memilih duduk di kursi kebesarannya. Zafier berusaha lebih rileks dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang nyaman itu kemudian mengangkat salah satu kakinya ke atas kaki yang lain. Kedua tangannya bersidekap. Netranya menatap tajam pada dr. Nico yang masih saja berdiri di sudut ruangan. Wajah cerianya seketika berubah menjadi tidak bersahabat.
"Sampai kapan kau mau berdiri di sana?", tanya Zafier datar.
Dr. Nico pun berjalan menuju sofa yang terletak di depan meja kerja Zafier. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa itu dengan kesal.
"Kau benar-benar membuat hatiku terluka, Zafier. Kau telah melecehkan profesiku Zafier. Kau sangat menyakiti hatiku dengan menolak kebaikanku. Bagaimana mungkin kau menggantikan ku dengan seorang perawat seperti Oleta", sungut Nico penuh drama. Wajahnya masih tidak bersahabat, menatap Zafier penuh permusuhan. Sementara sosok yang ditatapnya nampak acuh tak acuh.
Zafier hanya diam tidak menanggapi ocehan dr. Niko sama sekali. Ia hanya membiarkan dr. Niko mengeluarkan uneg-unegnya. Setelah dr Nico nampak lebih tenang, ia baru mulai berbicara.
"Kapan kau sampai di Indonesia Nico? ", tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
Begitu mendengar pertanyaan serius Zafier, dr. Nico berubah tampilan dalam mode serius.
"Tepat beberapa saat setelah daddyku memanggilku kembali ke Indonesia untuk merawat daddymu. Aku langsung bertolak ke Indonesia. Aku tahu kau sangat sibuk, jadi aku tidak menghubungimu. Paman Ganial menjelaskan tentang musuh daddy Zaki yang sedang menargetkan keluargamu. Kau tahu Zafier demi persahabatan kita, karena aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku, aku rela meninggalkan profesiku yang sudah sangat seatle di UMC Utrecht, rumah sakit ternama dan terbaik di Belanda sana", dr. Nico bercerita dengan semangat. Sedikit sindiran untuk Zafier yang dianggapnya tidak menghargai profesinya. Namun lagi-lagi yang disindir terlihat acuh.
__ADS_1
"Semoga kau ingat kalau aku menawarkan harga yang sangat sepadan untuk itu", wajah Zafier nampak datar ketika berucap tapi ucapan itu mampu membungkam dr. Nico dengan telak.
Mendengar ucapan Zafier, dr. Nico hanya tertawa miring, sambil menyentuh bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Meski kita bersahabat, kau harus tetap profesional Zafier, aku tidak mungkin memberikan harga persahabatan untuk profesiku, apalagi untuk miliarder sepertimu", dr. Nico membela diri, sementara Zafier hanya memutar bola matanya malas.
"Kau masih tetap sama Nico, sangat materialistis", cibir Zafier.
"Dan realistis", sambung dr. Nico. "Terima kasih atas pujianmu Zafier", lanjutnya sambil tertawa lebar. Tawanya pun bergema di ruangan kerja Zafier.
Zafier hanya menatap datar sahabatnya itu, tadi auranya penuh permusuhan, sekarang ia tertawa penuh kebahagiaan, cepat sekali ekspresinya berubah. Suatu hal yang sangat menakjubkan bagi seseorang yang minim ekspresi seperti Zafier.
Kali ini netra dr. Nico menatap Zafier serius begitu mendengar pertanyaan Zafier. Dr. Nico tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Netranya menerawang. Kemudian ia menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Kau tahu Zafier, kalau kau dan daddy Zaki menjadi prioritas yang sama buatku. Kalian berdua sebanding dengan prioritasku untuk keluargaku. Untuk apa aku menerima tawaranmu menjadi dokter di markasmu jika yang akan aku rawat dan obati hanyalah anak buahmu. Mereka bukanlah sesuatu yang penting buatku. Kau tahu ketika daddyku mengabarkan bahwa daddy Zaki mengalami penembakan saat itu, rasanya aku ingin langsung berbalik ke Indonesia untuk melihat keadaan daddy Zaki. Tapi daddyku meyakinkanku bahwa dia masih sanggup menangani keadaan daddy Zaki", jawab dr. Nico tulus.
"Aku akan menggandeng beberapa dokter ahli di Belanda. Saat ini aku sedang menunggu jawaban dari beberapa rekan dokter spesialisku di sana. Aku yakin daddy Zaki dapat kembali sadar dan pulih. Kau tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan daddy Zaki yang sudah kuanggap seperti daddyku sendiri", lanjut dr. Nico.
"Aku percaya padamu. Lakukanlah apa yang terbaik untuk kesembuhan daddy. Berapapun biaya yang dibutuhkan, tidak akan menjadi masalah bagiku, aku akan memenuhi semuanya", ujar Zafier. Ia yakin sahabatnya itu bisa diandalkan.
"Pasti Zafier! Aku hanya minta satu hal kepadamu sebagai imbalannya. Kau harus berjanji padaku untuk membalaskan apa yang telah para bangsat itu lakukan terhadap daddy Zaki. Dan ketika kau menangkap mereka kau harus memberitahuku aku. Akan kujadikan mereka sebagai eksperimen penelitian kedokteranku. Apalagi kau tahu bidangku adalah bedah. Pasti akan menyenangkan sekali membedah tubuh mereka dan mengeluarkan organ-organ mereka satu persatu tanpa melakukan pembiusan. Aku sangat menunggu saat-saat itu Zafier. Kau harus berjanji akan mewujudkannya. Ha ha ha", Nico tertawa terbahak-bahak seolah apa yang diucapkannya tadi adalah sebuah candaan.
__ADS_1
Kemudian netranya berubah menjadi tajam dan dingin. Rahangnya mengetat, giginya mengatup satu sama lain, urat-urat di tangannya nampak menonjol. Ia sangat emosi mengingat apa yang menimpa daddy Zaki.
Zafier menatap dr. Nico masih dengan ekspresi datarnya. Ia tidak menyangka sahabatnya yang sangat ekspresif itu mempunyai sisi sadis seperti itu.
"Aku berjanji padamu! Akan sangat memalukan jika aku tidak bisa membalas kelakuan para bajingan itu. Kau tenang saja. Saat ini yang perlu kau lakukan adalah mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk kesembuhan daddy", tekad Zafier.
"Oh iya, aku hampir saja melupakan sesuatu. Apa kau tidak ingin menceritakan kepadaku, siapa wanita cantik yang berada di atas ranjangmu itu?", selidik dr. Nico, ia menaikturunkan alisnya menggoda Zafier. Zafier menatapnya malas.
"Apa paman Eka tidak menceritakannya padamu?", tidak menceritakannya padamu. Zafier benar-benar malas untuk menjelaskan identitas Sheza.
"Kau ini seperti tidak tahu saja bagaimana kesibukan daddyku. Selama aku kembali ke Indonesia, aku belum pernah bertemu muka dengannya. Ia sangat sangat sibuk. Mana ada ia waktu untuk berbincang-bincang denganku. Berbicara melalui telepon saja sangat sulit dengannya", keluh dr. Nico.
"Kau saja yang tidak mau mengunjungi mansion keluargamu sendiri. Siapa suruh kau menetap di apartemen", cibir Zafier.
Dr. Nico lagi-lagi tersenyum miring. "Aaah, aku malas bertemu mereka, apalagi mommy. Mereka selalu membahas pernikahan setiap kali melihat wajahku. Seolah-olah aku sudah sangat tua dan tidak laku-laku", sungut dr. Nico.
"Kenyataannya kau memang tidak laku kan? Selama di Belanda, aku tidak pernah melihatmu menggandeng wanita", ejek Zafier.
"Sepertinya aku harus memberimu kaca besar agar kau bisa melihat dirimu sendiri", ejek dr. Nico tak mau kalah.
"Eh, kenapa malah membahas diriku. Bukannya tadi aku mempertanyakan wanita cantik yang berada di kamarmu. Kau tahu, aku sangat terkejut ketika mendapati kau membawa wanita itu kamarmu, bahkan meletakkannya di atas ranjangmu sendiri. Aku sangat tahu bagaimana dirimu Zafier. Yang terbesit di otakku adalah apakah wanita itu sangat penting bagimu. Seberapa spesial wanita itu bagimu Zafier?" tanya dr. Nico penuh selidik, sekaligus merasa penasaran.
__ADS_1