My Little Gwen

My Little Gwen
dr. Niko mabuk


__ADS_3

Selepas kepergian Adolf dari ruang kerja Zafier. Dr. Niko pun mulai memasang wajah serius. Ia menatap Zafier tajam.


"Oke Zafier, aku ingat tadi kau mengatakan bahwa ada seseorang yang juga pernah mengalami patah hati seperti yang aku rasakan dan penyebabnya juga sama yaitu Nona Sheza. Aku sudah bersabar tadi untuk tidak memaksamu mengatakan siapa orang itu dan sekarang tidak ada alasan bagimu untuk menghindari pertanyaanku itu" dr. Niko memasang wajah penasarannya. Ia menegakkan tubuhnya dengan tangan bersedekap. Menuntut penjelasan saat itu juga.


Netra Zafier menatap dokter Niko acuh. "Apa sepenting itu untukmu harus mengetahuinya?", tanya Zafier. Keningnya sedikit berkerut.


"Entahlah ... aku hanya merasa sangat penasaran" jawab dr. Niko. Ia yang awalnya protes dengan minuman tak beralkohol Itu, kini tanpa sadar, kembali menyesap Americano Coffee yang tadi diminumnya.


Zafier menyaksikan tingkah sang sahabat dengan senyum mengejek.


"Baiklah aku akan menceritakannya. Semoga apa yang aku ceritakan dapat sedikit mengurangi patah hatimu, paling tidak kau punya teman yang senasib", cibir Zafier. Dr. Niko tidak menanggapi cibiran Zafier. Ia hanya fokus mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Zafier. Ia nyaris menahan nafas saking tegangnya.


"Kau ingat Arsenio Shaka Narendra?", tanya Zafier mengawali ceritanya.


Dr. Niko mengerutkan keningnya, rasanya nama itu tidak asing di telinganya. Ia berusaha mengingat-ingat nama yang disebut oleh Zafier.


"Arsen?", tanya dr. Niko berusaha memastikan satu nama yang ia ingat.


"Ya, siapa lagi teman satu negara dengan kita kalau bukan dia", ujar Zafier membenarkan.

__ADS_1


Sebagai orang yang berasal dari negara yang sama dan sama-sama berada di negara perantauan, mereka memang beberapa kali di saat waktu senggang, berkumpul di klub. Oleh karena itu dr. Niko dan Zafier memang mengenali teman yang sama.


Zafier melanjutkan ceritanya setelah memastikan dr Niko mengetahui siapa yang ia maksud.


"Sebelum aku mengenal Nona Sheza, ternyata ia pernah bekerja di perusahaan milik Arsen. Bahkan jauh sebelum aku tahu bahwa Nona Sheza menjadi calon ibu sambungku, ternyata Arsen sudah memiliki perasaan kepadanya. Hanya saja sebelum ia sempat menyatakan perasaan, Nona Sheza mengundurkan diri dari perusahaannya. Ketika kami terlibat kerjasama dalam sebuah proyek di sini. Arsen bertemu dengan Nona Sheza. Saat itulah perasaan lama yang pernah ia miliki untuk Nona Sheza bangkit kembali. Ia berusaha untuk mendekati Nona Sheza, sebelum ia tahu bahwa Nona Sheza adalah calon istri Daddy. Sama seperti yang kau alami, ia langsung syok dan patah hati begitu mengetahui bahwa Nona Sheza adalah calon istri Daddy", cerita. Zafier panjang lebar. Sejenak ia menarik nafas panjang.


Dr. Niko sendiri tampak mendengarkan semua cerita Zafier dengan serius. Ia menghela nafas lelah. Ia tidak berkomentar apapun begitu Zafier selesai bercerita. Ia malah termenung, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia menyadari bahwa kondisinya jauh lebih baik daripada Arsen. Arsen telah mengenal Noma Sheza sebelumnya dan sudah memiliki perasaan terhadap wanita itu untuk beberapa waktu, pasti lebih sulit dari dirinya begitu mengetahui kenyataan yang ada.


"Sekarang kau tahu kan Niko, keadaanmu jauh lebih baik daripada Arsen. Arsen sudah lama memendam perasaannya pada Nona Sheza. Meski mereka kemudian tidak bertemu untuk jangka waktu yang lama, namun perasaan itu dari ke hari kian menguat dirasakan Arsen, hingga ia butuh waktu yang cukup lama untuk bisa move on. Bahkan sampai saat ini ia masih larut dengan kesedihannya, setiap kali ia terpaksa harus berhadapan dengan Noma Sheza, karena memang Arsen masih memiliki proyek kerjasama dengan perusahaanku", lanjut Zafier lagi.


"Apa hingga saat ini mereka masih sering bertemu di dalam proyekmu", tanya dr. Niko. Ada sedikit nada tidak senang di sana.


"Untuk saat ini ia mengirimkan asisten kepercayaannya untuk menangani proyek kerjasama kami. Ia merasa tidak bisa mengendalikan diri jika berada dekat dengan Nona Sheza", jawab Zafier.


Beberapa saat kemudian Zafier mengalihkan pikiran dr. Niko dengan menanyakan kepadanya beberapa hal terkait kondisi ayahnya. Beruntungnya dr. Niko tidak menyadarinya, sehingga pikiran dokter itu secara keseluruhan teralihkan oleh pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Zafier. Sepertinya dr. Niko belum menyadari bahwa semua pertanyaan itu hanyalah cara Javier untuk membuat sahabatnya itu tidak larut dengan pikirannya.


Kondisi di luar mulai gelap, Zafier melirik jam tangan yang melingkar kokoh di tangannya, tanpa terasa malam mulai merangkak naik.


Tak lama kemudian dua orang pelayan mendorong troli berisi makanan dan minuman, memasuki ruangan kerja Zafier. Dr. Niko hanya menatap troli itu dengan tatapan malas.

__ADS_1


"Aku sedang tidak ingin makan Zafier. Aku ingin menagih janjimu untuk minuman itu", ujar dr. Niko tanpa semangat.


"Apakah kalian membawa yang aku pesan?", tanya Zafier datar pada sang pelayan.


"I-iya Tuan Muda", ujar si pelayan dengan ekspresi sedikit takut, tubuhnya gemetaran. Ia memang tidak pernah melayani Zafier dari dekat. Berada sedekat itu sungguh menyisakan buatnya Aura sang Tuan mudanya itu begitu mengintimidasi.


"Baiklah cukup kau tinggalkan troli yang berisi minuman, kau bawa kembali troli yang berisi makanan", perintah Zafier lagi.


Para pelayan kemudian meninggalkan ruangan dengan terlebih dahulu membungkukkan tubuhnya pada Zafier.


Sepeninggal para pelayan Zafier menatap troli yang terdapat di sampingnya. Di dalam troli terdapat beberapa jenis minuman beralkohol. Namun di sana tidak terdapat koleksi anggur termahal milik sang ayahnya. Memang hanya Paman Adolf yang mengetahui tempat penyimpanannya


Zafier mengambil satu botol anggur. Ia membuka tutup botol itu, kemudian menuangkan cairan merah itu pada gelas milik dr. Niko dan gelasnya sendiri.


Zafier menyatukan gelas mereka hingga suara dentingan gelas itu beradu di udara.


Mereka berdua minum dengan satu kali tegukan saja, masih sambil berbincang-bincang. Entah sudah berapa gelas mereka minum tapi belum ada tanda-tanda mereka akan berhenti.


Wajah dr. Niko nampak yang paling menyedihkan di antara mereka berdua. Ia mulai berceloteh, kehilangan kontrol.

__ADS_1


"Kau tahu Zafier? Kalau saja Sheza bukanlah calon istri ayahmu aku pasti sudah menculiknya. Aaargh....aku sangat tertarik padanya, aku sangat tergila-gila padanya. Ayolah Zafier, kau harus izinkan aku memiliki Sheza. Aku yakin ayahmu masih bisa mencari wanita yang beribu-ribu kali lebih sempurna dari Sheza", ujar dr. Niko panjang lebar. Wajahnya nampak memerah, sepertinya ia sudah mulai mabuk.


Zafier sendiri hanya memperhatikan sahabatnya itu, netranya menatap tajam dan dingin. Walaupun di dalam hati ia cukup meradang mendengar apa yang diucapkan dr. Niko. Tapi ia menyadari bahwa kondisinya saat ini sedang dalam kondisi tidak sadar. Ia mulai mabuk.


__ADS_2