
Karen terus melajukan kendaraannya dengan tenang, meski mengetahui bahwa kondisi mereka saat ini sedang diikuti. Ia tidak ingin Sheza ikut cemas jika mengetahui situasi saat ini. Sebuah ide terlintas di otak Karen.
Karen mengarahkan jalan kendaraan yang dibawanya ke lokasi The Ritz-C, sebuah resto yang berada di hotel mewah di kota P. Karen yakin layaknya sebuah hotel mewah, pasti The Ritz-C memiliki tingkat pengamanan yang tinggi. Setidaknya di sana para penguntit itu tidak akan berani macam-macam untuk menarik perhatian. Karen harus menunggu di sana sampai bantuan datang. Ia yakin Juan dan Carlos tidak akan tinggal diam dan membiarkan sesuatu terjadi pada nona Sheza.
Begitu mendekati lokasi The Ritz-C Karen memperlambat kendaraannya. Matanya tetap awas menatap kendaraan penguntit yang berada di belakangnya melalui kaca spion. Karen bisa melihat kendaraan itu berhenti di seberang jalan. Kendaraan itu tidak lagi mengikuti mereka ketika kendaraan Karen memasuki area Hotel The Ritz-C. Meski ia tidak bisa melihat apakah orang-orang di dalam jeep itu masih mengamati mereka atau tidak, karena jendela Jeep itu yang sangat gelap, namun Karen yakin bahwa jeep itu berhenti tepat di seberang jalan untuk memperhatikan aktivitasnya dan Sheza. Karen terus melajukan kendaraannya hingga memasuki area pintu masuk hotel.
Security menghentikan kendaraan mereka dan meminta izin kepada mereka yang akan memasuki area hotel. Karen menurunkan kaca jendela mobilnya ketika salah seorang security mendekati kendaraan mereka. Petugas itu tersenyum ramah. Ia menyapa Karen dan meminta izin untuk melakukan pemeriksaan pada kendaraan mereka dengan sopan.
"Selamat siang, izin nona, kami akan melakukan pemeriksaan", ujar si security meminta izin.
"Selamat siang, silahkan!", Karen menjawab datar. Iya menatap security itu dengan tenang.
Security itu menyiapkan alat pendeteksi terlebih dahulu, berupa inspection mirror.
Dengan inspection mirror, security memeriksa bagian bawah kendaraan. Untuk mendeteksi adanya kemungkinan pengendara menyembunyikan sesuatu di bagian bawah kendaraannya.
Selanjutnya security memeriksa bagian dalam dan bagasinya. Selama security melakukan pemeriksaan, mata Karen tidak lepas menatap kaca spionnya. Ia terus memperhatikan Jeep yang menguntit mereka tadi. Jeep itu masih berada di sana. Mereka tidak bergerak sama sekali, Karen semakin yakin bahwa Jeep itu memang menargetkan mereka
Security hotel telah menyelesaikan pemeriksaan mereka. Setelah mereka yakin tidak ada yang mencurigakan, security itu kembali mendekat.
__ADS_1
"Terima kasih, silahkan nona!", ujar security itu mempersilahkan mereka masuk dengan sopan. Ia sedikit menundukkan kepalanya. Karen mengangguk, kemudian ia kembali menaikkan kaca jendela mobilnya, dan melajukan kendaraannya ke arah dalam, menuju area parkir hotel.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Karen dan Sheza turun dari mobil mereka. Begitu memasuki pintu masuk hotel. Mereka disambut porter hotel. Karen menanyakan arah menuju resto hotel. Sang porter pun yang mengantarkan mereka ke resto hotel.
Di bagian resto hotel mereka disambut seorang waiter yang mengantar mereka ke salah satu meja yang terletak di sudut ruangan, dekat dengan kaca pembatas. Setelah tiba di meja, Sheza dan Karen memilih duduk saling berhadapan. Waiter itu lantas menyerahkan buku menu pada mereka dengan sopan, sambil sedikit menundukkan tubuh mereka.
Tangan Karen terulur meraih buku menu yang diberikan oleh waiter. Karen kemudian menyerahkan buku menu itu pada Sheza.
Sheza nampak serius mengamati menu demi menu yang terdapat di dalam buku menu tersebut.
"Aku sedang ingin makan western food Karen, kau sendiri mau makan apa?", sisa bertanya pada Karen tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu.
"Aku pesan Chestnut Consomme, ini berupa sup bebek yang nikmat, kamu pasti suka Karen. Beef Bourguignon yang super lembut, Lobster Thermidor yang disiram saus Hollandaise segar, dan Gnocchi Parisienne dengan jamur fricassee. Untuk pencuci mulut salad, canape, dan hidangan penutup La Vie en Rose, yang terdiri dari brioche pain perdu, litchi crème pâtissière. Apa sudah cukup Karen? Apa kau ingin menambah menu lainnya?", kata Sheza santai. Karen mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Ia menatap Sheza diiringi dengan mata yang nyaris melotot, mulutnya pun menganga.
"Nona yakin bisa menghabiskan menu sebanyak itu?", tanya Karen takjub. "Mendengar nona menyebutkan menu itu satu persatu saja aku sudah merasa kenyang", lanjut Karen lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadari nafsu makan nonanya amatlah besar.
Sheza hanya mengulum bibirnya kemudian tersenyum simpul, tak menanggapi ocehan Karen.
Andai nona Sheza tahu bahwa dirinya menjadi target utama dari rencana jahat para penguntit, aku yakin nona Sheza tidak akan punya nafsu untuk memakan semua pesanannya tadi, batin Karen
__ADS_1
Karen mengucapkan terima kasih ketika sang waiter berpamitan pergi usai mencatat hidangan yang mereka inginkan.
Sementara mereka menunggu, waiter yang lain memberikan mereka minuman dan makanan pembuka sebelum hidangan utama disajikan.
Sambil menunggu waiter menghidangkan menu yang mereka pesan, Sheza dan Karen sibuk dengan ponsel masing-masing. Mereka berdua nampak mengamati layar ponsel yang berada di tangan mereka. Sheza nampak asyik tersenyum sendiri mengamati layar ponselnya, sepertinya ia sedang asyik menonton video di salah satu aplikasi. Sementara wajah Karen tampak berubah serius.
Karen tengah menghubungi Carlos. Ia melaporkan situasi yang terjadi, termasuk lokasi mereka saat ini. Ia bertukar informasi dengan Carlos. Karen sedikit lega ketika mengetahui bahwa saat ini Carlos dan tuan muda mereka tengah mengadakan meeting dengan rekan bisnisnya di tempat yang sama dengan mereka saat ini.
Karen merasa sedikit aneh. Rasanya tidak mungkin kalau situasi Ini adalah sebuah kebetulan semata, di mana lokasi meeting tuan mudanya dan Carlos berada di lokasi yang sama dengan tempat di mana mereka akan makan siang. Tapi jika memang bukan sebuah kebetulan, bagaimana mungkin tuan mudanya dan Carlos mengetahui bahwa mereka akan makan siang di lokasi ini.
Lamunan Karen buyar, ketika hidangan utama yang mereka pesan diantarkan oleh sang waiter. Sheza dan Karen nampak makan dengan tenang sambil sesekali mengobrol santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu Zafier dan Carlos sudah lebih dahulu berada di ruangan VVIP hotel di lokasi yang sama dengan Sheza dan Karen. Zafier sedang melakukan meeting dengan seorang klien dari Jepang tuan Yoshihide.
Setelah satu jam berlalu akhirnya disepakati kalau mereka akan bekerjasama dalam sebuah mega proyek di kota P.
Zafier tidak bisa tenang selama menunggu proses administrasi tahap awal terkait perjanjian kerjasama, sebelum nantinya mereka melakukan meeting lebih lanjut. Sambil berbincang-bincang dengan tuan Yoshihide, Zafier tetap mengawasi Carlos mengurus semuanya.
Akhirnya semua proses selesai. Mereka bisa bersantai sambil menikmati hidangan yang sudah ada. Namun Zafier belum bisa bernafas lega. Pikirannya masih dipenuhi dengan kekhawatiran terhadap Sheza. Ia melirik Carlos yang berada tepat di sampingnya. Carlos nampak tengah menikmati hidangan yang berada didepannya dengan tenang. Sementara dirinya, benar-benar kehilangan nafsu makan. Rasa penasaran untuk mengetahui kondisi Sheza saat ini memenuhi otaknya. Namun ego dan rasa gengsi menahannya untuk bertanya lebih lanjut pada Carlos. Zafier terus menimbang-nimbang, apakah ia akan bertanya atau tidak pada Carlos.
__ADS_1