My Little Gwen

My Little Gwen
Wanita itu bernama Shezan Shaziya Arshaka


__ADS_3

Zafier tertawa senang mengingat kejadian di lobby hotel. Ia sangat menikmati setiap adegan yang terjadi tadi, dimana ia berhasil membuat wanita cantik bermata hazel itu kesal. Ketika melihat wajah cantik itu memerah seperti kepiting rebus, sungguh sebuah hiburan tersendiri baginya.


Sepanjang jalan menuju kamarnya, Zafier masih dalam mode tersenyum sumringah. Ruben yang berada di sampingnya sedari tadi nampak mengerutkan dahinya. Merasa aneh dengan tingkah sang bos yang biasanya tampil dengan wajah datar plus dinginnya.


Akhirnya Zafier sampai di kamar hotelnya. Sebuah penthouse legendaris yang terletak di lantai 17 garden tower. Penthouse ini merupakan seluruh lantai bangunan utuh seluas 800 meter persegi dan memiliki akses lift pribadi khusus, dan merupakan penthouse terbesar di kota J.


Penthouse ini memiliki dua kamar tidur besar, termasuk kamar tidur utama, masing-masing dengan perlengkapan kamar mandi dan tempat tidur kelas atas, dilengkapi pula dengan sauna dan jaccuzi menghadap ke pemandangan kota yang luar biasa. Lounge dan ruang tamu luas mengarah ke ruang makan pribadi yang dapat menampung hingga 15 orang dan memiliki grand piano.Teras dan balkon yang besar sehingga bisa menyelenggarakan pesta kecil atau acara khusus, serta kolam renang outdoor dengan  pemandangan indah ke langit. Penthouse juga dilengkapi dengan pelayanan maksimal dan dapat memenuhi kebutuhan tamu yang menginap selama 24 jam.


Zafier memilih duduk di ruang tamu. Sementara Ruben tetap setia mengikutinya dari lobby hotel tadi.


Zafier menatap Ruben dengan tajam, tanpa bicara pun Ruben paham maksud dari tatapan bosnya itu.


"Lapor tuan, kami sudah mencoba berbagai cara untuk mengakses informasi tentang nona tadi tuan, tapi yang kami dapatkan hanya info sederhana saja. Namanya Shezan Shaziya Arshaka. Anak kedua dari Arshaka dan Veyaa. Punya satu orang saudara laki-laki. Lahir dan berasal dari kota P. Mereka berasal dari sebuah keluarga sangat sederhana, bahkan memiliki kesulitan ekonomi. Untuk saat ini dia menginap di hotel ini, presidential suite room", jelas Ruben.


Zafier terdiam, sejenak ia mencerna setiap perkataan Ruben. Jika dilihat dari nama kedua orangtuanya dan kondisi ekonomi keluarganya, sepertinya mereka orang asli Indonesia. Tapi jika diamati dari postur dan wajahnya, terutama warna matanya, Shezan ini tidak seperti kebanyakan orang Indonesia, ia lebih nampak seperti seorang blasteran luar negeri, sama seperti dirinya yang memiliki darah Belanda dari ibunya. Zafier cukup merasa aneh dan penasaran akan asal wanita itu.


"Apa tidak ada info lain yang kau dapatkan? seperti aktivitasnya saat ini atau info lainnya", tanya Zafier heran. Biasanya anak buahnya akan memberikan banyak info ketika ia memerintahkan untuk mencari data seseorang, tapi kenapa kali ini hanya sedikit info yang bisa mereka dapatkan.

__ADS_1


"Maaf tuan, data tentang nona ini tidak bisa diakses lebih jauh, seolah ada yang memblokir orang lain yang ingin mengakses datanya lebih jauh", jawab Ruben dengan nada kuatir.


Zafier kembali terdiam. Siapa wanita ini sebenarnya, pikir Zafier. Kalau ia berasal dari keluarga sangat sederhana, bagaimana mungkin ia bisa menginap. disebuah presidential suite room milik hotel termewah di kota ini. Ia juga makan di resto termewah di kota ini. Jika dilihat dari pakaian yang dikenakannya, walaupun sederhana tapi merupakan barang-barang branded.


Tadi setelah insiden penabrakan terjadi, Zafier melihat seorang wanita mendekati Shezan ini. Menilik dari pakaian, postur tubuh dan gaya wanita itu, ia lebih seperti seorang bodyguard perempuan yang memang sengaja dikirim untuk menjaga dan melindungi wanita bernama Shezan itu. Seseorang dengan bodyguard di sampingnya bukanlah seorang wanita biasa saja, pastinya ia mempunyai latar belakang yang tidak biasa. Zafier menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia benar-benar merasa penasaran dengan identitas Shezan ini. Tapi mau bagaimana lagi, anak buahnya sendiri tidak mampu mengakses data wanita ini lebih jauh.


"Ruben, kau tetap awasi Shezan ini, jangan sampai lengah, dan tetap informasikan padaku apapun hal yang kau dapatkan", perintah Zafier.


"Siap tuan", jawab Ruben patuh. Ruben masih terdiam di depan Zafier, ia sebenarnya sangat penasaran dan ingin bertanya kenapa tuannya begitu menaruh perhatian pada wanita bernama Shezan ini. Selama ia bekerja pada tuannya, baru kali ini sang tuan begitu antusias menghadapi seorang wanita. Sungguh kejadian yang amat sangat langka, pikir Ruben. Akhirnya ada wanita yang berhasil menaklukkan tuannya. Ruben ikut bahagia.


"Kenapa kau masih di sini? ", tanya Zafier dingin.


"Maaf tuan, apa anda mencintai nona Shezan ini? ", tanya Ruben memberanikan diri.


Zafier menatap Ruben, tidak percaya sang asisten akan menanyakan hal samacam itu. Cinta.... Zafier mencoba mencerna kata-kata itu. Satu-satunya wanita yang diinginkannya hanya Gwen, cintanya hanya untuk Gwen. Bertahun-tahun hatinya tertutup untuk siapapun, bertahun-tahun pula sikapnya sangat dingin pada wanita manapun kecuali keluarga dekatnya, tapi kenapa tiba-tiba sikapnya seperti ini pada wanita bernama Shezan ini. Ia sendiri tidak tau kenapa ia peduli. Zafier sendiri bingung ada apa dengan dirinya. Ia tidak tau apa ia jatuh cinta atau tidak, yang ia lakukan hanya mengikuti kata hatinya.


"Apa kau pernah jatuh cinta? ", Zafier malah balik bertanya, ia menatap Ruben dingin.

__ADS_1


Ruben menganga karena pertanyaannya malah dijawab pertanyaan balik oleh sang tuan.


"Eh, tuan... saya... ", Ruben tergagap seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa seperti sedang diinterogasi.


"Kenapa kau gugup begitu, kau tinggal jawab sudah atau belum saja", ujar Zafier dengan nada datar.


"Eh iya, maaf tuan...saya rasa sudah pernah tuan, cuma cinta monyet saja, ketika saya masih sekolah dulu", jawab Ruben malu.


"Hmm... cinta monyet ya", gumam Zafier mengangguk-angguk.


Ruben terdiam, dalam hati bertanya-tanya, kenapa jadi membahas dirinya, bukannya tadi di awal dirinya yang menanyakan perasaan sang tuan. Ruben meringis, tidak mampu berkata apa-apa, selain pasrah. Nasib bawahan, batinnya.


"Jadi setelah setua ini kau tidak pernah lagi mencintai seseorang? ", tanya Zafier datar, tanpa ekspresi.


Ruben nyaris tersedak, mendengar kata tua dalam pertanyaan sang bos, kalau dirinya dibilang tua, lalu si bos itu apa, bukankah umur si bos lebih tua darinya, keluh Ruben hanya mampu di dalam hati. Lagi pula bagaimana bisa punya waktu berkenalan atau bahkan berkencan dengan wanita kalau senantiasa harus berada disamping si bos. Sementara si bos sendiri alergi terhadap wanita. Ruben sungguh tersiksa.


"Hmm... saya jarang bertemu wanita karena tidak ada waktu tuan", jawab Ruben lagi.

__ADS_1


"Kasihan sekali hidupmu Ruben", ucap Zafier datar, tanpa merasa bersalah. Ruben berasa akan muntah darah mendengarnya.


"Iya tuan", jawab Ruben sambil meringis. Rasanya ingin menyumpahi si bos, tapi ia masih sayang nyawanya.


__ADS_2