My Little Gwen

My Little Gwen
Lobby apartemen


__ADS_3

Di siang yang terik itu sebuah Buggati Chiron memasuki pintu gerbang The Alexa Residence. Beberapa orang tenaga keamanan yang bertugas menjaga pintu gerbang masuk apartemen bergegas berdiri tegap, lalumembungkuk hormat pada pengemudinya yang tak lain adalah Zafier. Meskipun ia sudah bertahun-tahun tidak menjejakkan kaki di apartemen itu, namun para petugas keamanan masih mengingat dirinya dengan baik.


Zafier menurunkan kaca jendela mobilnya, ia menganggukkan kepalanya dan tanpa pemeriksaan detektor, mobilnya melenggang masuk menuju parkiran pribadinya. Dari parkiran, Zafier menaiki private lift, sebuah akses lift langsung menuju penthousenya.


Penthouse merupakan tipe apartemen tertinggi dengan properti lux. Penthouse berada di lantai paling atas sebuah gedung apartemen. Sebuah bangunan yang berada di tingkat tertinggi dari apartemen itu.


Dari penthousenya, Zafier bisa menikmati pemandangan di penjuru kota P.


Penthouse Zafier dibekali dengan tiga kamar tidur, tiga kamar mandi, dan dua teras. Apartemen ini memiliki dinding kaca di setiap sudutnya dengan tinggi sekitar tiga setengah meter. Fasilitas dalam apartemen yang mewah seperti kolam renang dan pusat kebugaran.


Kediaman eksklusif ini memiliki properti lux dan interior berkelas, ukurannya yang jauh lebih luas dan pastinya menyuguhkan view yang luar biasa dari lantai paling atas gedung apartemen yang tinggi.


Selain kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Dalam penthouse Zafier juga terdapat ekstra ruangan lainnya.


Ruangan tersebut di antaranya foyer, ruang tengah hingga ruang kerja dan ruang meeting serta rooftop.


Zafier memasuki penthouse nya yang telah dibekali dengan smart home system with four access digital door lock. Ruangan yang pertama kali ia lihat adalah bagian ruang tamu penthousenya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru penthouse. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ia memasuki ruangan ini.


Kemudian Zafier berjalan menuju kamar utama di mana dulu ia menghabiskan waktu di sana. Ia membuka pintu, tatanannya masih tetap sama. Selanjutnya ia berjalan menuju salah satu meja kecil yang berada di samping ranjang. Ia duduk di ranjang itu tangannya kemudian meraih sebuah foto di sana, foto seorang gadis kecil. Ia menatap foto itu dengan segenap jiwanya.


Ia kembali meletakkan foto itu, dan meraih foto yang lainnya. Kali ini ia mengangkat sebuah figura foto yang di dalamnya terdapat seorang gadis kecil ditemani oleh seorang remaja pria, yang tak lain adalah dirinya ketika masih remaja. Zafer mengamati foto itu cuup lama. Seiring dengan pandangannya, pikirannya seolah tersedot ke masa lalu. Masa di mana ia menghabiskan waktu bermainnya dengan seorang gadis kecil yang tak lain adalah Gwen.

__ADS_1


"My little Gwen", gumamnya lirih.


"Ik mis je"(belanda: aku merindukanmu), lanjutnya lagi.


Zafier menghela nafasnya. Kenangan demi kenangan saat ia dan Gwen kecil bermain serta bercanda kembali memenuhi ruang pikirannya.Zafira tersenyum baginya momen pada waktu itu adalah saat-saat terindah dalam hidupnya.


"Aaah Gwen....Di mana dirimu? Saat ini aku sangat membutuhkanmu", gumamnya lagi.


Lamunan Zafier mendadak terhenti begitu ponselnya berbunyi nyaring. Ia bergegas merogoh kantongnya, ia mengambil ponselnya yang masih berbunyi, nama Arsen tertera di sana.


zafier menekan tombol on, kemudian meletakkan ponsel di telinganya.


"Halo Arsen...", sapa Zafier.


Zafier benar-benar tidak diberikan pilihan untuk mengatakan apapun karena Arsen langsung mematikan teleponnya tanpa mendengarkan jawaban darinya. Zafier berdecak kesal.


Temannya itu selalu saja melakukan sesuatu sesuka hatinya, padahal saat ini Zafier sedang ingin melakukan sesuatu di apartemennya. Tapi semua rencananya berantakan oleh kedatangan kedatangan sahabatnya ini.


Sementara itu di lobby The Alexa Residence, Sheza nampak duduk santai. Ia tengah menunggu seseorang. Matanya tak lepas dari ponsel yang berada di tangannya. Sheza memang memiliki janji dengan Karen untuk makan malam di luar. Sesekali matanya mengamati pintun masuk, berharap seseorang yang ditunggunya muncul dari sana.


Sementara Arsen sendiri memasuki pintu masuk lobby The Alexa Residence. Ia mengambil tempat pada salah satu sofa yang terletak di sudut lobby apartemen. Arsen juga sibuk memperhatikan ponsel yang berada di tangannya, ia menunggu Zafier dengan sabar di sana. Selain ingin bertemu dengan melihat langsung kondisi daddy Zafier, ia sebenarnya juga bermaksud mengadakan kerjasama bisnis dengan Zafier, ia ingin membangun sebuah proyek kerjasama dengan Zafier dan ingin melibatkan perusahaan berskala kecil yang memiliki prospek bagus di kota P. Ia yakin sekali dengan kemampuan Zafier dalam memprediksi perkembangan bisnis ke depan. Arsen ingin perusahaan milik sepupunya yang hilang itu, tetap eksis, berkembang dan maju sebagaimana seharusnya. Ya memang tidak mau mencampur adukkan manajemen perusahaan milik sepupunya itu dengan perusahaannya sendiri di kota J. Ia sudah bertekad akan mengembalikan perusahaan itu kepada orang yang berhak, yakni sepupunya, jika ia sudah ditemukan.

__ADS_1


Sejenak Arsen memperhatikan jam tangannya, sepertinya Zafier sedang menguji kesabarannya. Kemudian ia mengamati kondisi di sekitarnya. Saat itulah matanya tertumbuk pada suatu sudut lobby yang lain. Matanya difokuskan ke arah itu. Ia melihat seorang wanita cantik sedang asyik mengamati ponsel yang berada di tangannya. Sesekali wanita itu mengamati pintu masuk lobby. Ia mengamati wanita itu dari jarak yang cukup jauh. Sehingga wajahnya tidak terlalu jelas. Ia merasa wajah wanita itu sangat familiar, rasanya ia mengenal wanita itu.


Arsen kemudian beranjak dari sofanya. Ia berdiri dan berjalan mendekati arah wanita itu. Ketika ia mulai berjalan dan memperpendek jarak antara dirinya dengan wanita yang diamatinya tadi. Seseorang menepuk pundaknya, Arsen menoleh, ia melihat Zafier sudah berdiri tepat di depannya.


"Hai bro, kau mau ke mana?", tanya Zafier merasa aneh.


Arsen tersentak, ia terdiam, ragu untuk menjawab.


"Ah tidak, tadi aku merasa seperti melihat seseorang yang aku kenal. Mungkin aku salah orang. Ayo bro, mari kita ke rumah sakit", ajak Arsen.


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju pintu keluar lobby Apartment.


Tak Berapa lama kemudian Sheza yang juga tengah menunggu, melihat Karen masuk dengan tergesa-gesa dari pintu masuk lobby apartemen. Wajah Sheza sedikit merengut.


"Kenapa kau begitu lama Karen", ujarnya kesal.


Karen hanya meringis, sambil menggaruk bagian kepala belakangnya yang tidak gatal. "Maafkan aku nona", ujarnya penuh penyesalan.


Karen sendiri sebenarnya sudah datang sedari tadi, tapi ketika ia akan menjemput Sheza di lobby apartemen, ia melihat Zafier juga tengah berjalan menuju pintu yang sama dengannya. Karen lebih memilih untuk menunggu Zafier bersama dengan temannya keluar dari lobby apartemen. Ia tidak ingin memprovokasi Zafier.


Walau ada sedikit rasa terkejut ketika melihat kehadiran Zafier di hobi apartemen itu, tapi Karen hanya menganggap bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

__ADS_1


Lamunan Karen langsung berhenti begitu Sheza menarik tangannya dengan kencang menuju pintu lobby apartemen. Karen sedikit tersentak tapi tak urung ia mengikuti langkah kaki Sheza. Mereka pun berlalu meninggalkan apartemen.


__ADS_2