
Pagi itu Sheza menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pagi-pagi sekali sebelum orang lain masuk kantor, Sheza dan Karen sudah datang lebih dahulu di kantor. Tapi ada yang aneh pagi ini, mereka sama sekali belum menemukan keberadaan Carlos.
Tiba-tiba ponsel Sheza berdering. Nama Ganial muncul di sana. Sheza bergegas mengangkatnya.
Sheza, "Halo paman? Ada yang bisa kubantu".
Ganial, "Halo Sheza, Carlos ada urusan mendadak ke luar kota selama beberapa minggu. Tuan Zaki memintamu mengambil alih tugas Carlos selama ia di luar kota".
Sheza, "Maaf paman, aku masih yunior, kemampuanku sangat terbatas, aku kuatir membuat kesalahan fatal, bukannya masih banyak yang lebih senior di sini? ", tanya Sheza.
Ganial, "Ini perintah tuan, Sheza", jawab Ganial datar.
Sheza, "Hmm... baiklah kalau begitu".
Ganial, "Oiya Sheza, ada yang akan paman sampaikan padamu, nanti siang paman akan menunggumu di resto yang biasa".
Sheza, "Siap paman".
Setelah percakapan selesai, bergegas Sheza menjalankan tugas yang diperintahkan padanya tadi. Untungnya Carlos sudah banyak menurunkan ilmunya pada Sheza. Jadi tidak begitu sulit bagi Sheza untuk mengambil alih tugas Carlos.
Karen sendiri karena mempunyai tugas utama melindungi Sheza, maka ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain-main saja di perusahaan.
"Hmm... si bos kemana kira-kira nona? kenapa puncak batang hidungnya tidak kelihatan. Aku bosan nona, biasanya kalau bosan aku bisa mengganggu si bos", ujar Karen polos.
Sejurus Sheza melirik Karen, ia berujar, "Kalau Carl dengar, kau bisa-bisa dikirim ke planet pluto", dengan mimik serius sebelum kemudian tawanya meledak.
__ADS_1
"Iish, nona menakuti aku saja", ujar Karen waspada, melihat kanan kiri, kuatir si bos tiba-tiba muncul.
Beberapa saat kemudian Sheza sudah sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk. Karen sendiri juga nampak sibuk ... sibuk mengganggu pekerjaan Sheza, sampai kemudian Sheza mengusirnya keluar karena dianggap mengganggu konsentrasinya.
Tenggelam dalam pekerjaannya membuat Sheza hampir saja lupa waktu, jika Karen tidak segera mengingatkannya pada janji makan siang dengan Ganial.
Sheza pun bergegas menarik Karen ke parkiran. Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, kendaraan Sheza memasuki parkiran sebuah resto.
Begitu Sheza dan Karen memasuki resto, di sebuah ruangan VVIP resto sudah menunggu Ganial. Karen memilih tidak ikut masuk ruang VVIP, ia bergabung dengan sopir Ganial, salah seorang asisten Zaki dan dua orang bodyguard Zaki dari kamp pelatihan yang sama dengannya. Mereka memilih menunggu diluar ruang VVIP resto tersebut.
"Maaf paman, aku terlambat", ujar Sheza dengan wajah bersalah. Nafasnya masih tersengal-sengal karena berjalan cepat. Sejurus Ganial menatap Sheza. Kemudian ia tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa Sheza, aku tau kau sibuk", ujar Ganial. Sheza menghela nafas lega.
Mereka mulai memesan menu di resto. Tak berapa lama pelayan mulai menata pesanan mereka di meja. Sambil makan, mereka mulai bercerita.
"Ini terkait dengan permintaanmu kemarin pada tuan Zaki", ujar Ganial pendek.
Mendengar ucapan Ganial, Sheza langsung mengalihkan perhatiannya dari makanan di depan matanya. Ia sangat antusias ingin mendengarkan hasil keputusan dari Zaki.
"Bagaimana keputusan daddy Zaki, paman? ", tanya Sheza dengan harap-harap cemas.
"Tuan Zaki sudah memutuskan untuk mengizinkanmu bertemu Seif, kakakmu", jawab Ganial singkat. Tapi tak urung Ganial tetap memperhatikan mimik wajah Sheza. Sheza menatap Ganial seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Sejurus kemudian binar bahagia memancar dari kedua mata indahnya.
"Paman tolong sampaikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya untuk daddy Zaki, aku sangat bahagia", tutur Sheza terharu. Ia tidak menyangka Zaki akan mengabulkan permintaannya. Sebenarnya tadi ia sudah mempersiapkan hatinya untuk mendengarkan kemungkinan terburuk sekalipun.
__ADS_1
"Tapi semua ada syaratnya Sheza", potong Ganial lagi. "Semuanya mulai dari pembelian tiket, pemberangkatan, akomodasi sampai kau kembali ke kota ini, semua sudah diatur, kau harus mengikuti semua protokol yang sudah disediakan", lanjutnya lagi.
"Eh....baik paman", jawab Sheza tanpa perlu berpikir lagi, karena baginya, izin yang diberikan Zaki sudah sebuah mukjizat, apalagi semua perjalanan sudah diatur dan disediakan, Sheza benar-benar merasa bersyukur.
"Kamu akan pergi ke kota J dengan Karen, Sheza.Semuanya akan diatur dan disediakan Karen. Jadi kau tinggal mengikutinya saja", jelas Ganial lagi.
"Baik paman", ujar Sheza patuh. Senyum bahagia masih menghias wajah cantiknya.
"Baiklah Sheza, semua pesan tuan Zaki sudah disampaikan, paman pergi dulu, selamat bertemu kakakmu dan selamat senang-senang", pamit Ganial. lagi.
Tak lama setelah Ganial dan rombongan meninggalkan lokasi resto, Sheza dan Karen pun bertolak pergi dari lokasi.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Sheza menerawang memikirkan saat bertemu Seif nanti, ia benar-benar sudah tidak sabar lagi menunggu jadwal keberangkatannya.
Semua tingkah Sheza tak luput dari perhatian Karen. Ia ikut bahagia melihat kebahagiaan Sheza. Tadi ia juga diserahkan sebuah tugas khusus dari tuan Zaki untuk menyiapkan semua hal terkait keberangkatan Sheza ke kota J.
Namun ada hal yang mengganjal dibenaknya, tentang nasib bos nya Carlos. Ia tak sengaja mendapat info kalau bosnya mendapat hukuman pembinaan di kamp pelatihan sementara waktu ini karena kesalahan yang dilakukannya. 'Kamu salah apa bos', batin Karen merasa kasihan. Karen tau betul seperti apa pembinaan di kamp pelatihan. Mendengar istilah kamp pelatihan saja sudah membuat bulu kuduk berdiri, apalagi kalau terlibat dengan pembinaannya. 'Semoga saja dirimu bisa bertahan bos', doa Karen kemudian.
Karen masih sibuk dengan pikirannya. Panggilan lembut Sheza sama sekali tidak diindahkannya. Setelah dua kali tidak mendapatkan respon sama sekali dari Karen, tak urung Sheza memperhatikan prilaku Karen. Ia lekas menyadari ada suatu masalah. Ia tidak mau mengejutkan Karen yang sedang menyetir kendaraan, jadi Sheza hanya bisa diam sambil terus mengamati Karen dibalik kemudinya.
Karen tiba-tiba menyadari perhatian Sheza padanya selama menyetir kendaraan. "Ada apa nona? Apa nona ingin mampir ke suatu tempat?", tanya Karen lagi.
"Akhirnya kau merespon aku juga Karen", ujar Sheza lega. "Dari tadi aku memanggilmu, kau diam saja tanpa respon saka sekali, ada apa Karen? Apa ada masalah? ", tanya Sheza lagi cemas.
Karen menatap Sheza sendu. Rasanya tidak mungkin ia menceritakan masalah Carlos pada Sheza, ia tidak ingin menambah beban pikiran Sheza, sekaligus tidak mau menimbulkan masalah baru ke depannya. Ia yakin bosnya itu mampu bertahan dalam pembinaan.
__ADS_1
Menyadari perubahan raut wajah Karen. Sheza yakin ada sesuatu yang salah. Karen sendiri dengan cepat menyadari hal tersebut, ia merubah ekspresi wajahnya kembai menjadi datar, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aman terkendali nona, tidak terjadi apa-apa", tegasnya lagi sembari tersenyum. Sheza hanya menatap Karen dengan datar, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar, menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Karen.