My Little Gwen

My Little Gwen
Rasanya ingin membunuh seseorang


__ADS_3

Zafier masih setia mengamati keadaan dari sudut yang cukup terlindungi. Zafier sendiri tidak mengerti kenapa ia melakukan hal tidak berguna semacam itu. Tapi ia sendiri juga tidak bisa melawan keinginan hatinya, yang menahannya untuk tetap bertahan di sana. Zafier bingung sendiri, tapi ia lebih memilih mengikuti kata hatinya. Ia merasa seperti ada benang tak kasat mata yang mengikatnya ke wanita itu.


Bodohnya lagi Zafier tetap mengamati adegan demi adegan di depan matanya, meskipun jantungnya menjadi bergemuruh hebat, rahangnya mengeras. Beberapa kali Zafier bahkan menggertakkan giginya karena amarah dan kesal.


Rasanya saat ini Zafier ingin sekali menarik wanita itu dari pelukan si pria. Kemudian memerintahkan anak buahnya menculik si pria. Dan ia sendiri akan turun tangan untuk menghabisi si pria.


Semakin lama semakin Zafier merasa oksigen di sekitarnya seolah menipis, nafasnya seketika terasa sangat sesak. Sejenak Zafier memegangi dadanya, 'ada apa dengan jantungku? Terakhir kali aku melakukan medical check up, semua aman-aman saja, tidak mungkin kan tiba-tiba saja aku sakit jantung', pikir Zafier bingung. 'Setelah ini aku akan melakukan medical check up lagi, aku belum ingin mati muda, aku masih belum menemukan Gwenku', batin Zafier.


Adegan demi adegan di depan matanya membuat kekesalan Zafier semakin memuncak, bergegas ia mengalihkan pandangannya pada ponsel. Memilih satu nomor, kemudian mengetik sesuatu.


Zafier, "Ruben aku ingin membunuh seseorang saat ini juga".


Sebenarnya adegan yang dilihat Zafier itu hanya adegan berbincang-bincang sambil tertawa saja, tapi entah kenapa adegan keakraban itu membuat Zafier merasa panas sendiri. Sungguh sangat aneh jika dilihat orang yang normal.


Ruben yang masih sibuk dengan beberapa urusan sepeninggal Zafier, mendengar ada pesan masuk pada ponsel khusus komunikasinya dengan si bos, bergegas membuka pesan tersebut. Ruben bukan main kaget melihat pesan yang dikirim sang bos, ia sontak saja merinding, segera ia menyerahkan sisa urusan bisnisnya dengan Surya pada anggota lainnya, selanjutnya mencari bosnya keluar untuk menenangkan si bos, sebelum terjadi pertumpahan darah.


Sementara itu di sudut yang lain, Karen tengah mengamati setiap tingkah laku dan perubahan mimik wajah tuan muda Zafier. Karen bisa melihat dengan jelas kemarahan dan kekesalan di sana. Kalau dalam teori percintaan namanya kecemburuan. Tapi Karen yakin, tuan mudanya itu tidak akan mau mengakui hal tersebut sampai kapanpun.

__ADS_1


Tiba-tiba Zafier seolah tersadar, kemudian ia segera menghirup udara sebanyak-banyaknya, ia mulai bisa tenang dan mengendalikan dirinya.


Sementara itu Ruben keluar dari ruang VIP resto dengan tergesa-gesa, ia kuatir sang bos membahayakan orang lain. Sesampainya di luar ruang VIP resto, Ia kelihatan kebingungan mencari keberadaan Zafier. Setelah mengamati setiap sudut ia menemukan sang bos dengan wajah dinginnya.


Ruben mendekati Zafier dengan hati-hati, sepertinya sang bos sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Meski kuatir jadi bahan pelampiasan sang bos, tak urung Ruben tetap mendekat.


"Maaf tuan, ada yang bisa saya lakukan untuk tuan?", tanyanya takut-takut.


Zafier menatapnya, dengan mata yang penuh amarah. Ruben merinding. Apa ia salah bertanya.


Zafier tidak menjawab, ia mengalihkan pandangannya dari Ruben. Ruben yang penasaran ikut memperhatikan arah pandangan sang bos.


Ruben sebenarnya tidak yakin, kalau pandangan si bos mengarah pada mereka berdua, untuk apa si bos marah melihat dua orang itu, rasanya itu bukan orang-orang terdekat si bos. Ia sudah cukup lama mendampingi si bos, rasa-rasanya si bos tidak pernah berinteraksi dengan mereka.


Memang si wanitanya sangat cantik, tapi sepertinya ia masih belia, apa si bos menyukai wanita itu. Rasanya mereka baru bertemu wanita itu kali ini, hal yang mustahil jika si bos bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Ruben tahu betul kalau wanita yang mendekati si bos teramat sangat banyak, bahkan ada yang secara terang-terangan menggodanya. Ruben adalah orang yang paling sibuk mencari berbagai cara untuk menolak wanita-wanita tersebut. Dan selama itu, ia bisa memastikan kalau si bos tidak pernah menunjukkan ketertarikan ataupun berniat untuk menjalin hubungan dengan wanita-wanita cantik itu.


Zafier masih diam, ia hanya menatap meja dimana wanita dan pria itu asyik bercengkrama, terkadang tangannya mengepal, menunjukkan emosinya. Semua itu tidak lepas dari pengamatan Ruben.

__ADS_1


"Ruben, kau lihat wanita yang bersama pria di depan itu, aku ingin kau menyelidikinya segera", perintah Zafier mutlak. Matanya masih menatap wanita itu.


"Siap tuan", jawab Ruben menatap bosnya penuh tanda tanya. Ruben tau ini bukan saatnya banyak bertanya, jika ia masih ingin berumur panjang. Ruben menelan ludahnya dengan susah payah.


Tiba-tiba Zafier berdiri, secara tak terduga ia berjalan dengan cepat kearah dua orang yang juga tengah berdiri itu. Sepertinya kedua orang itu telah selesai menikmati dan akan beranjak pergi.


Zafier berjalan dengan sangat cepat dengan kedua kaki panjangnya itu Ruben benar-benar kesulitan mengikutinya. Jarak mereka terpaut cukup jauh.


Zafier yang berjalan cepat tiba-tiba menabrak pria yang bersama si wanita dengan cukup kuat. Pria itu terhuyung sebentar, tapi tidak jatuh, ia bisa menguasai dirinya kembali. Zafier terus saja berjalan dengan cepat menuju pintu luar tanpa menoleh sedikitpun untuk meminta maaf.


Selintas terdengar teriakan si wanita menghardik Zafier, tapi pria tersebut berusaha menahan dan menenangkan si wanita.


Ruben mengamati adegan demi adegan tersebut, ia cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan bosnya, 'ya ampun bos, ada apa denganmu', tanyanya pada diri sendiri sambil menepuk jidatnya.


Ruben tetap mengawasi keadaan, ia tetap waspada kalau-kalau ada masalah pada Zafier setelah insiden tabrakan tadi. Tapi sepertinya pria yang ditabrak si bos tadi tidak mempermasalahkannya.


Untuk itu Ruben dan anggota Zafier yang lain yang telah selesai dengan meeting bergegas meninggalkan resto, setelah mengurus semua tagihan mereka. Ruben juga tidak lupa menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki wanita tadi sesuai keinginan bosnya.

__ADS_1


Dalam kendaraan yang membawa mereka kembali ke hotel, Zafier dengan wajah dinginnya tidak berkomentar apapun. Ruben juga tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Suasana. benar-benar mencekam. Rasanya Ruben ingin menghilang saja ke dalam perut bumi.


Tiba-tiba Ruben ingat dengan Gavin. Gavin adalah sahabat dekat sekaligus asisten utama kepercayaan Zafier. Rasanya cuma Gavin yang bisa mencairkan suasana seperti ini. Tapi Gavin ditugaskan untuk menggantikan posisi Zafier sementara ia di Indonesia. 'Ya tuhan, Gavin aku sangat membutuhkanmu saat ini', ringis Ruben.


__ADS_2