
Pagi itu mobil Zafier melaju di jalanan kota P. Ia didampingi Carlos dan sang supir. Mereka memang sedang dalam perjalanan menuju perusahaan.
Semua urusan terkait penangkapan semalam sudah mereka selesaikan. Mereka sudah menahan kedua target mereka di markas untuk sementara, sampai nanti mereka menjadwalkan introgasi pada kedua target tersebut. Hari ini Zafier memang bermaksud untuk kembali fokus mengurus dan mengawasi jalannya proyek kerjasama itu.
Zafier nampak asik berkutat dengan laptop yang berada di atas meja kecil tepat di depannya. Ia sedang melakukan rapat online melalui zoom meeting bersama Gavin serta para pimpinan divisi di perusahaannya di Amsterdam.
Rapat online Zafier tersebut tidak berlangsung lama. Para pemimpin divisi di perusahaan Zafier adalah orang-orang terpilih, di mana Zafier sudah tahu betul bagaimana kinerja Gavin dan para pimpinan divisi itu. Mereka sangat profesional, loyal terhadap perusahaan, serta memiliki etos kerja yang jauh berbeda dengan para pekerja di Indonesia.
Setelah menyelesaikan rapat onlinenya, Zafier kemudian menutup laptop dan meja kecil yang berada di depannya. Sejurus kemudian netranya fokus menatap jalanan kota P yang cukup ramai pagi itu.
Zafier baru akan memikirkan bagaimana cara untuk membuat para targetnya berbicara, ketika kemudian perhatiannya teralihkan pada tingkah laku Carlos yang sedikit gelisah dan aneh.
Semua perubahan tingkah laku dan ekspresi Carlos itu tidak lepas dari pengamatan Zafier. Ia memang sudah memperhatikan dari tadi Carlos nampak sibuk dengan ponselnya. Kening Zafier berkerut. Ada apa dengan Carlos?, batinnya.
"Ada apa?", tanya Zafier memecah keheningan, masih dengan wajah datarnya. Rupanya ia tidak sanggup menahan rasa penasarannya, keningnya nampak berkerut.
Carlos sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari sang bos, reflek ia melihat ke belakang ke arah di mana sang bos sedang duduk dengan tenang. Netra Carlos bertemu dengan tatapan mengintimidasi dari Zafier.
Carlos tidak punya pilihan selain menceritakan semua hal yang diketahuinya dari Karen pada Zafier.
semua hal yang dilaporkan Karen pada bosnya.
Zafier yang mendengar informasi dari Carlos sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Arsen manfaatkan ketidakberadaannya beberapa waktu lalu. Padahal ia telah memperingatkan Arsen. Zafier nampak kesal, rahangnya mengetat, kedua tangannya terkepal. Namun ia kembali tersadar, tidak ingin emosinya terekspos dengan jelas. Zafier berusaha mengendalikan emosinya. Matanya kembali menatap Carlos dingin dengan ekspresi datar.
Hmm...bisa-bisanya Arsen mengganggu Sheza, apa ia lupa posisi Sheza. Apa iya lupa dengan peringatanku waktu itu, batin Zafier, ia menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
Akhirnya kendaraan yang membawa Zafier dan Carlos pun memasuki halaman perusahaan. Sebelum sang sopir memilih jalan menuju pintu masuk perusahaan, untuk menurunkan sang bos, Zafier menghentikannya.
"Aron langsung masuk saja ke parkiran khusus", perintah Zafer.
"Baik tuan", ujar Aron patuh. Ia membelokkan kendaraan yang dibawanya ke arah basement.
Kendaraan itu kemudian melaju menuju parkiran khusus CEO, dari sana akan ada lift khusus yang akan membawa orang yang berada di dalamnya langsung menuju lantai teratas di mana ruangan CEO berada.
Carlos tidak banyak berbicara. Ia hanya mengikuti Zafier. Otaknya terus berpikir bagaimana caranya untuk membantu Sheza mengeluarkan Arsen dari ruangannya.
Ketika sang bos memasuki lift khusus tersebut, Carlos pun mengikutinya. Tapi sebelum lift mencapai lantai teratas, dimana ruangan CEO berada. Tiba-tiba Zafier menekan tombol untuk keluar, sebelum lift itu membawa mereka ke lantai teratas.
Tiing!!
Pintu lift terbuka, Zafier bertugas melangkahkan kakinya keluar dari lift khusus tersebut.
Zafier berjalan dengan tergesa-gesa menuju salah satu ruangan yang Carlos tahu betul kalau itu adalah ruangan CFO, atau lebih tepatnya ruangan di mana Sheza berkantor.
Carlos tahu betul ruangan itu, karena sebelum Sheza menempati posisi CFO, ia pernah menempati posisi itu.
Sekretaris Sheza yang melihat kedatangan bos besarnya, nampak terkejut. Zafier memang tidak banyak berinteraksi dengan petinggi perusahaan atau staf biasa yang lain, apalagi sampai mengunjungi ruangan tinggi perusahaan sekalipun. Pertemuan Zafier dengan para petinggu perusahaan hanya terjadi ketika di dalam meeting saja. Kesibukan membuat dirinya sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukan hal itu.
Sekretaris Sheza langsung berdiri tergopoh gopoh hendak menyambut kedatangan bos besarnya, namun Zafier nampak acuh, ia langsung menuju ruangan Sheza.
Tanpa mengetuk pintu sedikitpun, Zafier langsung saja membuka pintu ruangan Sheza dengan kasar.
__ADS_1
Brakk!!
Pintu itu terhempas..
Semua netra di ruangan itu kontan terkejut. Mereka refleks menatap ke arah pintu nyaris bersamaan.
Carlos yang berada tepat di belakang Zafier pun tak kalah terkejut. Ia merasa aneh dengan tingkah sang bos mulai dari saat sang bos memutuskan untuk berhenti di lantai ini dan keluar dari dalam lift. Carlis hanya bisa menelan ludah. Lagi-lagi ia hanya bisa menjadi pengamat, sama sekali tidak berani untuk berkomentar.
Ketika pintu ruangan itu terbuka dengan kasar, Sheza yang duduk tepat menghadap pintu masuk seketika ikut terkejut. Refleks netra hazelnya yang indah bertatapan dengan netra abu-abu milik Zafier. Tanpa sadar keduanya saling menatap satu sama lain.
Deg.. Deg.. Deg!!
Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat, tak beraturan. Dia merasakan wajahnya perlahan menghangat. Ia merasa sedikit gugup.
Sementara Zafier terpana dengan netra hazel itu. Netra itu laksana magnet yang menarik netranya untuk tidak lepas dari pusarannya.
Kekesalan memang sudah dirasakan Zafier sedari ia masih berada di dalam mobil tadi. Tatapan Zafier yang pada awalnya sangat tajam laksana laser yang siap mencabik-cabik setiap benda yang ditatapnya, seketika menjadi lembut ketika bertemu dengan netra hazel Sheza.
Zafier tersadar dengan tujuan utamanya ke ruangan itu. Ia kemudian mengalihkan tatapan. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang kerja Sheza. Sampai kemudian netranya terhenti pada satu sosok yang tengah membelakanginya. Netranya menatap tajam sosok itu. Jika saja matanya itu adalah sebuah laser, niscaya sinarnya mampu melubangi punggung itu detik ini juga.
Meski Zafier tahu siapa yang akan ditemukannya di dalam ruangan itu, namun tetap saja setelah melihat sosok itu, emosinya tersulut. Rahangnya kembali mengetat, kedua tangannya terkepal erat hingga memperlihatkan buku-buku tangannya yang memutih.
Arsen yang saat itu tengah duduk membelakangi pintu, juga tak kalah terkejut mendengar pintu yang terhempas keras di belakangnya. Ia mengumpat di dalam hati. Emosinya sudah menguap sampai ke ubun-ubun. Rasanya ingin sekali menghardik dan memberi pelajaran pada orang yang tidak tahu sopan santun itu.
Apa si bangsat itu tidak sayang pekerjaannya? Berani-beraninya ia mengganggu pengganti bosnya di sini, batin Arsen penuh emosi. Tangannya susah mengepal menahan emosi sedari tadi.
__ADS_1
Ta-tapi....apa ini, kenapa punggungnya terasa dilanda hawa yang begitu dingin, ia merinding. Reflek Arsen berbalik ke belakang, menatap lurus ke arah pintu masuk ruangan Sheza. Mata Arsen melotot nyaris keluar saking terkejut, mulutnya menganga melihat sosok yang berada tepat di pintu masuk itu.