My Little Gwen

My Little Gwen
Terpaku


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, Arsen memasuki gedung Safaraz Corp. Kedatangan Arsen sudah ditunggu oleh Fabian, salah satu asisten Zaki yang saat ini menjadi asisten Zafier. Ia memandu Arsen memasuki ruangan CEO. Begitu Fabian membukakan pintu ruangan yang sangat besar itu, Arsen cukup terkejut melihat suasana di dalam ruangan.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ruangan yang sangat luas, bahkan lebih luas dari ruangannya sendiri di kota J. Namun Zafier sedikit terkejut dengan suasana di dalam ruangan.


Ruangan itu didominasi oleh suasana klasik dengan kesan manly yang kental. Hal tersebut dikarenakan pemilihan warna serta material yang digunakan. Misalnya, aplikasi wall panel kayu yang berpadu apik dengan kabinet berwarna coklat tua. Tidak hanya itu, kursi dan sofanya pun menggunakan material leather atau kulit agar nuansa klasik nya semakin kuat. Meski suasana dan furniture yang digunakan sangat mewah, namun ruangan itu terkesan sedikit kuno tidak sesuai dengan selera anak muda seusia Zafier.


Arsen masih sibuk mengamati seluruh ruangan, keningnya nampak sedikit berkerut. Semua itu tidak lepas dari perhatian Fabian.


"Hmm... maaf tuan Arsen", Fabian memecah kesunyian.


Perhatian arsen sedikit beralih. Sekarang ia menatap Fabian.


"Maaf tuan, mungkin tuan sedikit terkejut dengan suasana ruangan CEO ini. Sebenarnya ini adalah ruangan tuan Zaki Safaraz. Tuan Arsen sendiri sebenarnya hanya beberapa kali mengunjungi perusahaan, bahkan kunjungan tuan Zafier bisa dihitung dengan jari saja. Itulah kenapa ruangan ini lebih didominasi oleh suasana yang sedikit klasik atau bisa dikatakan sedikit kuno untuk selera anak muda seperti tuan Zafier", jelas Fabian lagi.


Arsen sedikit kaget dengan penjelasan yang didengarnya dari Fabian. Rasanya usia pemuda yang berada tepat di depannya ini, ia perkirakan usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Namun bagaimana ia bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. "Apa asisten Zafier ini cenayang yang bisa membaca pikiran", pikir Arsen dalam hati. "Kenapa ia bisa tahu apa yang aku pikirkan", lagi-lagi kening Arsen berkerut.

__ADS_1


Tapi kemudian Arsen cuma menganggukkan kepalanya. Seteoah Iya pikirkan kembali, ini juga bukan urusannya untuk mengurusi seperti apa suasana di ruangan CEO ini. Posisinya pun saat ini hanya menggantikan Zafier untuk sementara waktu selama Zafier tidak di tempat, sesuai dengan instruksi dari Arsen.


"Jam berapa jadwal meeting internal Fabian? ", tanya Arsen.


"Para dewan direksi dan pimpinan masing-masing divisi sudah berada di ruangan meeting tuan", jawab Arsen hormat. "Mereka hanya menunggu kehadiran tuan saja".


Arsen melirik jam yang melingkar di tangannya. Ia menyadari bahwa kedatangannya memang sedikit terlambat dari seharusnya. Itulah mengapa para dewan direksi dan pimpinan masing-masing divisi sudah bersiap di ruangan meeting. .


"Baiklah Fabian, bisakah kau antarkan aku ke ruangan meeting saja langsung, rasanya kurang nyaman kalau mereka harus menunggu lebih lama", ujar asen lagi.


Fabian pun Kemudian mempersilahkan Arsen untuk berjalan di depan. Mereka bersiap menuju ruangan meeting.


Cukup lama Arsen terdiam sampai kemudian Ken asistennya mengingatkanya. Arsen berusaha menyembunyikan kegugupannya, dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, kemudian menatap seluruh peserta rapat. Ia tersenyum dan mempersilahkan semua peserta rapat untuk duduk kembali di kursi masing-masing.


Rapat yang membahas tentang proyek kerjasama itu berjalan lancar. Menjelang siang, rapat berakhir setelah mereka mencapai kesepakatan.

__ADS_1


Setelah rapat ditutup, satu persatu peserta rapat mulai pamit dan mengundurkan diri kepada Arsen.


Sedari tadi, netra Arsen tidak pernah lepas dari sosok wanita cantik yang berada di sisi sebelah kanannya itu. Ia tampak tidak terganggu dengan rekan-rekannya yang mulai meninggalkan ruangan meeting satu persatu.


Sebagai Chief Financial Officer (CFO), tanggung jawab Sheza memang lebih besar. Ia masih nampak sibuk dengan berkas-berkasnya hingga ia tidak menyadari bahwa di sekelilingnya para peserta rapat hanya tinggal beberapa orang saja


Arsen yang memang sejak awal meeting hanya terpaku pada satu sosok itu, mulai berjalan mendekatinya. Ken nyaris menahan nafas ketika ia menyaksikan bosnya berjalan mendekati Sheza. Namun tak urung pada akhirnya Ken tetap mengikuti sang bos. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan sang bos untuk setiap prilakunya. Ken tahu betul posisi Sheza dalam Safaraz Corp, termasuk posisi Sheza sebagai calon istri CEO sekaligus owner Safaraz Corp. Ia tidak ingin karena kelalaian sang bos, pada akhirnya menimbulkan permasalahan di kemudian hari.


Ken tahu betul bagaimana pengaruh, kekuatan dan kekuasaan Safaraz Corp dalam dunia bisnis. Safaraz Corp seolah menjadi semacam magnet bisnis. Apabila sebuah perusahaan memiliki hubungan dan kerjasama yang baik dengan Safaraz Corp, maka mereka pun akan dianggap dan dipandang tinggi dalam dunia bisnis setiap perusahaan seolah berlomba-lomba untuk menarik perusahaan tersebut. Namun jika sebuah perusahaan memiliki konflik dengan Safaraz Corp, maka perusahaan tersebut tidak akan mampu menahan semua konsekuensi dari dari konflik tersebut. Perusahaan itu tidak akan bertahan lama dalam dunia bisnis, perusahaan itu bisa dipastikan akan mengalami kebangkrutan hanya dalam hitungan detik, karena perusahaan lain akan berbondong-bondong menjauhi bahkan memutuskan hubungan dengan perusahaan tersebut.


Meskipun sang bos memiliki hubungan yang baik dengan Zafier, namun saat ini lawannya adalah seorang Zaki Safaraz CEO sekaligus owner Safaraz Corp. Ken tidak mau mengambil resiko yang sangat besar, sudah menjadi tugas dan kewajibannya untuk mengingatkan sang bos.


Tanpa disadari, jarak Arsen semakin dekat dengan Sheza. Ken menelan salivanya dengan susah payah. Netranya terus mengawasi kedua orang itu.


Sheza sendiri tanpak sangat fokus dengan berkas-berkasnya. Ia sama sekali tidak menyadari keadaan sekelilingnya, termasuk dengan posisi Arsen yang sudah semakin dekat dengannya.

__ADS_1


Begitu Arsen sampai di samping Sheza. Arsen tidak melakukan apa-apa, ia hanya terdiam. Ia hanya berdiri di sana, tapi netranya terus menatap lembut wanita yang duduk di sampingnya itu. Arsen nyaris tidak berkedip. Ken yang menyaksikan pemandangan itu dilingkupi sedikit perasaan was-was.


Seolah menyadari ada seseorang di sampingnya, tiba-tiba saja Sheza menghentikan segala aktivitasnya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, kemudian menoleh ke arah samping, tepat ke arah Arsen yang tengah terpaku menatapnya. Netra hazel Sheza menatap pria yang berdiri tepat di sampingnya. Sepertinya Arsen tidak menyadari pergerakan Sheza itu, waktu seolah berhenti disekeliling Arsen. Kedua mata itu saling bertatapan.


__ADS_2