
Pagi pun menjelang. Sinar matahari yang menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela kamar dimana Sheza berada. Sinar matahari melewati celah jendela kaca dimana gordennya tersingkap.
Sheza hanya menggeliat di kasurnya, ia malas untuk berdiri dan memperbaiki letak gorden tersebut, ia memilih membalikkan badannya, membelakangi sinar matahari yang masuk. Berusaha untuk memejamkan mata kembali.
Alhasil Sheza tertidur kembali, Cahaya terang dari luar tidak lagi membuat Sheza terusik untuk segera bangun dari tidurnya. Sheza sepertinya sangat lelah.
Selimut yang tadi malam melekat erat di tubuh Sheza, pagi ini sudah teronggok tak berbentuk di sudut tempat tidur.
Pagi datang begitu cepat bagi Sheza, karena semalam ia benar-benar tidak bisa tidur.
Sebenarnya semalam Sheza sudah merasa sangat lelah dan ingin sekali tidur, tapi matanya sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama, karena otaknya masih saja berkutat di seputar Zafier. Alhasil Sheza lelah bergadang.
Entah kenapa ia jadi teringat dengan sosok itu. Sejak pertemuan terakhir mereka di ruangan kerja Zafier, sesuai dengan janji pria itu, ia sama sekali tidak pernah bertemu lagi dengannya. Bahkan meski mereka bekerja di kantor yang sama, Sheza tidak pernah melihat pria itu di kantor. Semua urusan kantor diselesaikan oleh Paman Ganial atau kedua asistennya baik Juan maupun Fabian.
Ponsel yang berada di atas nakas di samping tempat tidur Sheza tiba-tiba berdering nyaring. Sheza tersentak bangun. Bagaimana tidak, ponselnya yang berbunyi nyaring tepat di dekat telinganya. Sheza mengumpat dalam hati, ia lupa untuk melakukan setting off pada ponselnya.
Setelah beberapa saat, nada dering ponsel itu mulai sangat mengganggu. Sheza mulai membuka matanya dengan kesal. Ia menyesal tidak mematikan ponsel itu atau paling tidak membuatnya dalam mode silent. Namun meski kesal setengah mati, mau tidak mau dengan mata setengah terpejam, Sheza menggapai ponsel tersebut, dan menaruhnya di telinga.
Suara serak khas bangun tidurnya terdengar, "Halooo... ", gumam Sheza.
__ADS_1
"Halooo Nona!", sebuah teriakan terdengar dari ujung ponsel sana. Sheza sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Kemudian ia melihat ke layar ponsel dan menemukan nama Karen di sana. Sheza berdecak kesal. Rasanya ia ingin sekali melempar ponsel itu namun ia sadar ia masih membutuhkan ponsel itu.
"Ada apa kau mengganggu tidurku pagi-pagi, awas saja kalau bukan hal penting", hardik Sheza.
"Maaf Nona, tapi matahari sudah bersinar nona, ini bukan pagi lagi", ujar Sheza, ia tersenyum miring, tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, begitu mendengar amukan sang nona.
Sheza merasa kesal karena dibangunkan, padahal ia masih sangat mengantuk karena tidak bisa tidur semalaman. Namun ia tidak bisa mengatakan alasan itu pada Karen. Ia tidak mungkin mengatakan kalau semalam ia bergadang memikirkan Zafier, bisa-bisa ia menjadi bulan-bulanan oleh Karen.
"Aku tidak suka menanyakan hal yang sama dua kali Karen", hardik Sheza lagi.
"O, iya. Maaf Nona, bukannya kemarin Nona mengajakku untuk berolahraga pagi di sekitar mansion?", tanya Karen.
"Baiklah kau tunggu saja aku di taman. Aku akan segera berpakaian dan menuju ke sana", ujar Sheza. Ia buru-buru bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. Mandi dan berpakaian ia lakukan hanya dalam jangka waktu beberapa menit, semua dilakukan dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan celana training biru tua dengan baju kaos oversize berwarna biru muda. Ia mengikat tinggi rambut panjangnya, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Sheza keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, terus menuju taman dimana ia menyuruh Karen untuk menunggunya.
Begitu ia sampai di taman ia langsung mengedarkan pandangannya ke penjuru taman sampai kemudian ia menemukan sosok Karen tengah jogging di sana. Setelah itu mereka berdua pun mulai berolahraga di sekitar Mansion. Sepanjang mereka berolahraga di sekitar mansion, beberapa orang pekerja yang mereka temui di sepanjang jalan nampak menatap Sheza dengan penuh minat, apalagi melihat leher putih jenjang itu. Namun tatapan mereka langsung menunduk ketika kemudian mereka bertatapan dengan netra tajam dan aur membunuh dari Karen yang berada di samping Sheza.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi ketika Sheza dan Karen mengakhiri aksi olahraga mereka. Mereka berdua langsung berpisah di pintu mansion. Mereka berdua akan langsung mandi untuk kemudian sarapan pagi.
Setelah melakukan aktivitas mandi dan berpakaian, Sheza kan keluar dari kamarnya untuk menuju meja makan. Saat ia tiba di meja makan, tidak ada siapapun di sana. Ia menghela nafasnya kemudian berjalan gontai untuk duduk di salah satu kursi meja makan itu. Ia kemudian mengambil ponselnya menghubungi seseorang yang tak lain adalah Karen.
__ADS_1
"Karen, apakah kau sudah siap? Di mana kau sekarang?", tanya Sheza.
"Sudah Nona. Saat ini saya sedang bersantai bersama pengawal yang lain, di tempat seharusnya Nona?, jawab Karen.
"Karen aku tunggu kau di meja makan. Ayo temani aku sarapan", ajak Sheza pada Karen penuh harap.
"Maaf Nona. Bukannya saya tidak mau, hanya saja saya merasa tidak pantas untuk berada di sana", ujar Karen dengan sopan. Ia takut sang nona tersinggung karena ia menolak ajakannya Tapi sedekat apapun ia dengan segala ia harus tahu diri dan tahu menempatkan di mana posisinya seharusnya. Ia tidak ingin dianggap lancang atau malah tidak sopan oleh pelayan ataupun pengawal yang lainnya.
"Di sini tidak ada siapa-siapa Karen, hanya aku saja. Rasanya benar-benar tidak enak jika sarapan hanya sendirian saja di meja yang sangat besar ini. Ayolah Karen! Ini perintah. Aku tidak menerima penolakan. Kau harus menemaniku sarapan pagi ini", ujar Sheza, tegas tanpa mau dibantah.
Karen menelan salivanya, ia tidak mungkin lagi menolak dengan tekanan yang Sheza berikan. Sheza menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, kemudian ia pun menjawab, "Baik Nona Sheza, aku akan segera berada di sana". Setelah Sheza mematikan ponselnya, Karen pun bergerak dengan sangat cepat menuju ke ruang makan.
Sheza merasa senang karena pagi ini ia sarapan tidak seorang diri. Sheza mengambil sendiri makanan yang diinginkannya. Tadi ia memang mengusir pelayan yang biasanya membantu mereka sarapan. Sheza hanya bisa melakukan itu jika ia makan sendirian, sementara jika ia makan bersama anggota keluarga lain, maka ia tidak punya kuasa apapun untuk mengusir pelayan yang melayaninya.
Sheza makan dengan riang sambil berbincang-bincang dengan Karen. Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Sheza dan Karen sehingga berpisah, karena mereka berdua memiliki aktivitas masing-masing.
Sheza meminta seorang pelayan untuk memanggilkan Paman Adolf, sementara ia menunggu di ruang keluarga.
Tak Berapa lama nampak Adolf datang mendekat ke arah Sheza.
__ADS_1
"Selamat pagi Nona. Adakah yang bisa saya lakukan untuk Nona?", tanya adolf sopan.